KONTAN.CO.ID -Â Memasuki awal 2026, pasar modal biasanya mengenal istilah January Effect. Fenomena January Effect biasa dikenal sebagai pola kenaikan saham pada Januari. Kenaikan ini lebih sering terjadi pada saham berkapitalisasi kecil dan menengah. Awal tahun ini, strategi investor yang paling relevan untuk memaksimalkan peluang keuntungan di pasar modal adalah tetap disiplin pada kombinasi momentum dan selektivitas sektor. Di tengah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sudah berada di area all time high (ATH), pendekatan buy on weakness menjadi lebih sehat dibandingkan mengejar harga. Analis sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan, investor dapat memanfaatkan volatilitas harian untuk akumulasi bertahap pada saham-saham berfundamental kuat, terutama yang masih tertinggal atau baru mulai membentuk tren naik.
"Arus dana asing yang masih mencatatkan net buy sekitar Rp 1,62 miliar dalam sepekan terakhir menjadi sinyal bahwa minat investor global terhadap pasar Indonesia belum surut, sehingga peluang cuan jangka pendek hingga menengah masih terbuka," kata dia dalam keterangan resmi, Minggu (11/1/2026). Ia menambahkan, sentimen January Effect memang tidak lagi sekuat beberapa tahun lalu, tetapi secara psikologis masih terasa, terutama pada saham-saham lapis dua dan saham berbasis komoditas.
Baca Juga: Tiga Kasus Fintech Besar Bongkar Celah Pinjol, Begini Respons Keras OJK Awal tahun biasanya diwarnai oleh reposisi portofolio institusi, optimisme terhadap outlook ekonomi baru, serta ekspektasi kebijakan moneter yang lebih akomodatif. Faktor ini membuat Januari sering kali menjadi bulan yang positif, meski dengan pola naik yang lebih selektif. Dalam konteks saat ini, rilis data Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang mencatat defisit 2,92 persen Produk Domestik Bruto (PDB) memang sedikit di atas target, tetapi masih dalam batas aman. Terlebih cadangan devisa Indonesia yang naik ke level 156,5 miliar dollar AS memberi bantalan kuat bagi stabilitas makro dan nilai tukar. Di sisi global, Hendra menjelaskan, memanasnya konflik geopolitik seperti ketegangan AS–Venezuela dan dinamika di Timur Tengah berpotensi meningkatkan volatilitas pasar, tetapi dampaknya terhadap IHSG cenderung dua arah. Di satu sisi, ketidakpastian global bisa memicu sikap wait and see investor, tetapi di sisi lain justru menguntungkan saham-saham berbasis komoditas energi dan tambang. Kenaikan harga minyak dan masih tingginya harga logam mulia membuat sektor ini kembali dilirik sebagai lindung nilai. "Selama konflik global tidak berkembang menjadi krisis sistemik, IHSG relatif lebih resilien karena ditopang oleh konsumsi domestik dan aliran dana asing yang masih masuk," imbuh dia. Ke depan, Hendra memproyeksikan, pergerakan IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan secara bertahap dengan pola konsolidasi sehat.
Baca Juga: Banyak Bank Berganti Manajemen, OJK Optimistis Kinerja Bank Tahun Ini Lebih Baik "Dalam skenario positif sepanjang Januari, IHSG diperkirakan bergerak dengan kecenderungan naik menuju area resistance 9.000 hingga 9.050, dengan support kuat di kisaran 8.800," ucap dia. Untuk saham, beberapa emiten menarik untuk dicermati antara lain ANTM yang masih diuntungkan oleh sentimen hilirisasi dan logam mulia dengan target harga 3.840, UNVR yang mulai menarik secara valuasi untuk spekulatif buy dengan target 2.820, ADRO sebagai trading buy seiring stabilnya harga energi dengan target 2.400, serta BUMI yang bersifat spekulatif tetapi didukung arus dana asing dengan target 500.
Tonton: IHSG Kembali Menanjak Hari Ini, 10 Saham LQ45 dengan PER Terendah & Tertinggi 9 Januari 2026. "Pendekatan akumulasi bertahap dan manajemen risiko tetap menjadi kunci agar investor dapat menikmati peluang di awal tahun tanpa terjebak euforia berlebihan," tutup dia. Artikel ini sudah tayang di Kompas.com berjudul
"January Effect, Investor Bisa Incar Cuan Lewat Saham Komoditas" Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News