Saham Lapis Kedua Tertekan di Awal 2026, Berikut Saran Analis



KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Kinerja saham lapis kedua di pasar domestik melemah sepanjang awal 2026, seiring meningkatnya tekanan global dan aksi ambil untung investor. Kondisi ini tercermin dari penurunan dua indeks saham lapis kedua.

Per Rabu (25/3/2026), IDX SMC Composite tercatat turun 12,41% secara tahunan atau year-to-date (ytd), sementara IDX SMC Liquid melemah 6,43% (ytd). 

Padahal, pada akhir 2025 lalu, kedua indeks tersebut sempat mencatat kenaikan signifikan masing-masing 57,28% dan 18,29%.


Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai fase saham lapis kedua belum berakhir, namun tengah mengalami perubahan siklus. 

Baca Juga: Investor Berburu Cuan dari Saham Pembagi Dividen Tinggi, Begini Saran Analis

Ia menjelaskan, reli pada 2025 didorong oleh likuiditas melimpah dan euforia pasar, sedangkan pada 2026 pergerakannya ditekan normalisasi pasar dan sentimen risk-off akibat konflik global.

“Saham lapis kedua dengan beta tinggi dan likuiditas tipis paling tertekan,” ujarnya, Rabu (25/3/2026).

Selain faktor geopolitik, tekanan juga datang dari kenaikan harga minyak dunia serta arus keluar dana asing. Dampaknya, sejumlah sektor seperti properti, konstruksi, teknologi, dan saham berbasis sentimen (story-driven) mengalami koreksi paling dalam.

Equity Analyst Indo Premier Sekuritas, David Kurniawan, menambahkan pelemahan ini juga dipicu aksi profit taking setelah lonjakan tajam pada 2025. Menurutnya, tekanan di awal tahun lebih mencerminkan sentimen negatif pasar ketimbang penurunan fundamental secara menyeluruh.

Meski demikian, tidak semua emiten mengalami penurunan kinerja. Sejumlah sektor masih dinilai memiliki prospek menarik, meski pergerakannya tidak lagi merata.

Baca Juga: Di Tengah Koreksi Pasar, Saham Lapis Kedua Unggulkan Sektor Ritel hingga Hilirisasi

Liza melihat sektor komoditas seperti emas, nikel, energi, serta sawit dan agribisnis masih berpeluang tumbuh. Selain itu, sektor logistik atau industri dengan kontrak jangka panjang juga dinilai lebih tahan terhadap volatilitas.

Sebaliknya, investor disarankan menghindari saham dengan valuasi tinggi tanpa kinerja jelas, serta emiten dengan tingkat utang tinggi namun arus kas lemah.

David menambahkan, sektor energi masih diuntungkan harga komoditas yang tinggi, sementara sektor defensif seperti kesehatan dan konsumer dengan merek kuat cenderung lebih stabil. 

Adapun saham dengan model bisnis yang belum menghasilkan laba konsisten berpotensi tertinggal.

Baca Juga: Masih Ada Peluang Cuan di Saham Lapis Kedua

Untuk strategi, investor disarankan tidak lagi mengandalkan momentum jangka pendek. 

Pendekatan yang lebih relevan adalah pemilihan saham berbasis fundamental dengan akumulasi bertahap di area support dan manajemen risiko yang disiplin.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, juga menekankan pentingnya selektivitas dalam memilih saham.

 
PGAS Chart by TradingView

Ia menyarankan investor fokus pada emiten dengan fundamental kuat, arus kas sehat, utang rendah, serta memiliki prospek bisnis yang sejalan dengan arah kebijakan pemerintah.

Beberapa saham yang direkomendasikan antara lain BUVA, CBDK, DEWA, JPFA, KAEF, LSIP, MYOR, PGEO, dan PGAS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News