Saham Inggris Turun Tipis, Investor Menanti Keputusan Bank of England



KONTAN.CO.ID - Inflasi Inggris tidak berubah pada Mei 2026. Stabilnya laju kenaikan harga tersebut menjadi perhatian investor menjelang keputusan suku bunga Bank of England (BoE).

Mengutip laporan terbaru Reuters pada Rabu (17/6), inflasi tahunan Inggris bertahan di level 2,8%.

Angka tersebut lebih rendah dari perkiraan ekonom yang sebelumnya memperkirakan inflasi naik menjadi 3%.


Baca Juga: Wall Street Temukan Formula Baru untuk Menangani IPO Raksasa

Pasar Pangkas Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga

Inflasi yang lebih rendah dari perkiraan mendorong pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga lebih lanjut oleh BoE.

Namun, inflasi masih berada di atas target bank sentral sebesar 2%, sehingga peluang pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat masih belum pasti.

Chief Executive Officer Webull UK Nick Saunders mengatakan data inflasi terbaru justru menempatkan investor dalam posisi yang sulit.

"Bagi investor, ini menjadi dilema. Kabar baik mengenai ketahanan ekonomi justru bisa menjadi kabar buruk karena dapat membenarkan kenaikan suku bunga," kata Saunders, dikutip Reuters.

Menurutnya, kondisi ekonomi yang tetap kuat dapat memberi alasan bagi BoE untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Baca Juga: China Bersiap Sambut Tren IPO Antariksa Usai Rekor SpaceX

Investor Menunggu Kepastian BoE

Inflasi merupakan salah satu indikator utama yang digunakan BoE dalam menentukan arah suku bunga.

Jika inflasi terus bergerak mendekati target 2%, peluang pelonggaran kebijakan moneter akan semakin terbuka. Sebaliknya, inflasi yang masih bertahan di atas target dapat membuat suku bunga tetap tinggi untuk menjaga stabilitas harga.

Kondisi tersebut penting bagi investor karena akan memengaruhi berbagai instrumen investasi, mulai dari saham dan obligasi hingga nilai tukar pound sterling.

Karena itu, setelah data inflasi dirilis, fokus pasar kini beralih pada sinyal yang akan diberikan BoE terkait arah kebijakan moneternya dalam beberapa bulan ke depan.

Baca Juga: Konflik Iran Bikin Investor Mulai Tinggalkan Obligasi? Ini Penjelasan Analis