KONTAN.CO.ID - Pada perdagangan Senin (11/5/2026), sebuah saham bank berkapitalisasi besar mencatatkan penurunan terdalam di antara konstituen LQ45 — anjlok 8,21% dari Rp 4.630 ke Rp 4.250 dalam satu hari perdagangan. Besarnya koreksi memunculkan beragam narasi. Pengumuman hasil review indeks MSCI yang dijadwalkan keesokan harinya, 12 Mei 2026, disebut-sebut sebagai salah satu faktor penekan. Aksi jual asing senilai Rp 659 miliar di keseluruhan pasar turut dianggap berkontribusi. Pelemahan rupiah ke kisaran Rp 17.400 per dolar AS dan polemik kenaikan tarif royalti mineral melengkapi daftar sentimen negatif hari itu. Namun ada satu penjelasan yang lebih sederhana, lebih matematis, dan sudah bisa diprediksi sejak jauh sebelum pasar buka: hari itu adalah ex date dividen final PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).
Hitungannya sederhana
BMRI membagikan dividen final tahun buku 2025 senilai Rp 376,95 per saham. Angka ini merupakan sisa dari total dividen Rp 476,95 per saham setelah dikurangi dividen interim Rp 100 per saham yang sudah dibayarkan pada Januari 2026. Dengan harga penutupan cum date pada 8 Mei 2026 di level Rp 4.630, dividend yield final BMRI tercatat 8,14%. Penurunan aktual BMRI pada hari ex date: 8,21%. Selisihnya 0,07 persen poin. Secara teoritis, harga saham menyesuaikan diri sebesar nilai dividen per saham pada hari ex date — karena investor yang masuk setelah tanggal tersebut tidak lagi berhak atas dividen. Mekanisme ini berlaku di seluruh bursa saham dunia, termasuk BEI, dan bukan hal baru. Baca Juga: Harga Turun 13% Lebih, Saham Ini Siap Bayar Dividen Rp 3.000/LotKonsisten dengan pola historis
Pola ini bukan hanya milik BMRI, dan bukan hanya terjadi hari ini. Pada ex date dividen BBNI, 25 Maret 2026, saham tersebut ditutup di Rp 4.040 dari cum date Rp 4.390 — turun 7,97%. Dividen yang dibagikan Rp 349,41 per saham, menghasilkan dividend yield teoritis 7,96%. Selisih antara penurunan aktual dan yield teoritis: 0,01 persen poin. Sebulan kemudian, BBRI memasuki ex date 21 April 2026 dengan cum date Rp 3.440 dan ditutup di Rp 3.270 — turun 4,94%. Dividend yield teoritis BBRI saat itu 6,07% dengan dividen Rp 209 per saham. Kali ini aktual lebih kecil dari yield — pasar menyerap selisih 1,13%, artinya sentimen positif menahan koreksi lebih dalam. Kembali ke BMRI sendiri: pada ex date April 2025, saham ini turun 6,86% dari cum date Rp 5.100, sementara dividend yield teoritis saat itu 9,14%. Pasar menyerap 2,28% — koreksi tertahan jauh di bawah nilai dividen. Baca Juga: Hari Ini Pengumuman Rebalancing MSCI, OJK Sebut Dua Saham Berpotensi Ditendang Empat kejadian, empat kondisi pasar yang berbeda:| Saham | Ex-date | Yield teoritis | Turun aktual | Selisih |
|---|---|---|---|---|
| BMRI Cum Rp 5.100 | Apr 2025 | 9,14% | 6,86% | -2,28% |
| BBNI Cum Rp 4.390 | 25 Mar 2026 | 7,96% | 7,97% | +0,01% |
| BBRI Cum Rp 3.440 | 21 Apr 2026 | 6,07% | 4,94% | -1,13% |
| BMRI Cum Rp 4.630 | 11 Mei 2026 | 8,14% | 8,21% | +0,07% |