Saham Intermedia (MDIA) Melejit 318% Akhirnya Disuspensi BEI, Manajemen Buka Suara



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga saham PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) melesat tajam dalam waktu singkat hingga akhirnya dihentikan sementara perdagangannya oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).

Pada perdagangan Rabu (12/8/2026), atau sehari sebelum suspensi berlaku, saham MDIA ditutup di level Rp 280 per saham. Harga tersebut melonjak 13,82% dalam sehari. Dalam sebulan, saham pengelola ANTV ini bahkan tercatat telah melejit sekitar 317,91%, sementara dalam lima hari perdagangan terakhir penguatannya mencapai sekitar 25%.

Lonjakan harga yang sangat agresif tersebut menjadi perhatian BEI. Bursa kemudian menghentikan sementara perdagangan saham MDIA di seluruh pasar mulai Kamis (13/8/2026) hingga terdapat pengumuman lebih lanjut.


Di tengah aksi suspensi tersebut, PT Intermedia Capital Tbk memberikan penjelasan kepada BEI mengenai dinamika harga saham MDIA.

Baca Juga: Cahayasakti (CSIS) Genjot Kawasan Industri Cikembar & Tenjojaya Hills, Ini Prospeknya

Sekretaris Perusahaan MDIA Andrew Santoni Hutasoit dalam keterbukaan informasi di BEI pada Senin (17/8/2026) mengatakan, pergerakan harga saham merupakan bagian dari mekanisme pasar yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk penawaran dan permintaan, likuiditas, serta sentimen investor.

Menurut manajemen, pergerakan harga saham tidak selalu bergerak sejalan dengan kinerja operasional perseroan dalam jangka pendek. Aktivitas perdagangan saham juga dapat dipengaruhi oleh ekspektasi investor terhadap prospek industri, optimalisasi aset, serta berbagai langkah efisiensi yang dilakukan perusahaan.

Lonjakan harga saham MDIA terjadi ketika kinerja keuangan perusahaan yang masih mencatatkan rugi. Namun, rugi bersih tersebut berhasil ditekan cukup signifikan.

Pada kuartal I-2026, MDIA membukukan pendapatan Rp 141,7 miliar dengan laba usaha Rp 14,3 miliar. Adapun rugi bersih MDIA menyusut menjadi Rp 8,3 miliar dari Rp 58,3 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Perbaikan tersebut terutama berasal dari penurunan beban lain-lain neto yang turun dari Rp 90,3 miliar menjadi Rp 22,6 miliar. Selain itu, rugi selisih kurs juga menyusut dari Rp 48,2 miliar menjadi Rp8,8 miliar.

Dari sisi neraca, posisi keuangan MDIA juga membaik. Per 31 Maret 2026, total aset perseroan tercatat Rp 3,13 triliun dengan ekuitas positif Rp 935,5 miliar.

Total liabilitas bahkan turun Rp 199,5 miliar atau 8,3%, dari Rp 2,39 triliun per 31 Desember 2025 menjadi Rp 2,19 triliun pada akhir Maret 2026.

Manajemen menegaskan bisnis penyiaran melalui ANTV masih menjadi motor utama perseroan. ANTV mempertahankan fokus pada konten hiburan keluarga dengan target utama pemirsa perempuan dan ibu rumah tangga.

Baca Juga: Fast Food (FAST) Raih Kenaikan Penjualan 16,1% pada Semester I-2026, Rugi Menyusut

Untuk menjaga efisiensi, perseroan mengandalkan serial India dan film klasik Indonesia. MDIA juga melakukan revitalisasi Master Control Room (MCR) serta mengoptimalkan penggunaan transponder.

Di saat yang sama, perseroan memperluas distribusi konten melalui platform digital. Melalui sinergi grup VIVA, konten FTA ANTV didistribusikan kembali melalui YouTube, Facebook, dan Instagram untuk menjangkau audiens digital-native.

Memasuki 2026, MDIA juga berencana memperkuat portofolio melalui serial lokal pada jam prime time, mengeksplorasi serial asing dari pasar yang belum banyak digarap, memperluas kegiatan off-air, serta meningkatkan efisiensi di seluruh rantai operasional.

Terkait lonjakan saham dan aktivitas perdagangan yang menjadi perhatian Bursa, MDIA memastikan tidak ada informasi material yang salah atau belum dilaporkan kepada publik.

Perusahaan ini juga menegaskan tidak terdapat fakta material penting lainnya yang disembunyikan dari publik maupun investor.

Setelah periode 31 Maret 2026, manajemen menyatakan tidak terdapat perolehan kontrak baru, sumber pendapatan baru yang signifikan, maupun transaksi material lain yang belum diungkapkan.

Selain itu, tidak terdapat perkara hukum yang berdampak material yang sedang dihadapi perseroan, anak usaha, maupun anggota Direksi dan Dewan Komisaris.

Manajemen MDIA dalam keterbukaan informasi juga menilai pergerakan saham MDIA perlu dilihat dalam konteks mekanisme pasar dan sentimen investor, bukan semata-mata sebagai cerminan kinerja operasional jangka pendek.

Sementara itu, dari sisi industri, MDIA tetap melihat prospek media dan hiburan Indonesia cukup positif. Perusahaan ini mengutip proyeksi PwC dalam Global Entertainment & Media Outlook 2025–2029 yang memperkirakan industri hiburan dan media Indonesia tumbuh dengan CAGR 8,4%, lebih tinggi dari rata-rata global sebesar 4,2%.

Baca Juga: Bursa Mineral & Komoditas Strategis Bakal Meluncur, Cek Dampaknya ke Emiten Komoditas

Bagi MDIA, televisi FTA masih memiliki peran penting dalam membangun mass awareness secara nasional, terutama di luar Jakarta. Kanal televisi tersebut kemudian dapat dipadukan dengan distribusi digital untuk menjangkau audiens yang semakin terfragmentasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News