Saham Konglomerat Bangkit, Grup Bakrie dan Prajogo Pangestu Pimpin Reli



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah saham konglomerat kembali menggeliat meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali lesu. Pada perdagangan Kamis (23/7), IHSG ditutup melemah 0,30% ke level 6.315,31. 

Dalam pantauan Kontan, saham milik Hapsoro Sukmonojadi menjadi yang paling unggul pada penutupan perdagangan Kamis (23/7/2026). Dari lima saham yang ada di Bursa, saham milik menantu Megawati Sukarnoputri ini menguat 4,29%. 

Penguatan dipimpin oleh saham PT Singaraja Putra Tbk (SINI) yang menguat 9,68% secara harian ke level Rp 6.800. Diikuti saham PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) yang naik 0,9% ke level Rp 5.025. 


Lonjakan harga saham juga terjadi pada saham Bakrie. Dari sembilan emiten, saham Grup Bakrie berhasil melonjak 2,78% dalam sehari. Penguatan dipimpin oleh saham PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) yang naik 7,89%. 

Baca Juga: IHSG Rawan Terkoreksi pada Jumat (24/7), Simak Rekomendasi Sahamnya

Secara akumulasi, saham-saham milik Garibaldi “Boy” Thohir berhasil menguat 0,41% pada akhir perdagangan Kamis (23/7/2026). Tak ketinggalan, saham milik Prajogo Pangestu juga menguat 0,1% secara harian. 

Jika ditarik lebih jauh lagi, saham Grup Bakrie memimpin penguatan dalam tujuh hari terakhir dengan lonjak sebesar 15,39%. Dalam sebulan terakhir, saham Grup Bakrie sudah naik 16,41%. 

Dalam seminggu terakhir, saham-saham milik Prajogo Pangestu berhasil menguat 10,43%. Sementara, dalam sebulan terakhir saham milik taipan kelahiran Kalimantan hanya mendaki 6,9%. 

Sementara saham-saham milik Boy Thohir secara akumulasi menguat 4,4% dalam seminggu terakhir dan naik 8,06% dalam sebulan. Sedangkan saham milik Hapsoro naik 7,22% dalam sepekan dan masih minus 31,79% dalam sebulan. 

Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas, Fath Aliansyah menjelaskan penguatan saham-saham konglomerasi terjadi seiring membaiknya sentimen pasar. Setelah mengalami tekanan sepanjang enam bulan pertama 2026, rebound pasar dinilai menjadi sesuatu yang wajar.

"Secara keseluruhan sentimen pasar memang membaik dan selama enam bulan pertama 2026 pasar terus mengalami penurunan sehingga rebound yang terjadi secara keseluruhan tergolong wajar," ucapnya kepada Kontan, Kamis (23/7/2026).

Menurut Fath, investor kini lebih selektif memilih emiten yang memiliki prospek perbaikan kinerja keuangan maupun aksi korporasi yang dinilai mampu memberikan nilai tambah bagi perusahaan dalam jangka menengah.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menimpali reli saham konglomerasi dipengaruhi kombinasi perbaikan sentimen makro, rotasi sektor, serta faktor teknikal. Namun, besarnya pengaruh masing-masing faktor berbeda pada setiap kelompok usaha.

"Penguatan saham-saham konglomerasi dalam sepekan terakhir merupakan kombinasi antara perbaikan sentimen makro, rotasi sektor, dan faktor teknikal, meskipun bobot masing-masing berbeda untuk setiap grup usaha," kata dia. 

Baca Juga: IHSG Merosot 0,30% ke 6.315, Top Losers LQ45: AKRA, BBCA dan ASII, Kamis (23/7)

Menurut Nafan, meredanya tekanan jual investor asing mendorong perubahan sentimen menjadi risk-on. Alhasil, investor kembali mengoleksi saham-saham yang sebelumnya mengalami koreksi dalam, termasuk saham-saham konglomerasi.

Selain itu, kata Nafan, investor mulai mengantisipasi prospek sektor energi, petrokimia, pertambangan hingga hilirisasi. Optimisme terhadap potensi perbaikan kinerja emiten pada semester II 2026 juga mendorong aksi akumulasi saham.

Nafan bilang kenaikan harga juga didukung faktor teknikal. Setelah menembus level resistance penting, sejumlah saham konglomerasi memicu aksi short covering dan momentum buying sehingga mempercepat penguatan harga.

Senada, Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama menyebu lebih banyak didorong technical rebound, membaiknya sentimen pasar dan meningkatnya minat investor atas saham yang melemah cukup dalam. 

"Untuk saat ini kami melihat pergerakan tersebut masih lebih didominasi faktor teknikal dibanding perubahan fundamental yang signifikan," ujar Elandry.

Dia menyebut keberhasilan IHSG bertahan di atas level psikologis 6.300 serta mulai kembalinya aliran dana asing turut menopang kenaikan saham-saham konglomerasi. 

Lebih lanjut, Elandry menyarankan investor tetap selektif memilih saham yang memiliki prospek pertumbuhan laba, valuasi menarik, serta katalis bisnis yang kuat. Untuk saham yang bergerak karena sentimen, disiplin trading plan tetap diperlukan.

Sementara, Fath menyarankan investor tidak terburu-buru mengejar saham yang sudah mengalami reli cukup tinggi. Sebaiknya menunggu momentum koreksi untuk melakukan akumulasi secara bertahap dengan mempertimbangkan prospek fundamental.

"Ada baiknya tidak mengejar ketika rally sedang terjadi dan cenderung mengambil posisi ketika terjadi koreksi," ujar Fath.

Nafan menilai saham-saham Grup Prajogo Pangestu dan Bakrie dapat dicermati. Dia merekomendasikan add untuk BREN dengan target Rp 6.525, BRPT Rp 2.630, TPIA Rp 2.940, BRMS Rp 725 dan ENRG Rp 1.785.

Baca Juga: IHSG Menguat pada Perdagangan Kamis (23/7) Pagi, BUMI, ESSA, DEWA Top Gainers LQ45

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News