Saham INDF Turun dari MSCI Global Standard ke Small Cap, Jual atau Beli?
Kamis, 12 Februari 2026 05:38 WIB
Oleh: Vatrischa Putri Nur | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kabar kurang sedap dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) kembali menekan harga saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF). Emiten konsumer milik Grup Salim ini resmi diturunkan dari MSCI Global Standard Indexes ke MSCI Small Cap Indexes untuk periode Maret–Mei 2026. Keputusan ini memicu tekanan jual di pasar. Pada perdagangan Rabu (11/2/2026), harga saham INDF ditutup di level Rp 6.700, turun 200 poin atau 2,90% dibandingkan sehari sebelumnya. Dalam lima hari terakhir, saham INDF terakumulasi melemah 350 poin atau 4,96%.
Baca Juga: Wall Street Naik Didukung Rebound Saham Teknologi, Investor Menanti Data Ekonomi AS Dampak Turun Kelas dari MSCI terhadap Saham INDF Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas menilai penurunan status indeks ini berpotensi memicu arus keluar dana pasif (passive outflow), seiring penyesuaian portofolio reksa dana berbasis indeks. “Tekanan ini bersifat teknikal dan umumnya terkonsentrasi di periode rebalancing. Besaran dampaknya tergantung pada bobot dan eksposur dana pasif sebelumnya,” ujar Sukarno kepada Kontan, Rabu (11/2/2026). Menurutnya, sebagian tekanan jual sudah tercermin dari aksi net sell investor asing dalam sepekan terakhir. Meski begitu, risiko pelemahan lanjutan masih terbuka, terutama di tengah depresiasi rupiah yang berpotensi meningkatkan beban kurs perseroan. Namun demikian, perubahan klasifikasi indeks dinilai tidak akan berdampak signifikan terhadap likuiditas maupun volatilitas INDF. Pasalnya, kapitalisasi pasar INDF masih tergolong besar dengan likuiditas transaksi yang tetap terjaga. Baca Juga: Nasib Investor ANTM & NCKL: Produksi Nikel Dipangkas, Waspada! Analisis Teknikal dan Valuasi Saham INDF Secara teknikal, saham INDF memiliki: - Support: Rp 6.550 – Rp 6.575 - Resistance: Rp 7.000
Dengan harga terakhir di Rp 6.725, INDF diperdagangkan pada: - Price Earnings Ratio (PER): 5,6 kali - Price to Book Value (PBV): 0,84 kali “Secara valuasi, INDF tergolong undervalued sehingga membuka peluang akumulasi untuk jangka menengah,” jelas Sukarno. Level valuasi ini tergolong menarik dibandingkan rata-rata historis sektor konsumer, terutama bagi investor yang memburu saham defensif dengan fundamental stabil. Tonton: Kopdes Merah Putih Siap Jalankan Program Gentengisasi Jual atau Beli Saham INDF? Ke depan, katalis positif INDF antara lain: - Potensi perbaikan kinerja keuangan - Stabilisasi nilai tukar rupiah - Dividend yield yang semakin atraktif
Dengan mempertimbangkan faktor teknikal dan fundamental, Sukarno merekomendasikan accumulate buy saham INDF dengan target harga Rp 7.500 per saham. Meski tekanan akibat rebalancing MSCI masih membayangi dalam jangka pendek, peluang rebound tetap terbuka apabila sentimen global dan nilai tukar mulai stabil.
Outlook Negatif Moody's, OJK Perkuat Pengawasan Bank!