KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja saham lapis kedua alias second liner terpantau melaju dan masih prospektif hingga akhir tahun 2026. Tengok saja, IDX SMC Composite per 25 September 2026 tercatat turun 21,80% sejak awal tahun alias
year to date (YTD). Selain itu, IDX SMC Liquid juga turun 16,29% YTD. Sebagai perbandingan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) parkir di level 6.241 pada perdagangan Jumat (25/9/2026). IHSG mencatatkan penurunan sebesar 27,81% YTD.
Baca Juga: Pefindo Pangkas Rating WSKT Jadi idCCC, Imbas Penundaan Bayar Obligasi Sejalan dengan IHSG, sejumlah indeks saham utama juga turun lebih dalam dari kedua indeks saham
second liner itu. Indeks LQ45 turun 26,63% YTD dan IDX80 terkoreksi 29,90% YTD. Hanya IDX30 yang masih mampu turun lebih baik, yaitu 21,29% YTD. Analis Phillip Sekuritas, Helen Vincentia menilai, saham lapis kedua bisa mencatatkan kinerja lebih baik daripada IHSG karena adanya rotasi dari investor yang beralih dari saham berkapitalisasi besar saat pasar mengalami tekanan. “Pelaku pasar mencari alternatif saham lainnya yang memiliki kinerja baik atau sektor yang tengah dianggap potensial,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (25/9/2026).
Managing Director of Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su melihat, kinerja saham lapis dua yang lebih baik dibandingkan IHSG dan sejumlah indeks utama perlu dilihat sebagai outperformance relatif. “Sebab, meskipun masih lebih baik dari IHSG dan indeks utama, saham-saham second liner tetap mencatatkan penurunan,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (25/9/2026). Sektor yang relatif menarik adalah emiten emas (basic materials), tambang dan energi, perkebunan, serta beberapa saham infrastruktur. Hal itu tampak dari sejumlah nama emiten dari sektor tersebut, seperti PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Darma Henwa Tbk (DEWA), dan PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS).
Baca Juga: Direktur Astra (ASII) Kompak Borong Saham Perusahaan, Segini Nilainya Namun, kenaikan harga tidak selalu mencerminkan fundamental. Sebab, sebagian saham lapis dua masih digerakkan likuiditas, aksi korporasi, dan momentum. “Artinya, perlu dibedakan dengan emiten yang memang mencatat pertumbuhan laba,” ungkapnya. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengatakan, ada tiga faktor utama penggerak saham second liner. Pertama, rotasi likuiditas dari saham big caps menuju saham dengan katalis spesifik perusahaan. Tekanan asing masih cukup besar di saham-saham bank besar dan telekomunikasi. Misalnya, per 25 September 2026, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatat
foreign outflow Rp 1,1 triliun dalam sepekan. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 676,34 miliar dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) Rp 478,55 miliar dalam sepekan. “Sebaliknya, beberapa saham non-big-cap justru masih memperoleh aliran dana asing dalam sepekan, seperti COIN dan TINS,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (25/9). Kedua, komposisi sektor. Saham lapis dua cukup banyak berasal dari komoditas, hilirisasi, energi, konstruksi industri, kesehatan dan
consumer discretionary. “Sejumlah sektor itu saat ini mempunyai katalis
earnings atau ekspansi tersendiri,” tuturnya. Ketiga, basis valuasi dan ekspektasi
earnings. Setelah mengalami koreksi cukup dalam pada awal 2026, sebagian
second liner sudah mengalami de-rating, sehingga ruang rerating lebih terbuka apabila laba mulai pulih.
Baca Juga: Harga Emas Masih dalam Tren Turun, Analis Ingatkan Investor Belum Aman untuk All-in Namun, sebaiknya investor tidak menggeneralisasi bahwa seluruh kenaikan second liner mencerminkan fundamental. “Sebab, memang ada saham yang naik karena earnings dan ekspansi, tetapi ada pula yang lebih banyak digerakkan oleh momentum,
rebalancing indeks, foreign flow, maupun spekulasi,” ungkapnya. Di akhir 2026 hingga 2027, prospek saham lapis dua tetap menarik, tetapi lebih selective dan tidak
broad-based. Harry berpandangan, fokus investor dalam melihat saham second liner sebaiknya pada emiten dengan pertumbuhan pendapatan, neraca sehat, valuasi menarik, serta katalis kinerja yang jelas. Misalnya, BRMS memiliki katalis peningkatan produksi dan
underground mining, DEWA memasuki fase
operating earnings inflection. Sementara, SSMS berpotensi mendapat dukungan dari harga crude palm oil (CPO) yang masih tinggi dan peningkatan volume produksi. Menurut Harry, sentimen positif kinerja emiten second liner berasal dari pemulihan laba, ekspansi kapasitas/kontrak baru, serta harga komoditas yang tinggi. “Sedangkan risiko utama tetap suku bunga tinggi, volatilitas rupiah dan minyak,
foreign outflow, serta
execution risk,” paparnya. Nafan melihat, katalis utama penggerak saham second liner adalah penurunan suku bunga domestik jika inflasi dan rupiah memungkinkan, pemulihan konsumsi dan capital expenditure (capex), harga komoditas yang tetap tinggi, serta peningkatan pendapatan dari proyek hilirisasi. Sementara itu, sentimen pemberatnya adalah rupiah yang masih lemah, imbal hasil surat berharga negara (SBN) yang tinggi, foreign outflow, volatilitas harga komoditas, serta risiko likuiditas pada saham dengan free float dan nilai transaksi rendah.
Baca Juga: Larangan Produk Rokok Elektrik Kembali Mencuat, Cermati Dampaknya ke Sampoerna (HMSP) “Hingga 2027, emiten yang tersengat sentimen hilirisasi mineral memiliki katalis berupa peningkatan volume produksi serta pembangunan fasilitas pengolahan,” paparnya.
Helen menambahkan, emiten dari sektor energi dan CPO masih cukup prospektif hingga akhir tahun 2026. Untuk sektor energi, saham dan harganya masih akan melaju di tengah masih berlangsungnya konflik di Timur Tengah. “Sementara untuk CPO harganya masih tinggi lantaran ada El Nino,” ungkapnya. Helen pun merekomendasikan beli untuk AKRA, DSNG, SSMS, dan TAPG dengan target harga masing-masing Rp 1.800 per saham, Rp 1.760 per saham, Rp 2.000 per saham, dan Rp 2.050 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News