KONTAN.CO.ID - HONG KONG. Saham maskapai penerbangan global mulai menunjukkan pemulihan pada Kamis (5/3) seiring bertambahnya jumlah penerbangan yang kembali beroperasi dari kawasan Timur Tengah. Kondisi ini memberi sedikit kelegaan bagi industri penerbangan setelah serangan militer oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada awal pekan ini menghapus miliaran dolar nilai pasar maskapai. Konflik yang meningkat antara AS, Israel, dan Iran telah memaksa penutupan sebagian besar wilayah udara di Timur Tengah. Langkah tersebut diambil untuk menghindari risiko rudal yang berpotensi menghantam pesawat penumpang.
Sejumlah pemerintah juga berupaya keras mengevakuasi puluhan ribu warga negaranya yang terjebak di kawasan tersebut. Penutupan wilayah udara telah menyebabkan pembatalan massal penerbangan dan gangguan besar terhadap perjalanan internasional.
Baca Juga: Harga Emas Naik, Terdorong Kenaikan Permintaan Seiring Meluasnya Konflik Timur Tengah Bandara Dubai, yang dikenal sebagai bandara internasional tersibuk di dunia, biasanya melayani lebih dari 1.000 penerbangan per hari. Penutupan sementara bandara ini sempat mengacaukan perjalanan global dan memicu lonjakan harga tiket pada rute populer seperti Australia–Eropa. Saat ini, maskapai Emirates dan Etihad Airways mulai kembali mengoperasikan sejumlah penerbangan terbatas dari Dubai dan Abu Dhabi melalui koridor udara aman yang disediakan oleh Uni Emirat Arab. Maskapai Qatar Airways juga mengumumkan akan mengoperasikan penerbangan bantuan terbatas mulai Kamis untuk mengangkut penumpang yang terjebak. Penerbangan tersebut akan berangkat dari Muscat di Oman menuju enam kota di Eropa, termasuk London, Berlin, dan Roma, serta dari Riyadh menuju Frankfurt. Ini merupakan penerbangan pertama maskapai tersebut sejak Sabtu lalu ketika hub mereka di Doha ditutup setelah serangan terhadap Iran, menurut data layanan pelacakan penerbangan Flightradar24. Data Flightradar24 juga menunjukkan bahwa pada Kamis pagi sejumlah penerbangan Emirates telah berangkat dari Dubai menuju berbagai tujuan internasional seperti Sydney, Paris, Amsterdam, Toronto, dan Mumbai. Meski demikian, sebagian besar layanan penerbangan masih dibatalkan. Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa sebuah penerbangan charter pemerintah telah membawa warga Amerika kembali ke Amerika Serikat dari Timur Tengah. Pemerintah AS juga tengah mengatur penerbangan tambahan dari berbagai lokasi di kawasan tersebut. Sejak 28 Februari, lebih dari 17.500 warga AS telah kembali dari Timur Tengah. Pemerintah Kanada juga menyatakan sedang mengupayakan pemulangan warga negaranya dengan menyediakan kursi pada penerbangan komersial serta menyewa penerbangan charter.
Baca Juga: China Akan Menyuntikkan Dana US$ 44 Miliar ke Bank-Bank Milik Negara Selain mengganggu perjalanan penumpang, eskalasi konflik Timur Tengah juga berdampak pada sektor logistik udara. Kapasitas kargo udara global disebut turun lebih dari 20%, sementara tarif pengiriman barang meningkat.
Harga Bahan Bakar Jet Melonjak
Harga bahan bakar jet juga melonjak tajam secara global setelah serangan terhadap Iran. Menurut S&P Global Platts, harga bahan bakar jet di Singapura bahkan mencapai rekor tertinggi sepanjang masa akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi. Meski demikian, saham maskapai penerbangan Asia mulai pulih setelah sebelumnya anjlok dua digit dalam beberapa hari terakhir akibat kekhawatiran mengenai durasi konflik dan lonjakan harga minyak. “Untuk saat ini, saya menilai pemulihan ini masih bersifat jangka pendek. Keberlanjutannya akan sangat bergantung pada perkembangan konflik di Iran,” ujar Kenny Ng, ahli strategi sekuritas di China Everbright Securities International. Laporan dari The New York Times menyebutkan bahwa sejumlah pejabat dari Kementerian Intelijen Iran memberi sinyal keterbukaan kepada Badan Intelijen Pusat AS (CIA) untuk melakukan pembicaraan guna mengakhiri perang. Perkembangan ini berpotensi memberikan sentimen positif bagi pasar. Di pasar saham, saham Cathay Pacific di Hong Kong naik sekitar 4%. Japan Airlines menguat 0,25%, Qantas Airways ditutup naik 1%, sementara Korean Air melonjak lebih dari 6%. Sementara itu, saham maskapai besar China seperti Air China, China Eastern Airlines, dan China Southern Airlines turun antara 1% hingga 3% di pasar Hong Kong dan Shanghai, meskipun penurunannya lebih terbatas dibandingkan awal pekan ini.
Baca Juga: Menteri Energi AS: Dampak Konflik Iran Terhadap Energi Bersifat Sementara “Maskapai Asia sangat sensitif terhadap situasi Iran karena eksposur mereka pada rute penerbangan dan biaya energi yang memengaruhi pendapatan serta biaya operasional. Setiap kabar mengenai kemungkinan perang berakhir lebih cepat dapat dengan mudah mengubah sentimen pasar,” kata Gary Ng, ekonom senior di Natixis.
Maskapai Terpaksa Ubah Rute Penerbangan
Dengan wilayah udara yang sangat terbatas, banyak maskapai terpaksa mengubah rute penerbangan, membawa bahan bakar tambahan, atau melakukan pemberhentian pengisian bahan bakar tambahan untuk mengantisipasi pengalihan mendadak maupun jalur penerbangan yang lebih panjang melalui koridor aman. Sementara itu, wisatawan dan sebagian ekspatriat yang terjebak di kawasan Timur Tengah juga mencoba mencari jalur keluar secara mandiri melalui Arab Saudi atau Oman, dua negara yang wilayah udaranya masih tetap terbuka.