Saham JARR dan PGUN Jadi Agunan Kredit, Analis Tekankan Fundamental



KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Kinerja keuangan PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) dan PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) menjadi salah satu aspek yang perlu dicermati di tengah sorotan terhadap saham kedua emiten yang dijadikan agunan kredit di PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).

Pada semester I 2026, JARR dan PGUN masih membukukan laba, meski besaran pinjaman yang dijamin saham tersebut belum diungkapkan dalam informasi yang tersedia.

Analis InFast Bestari, Gede Sandram, menilai penggunaan saham sebagai agunan kredit merupakan praktik yang lazim di industri perbankan.


Baca Juga: Agunan Saham JARR-PGUN di Bank Mandiri, Risiko Saham Bakrie 2008 Membayangi

Menurutnya, transaksi tersebut perlu dinilai berdasarkan kondisi keuangan perusahaan, nilai jaminan, dan penerapan prinsip kehati-hatian oleh bank.

“Penggunaan saham sebagai jaminan bukanlah praktik baru di dunia perbankan. Sangat lazim terjadi,” ujar Gede di Jakarta, Kamis (15/10/2026).

Berdasarkan laporan keuangan semester I 2026, JARR membukukan pendapatan Rp 1,76 triliun dan laba bersih Rp 158,93 miliar hingga akhir Juni 2026. Perusahaan juga mencatatkan laba operasional Rp 234,4 miliar dan EBITDA Rp 325,3 miliar.

Dari sisi neraca, JARR memiliki total aset Rp 4,09 triliun dan ekuitas Rp 2,02 triliun.

Kas dan setara kas tercatat Rp 456,9 miliar, sedangkan rasio utang terhadap ekuitas atau debt to equity ratio (DER) berada di kisaran 0,86 kali.

Baca Juga: Belajar dari Kasus Bakrie 2008, Agunan Saham JARR-PGUN di BMRI Perlu Dicermati

Sementara itu, PGUN mencatatkan pendapatan Rp 304,97 miliar dengan laba bersih Rp 44,51 miliar pada periode yang sama. Meski labanya menurun dibandingkan semester I tahun sebelumnya, perusahaan masih mampu membukukan keuntungan.

PGUN memiliki total aset Rp 2,42 triliun, liabilitas Rp 502,55 miliar, dan ekuitas Rp 1,92 triliun. Kondisi keuangan kedua emiten tersebut menjadi bagian dari pertimbangan dalam menilai kemampuan perusahaan menjaga kesehatan keuangan dan memenuhi kewajibannya.

Namun, Gede mengingatkan bahwa penggunaan saham sebagai agunan tidak bisa dinilai hanya dari besarnya nilai pasar jaminan.

Bank juga mempertimbangkan rasio pinjaman terhadap nilai agunan atau loan to value (LTV), pergerakan harga saham, serta kemungkinan kewajiban menambah jaminan apabila nilainya turun signifikan.

“Besarnya nilai saham yang dijaminkan tidak serta-merta menunjukkan besarnya kredit yang diberikan bank,” kata Gede.

Sorotan terhadap saham JARR dan PGUN sebagai agunan muncul di tengah rencana pengusaha Andi Syamsudin Arsyad atau Haji Isam menuntaskan akuisisi 30,25% saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN).

Nilai transaksi tersebut diperkirakan mencapai Rp 26,1 triliun.

Baca Juga: BMRI Terima Gadai Saham JARR & PGUN, Analis Ingatkan Soal Ini

Sementara itu, nilai pasar saham JARR dan PGUN yang dijadikan agunan disebut mencapai sekitar Rp 73 triliun.

Meski lebih besar daripada nilai transaksi akuisisi BYAN, angka tersebut tidak dapat langsung disamakan dengan nilai kredit yang diberikan Bank Mandiri.

Besaran fasilitas kredit ditentukan melalui penilaian bank terhadap nilai agunan, profil risiko, dan kemampuan debitur memenuhi kewajiban. Apalagi, saham memiliki risiko fluktuasi harga yang dapat memengaruhi kecukupan jaminan selama masa kredit.

Di sisi lain, kepemilikan saham BYAN berpotensi memberikan pendapatan dividen bagi pemegang saham. Namun, realisasi pendapatan tersebut bergantung pada kinerja BYAN dan keputusan pembagian dividen.

Baca Juga: BEI Pertanyakan Detail Gadai Saham JARR-PGUN

Karena itu, Gede menilai transaksi pembiayaan tersebut perlu dilihat secara menyeluruh, dengan mempertimbangkan fundamental perusahaan, kecukupan agunan, serta penerapan prinsip kehati-hatian oleh Bank Mandiri.

Sumber: https://www.tribunnews.com/bisnis/7897592/saham-jarr-dan-pgun-jadi-agunan-kredit-analis-soroti-fundamental-emiten?page=all&s=paging_new. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News