Saham Maskapai Terpukul Konflik Timur Tengah, Harga Minyak Melonjak



KONTAN.CO.ID – HONG KONG. Eskalasi konflik antara Amerika Serikat–Israel melawan Iran mulai menimbulkan guncangan di industri penerbangan global. Lonjakan harga minyak serta penutupan sebagian besar ruang udara di Timur Tengah menekan saham maskapai di kawasan Asia pada awal pekan ini.

Harga minyak dunia melonjak sekitar 20% pada perdagangan awal Senin (9/3), mencapai level tertinggi sejak Juli 2022. Kenaikan ini dipicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi serta potensi terganggunya jalur pengiriman minyak.

Reuters (9/3) melaporkan, lonjakan harga energi menjadi pukulan telak bagi maskapai penerbangan. Bahan bakar merupakan komponen biaya terbesar kedua setelah tenaga kerja, biasanya menyumbang sekitar 20%–25% dari total biaya operasional maskapai.


Tekanan pasar langsung tercermin pada harga saham. Sejumlah maskapai besar Asia seperti Qantas Airways, Air New Zealand, Cathay Pacific, Japan Airlines, Korean Air Lines, serta maskapai China seperti China Southern Airlines dan China Eastern Airlines tercatat turun antara 4% hingga lebih dari 10% pada perdagangan Senin.

Maskapai India juga tak luput dari tekanan. Saham IndiGo turun 7,5%, sementara SpiceJet merosot 5,6%.

Analis penerbangan independen yang berbasis di Singapura, Brendan Sobie, menilai industri penerbangan sebenarnya sudah menghadapi tekanan bahkan sebelum konflik Timur Tengah memanas.

Ketidakpastian geopolitik, perlambatan ekonomi global, serta gangguan rantai pasok sudah lebih dulu membebani sektor ini. Konflik baru hanya memperbesar risiko yang ada.

“Sekarang tingkat ketidakpastian yang sudah tinggi menjadi semakin besar,” ujar Sobie.

Baca Juga: Konflik Timur Tengah Hantam Saham Penerbangan, Permintaan Maskapai Asia Meledak

Selain lonjakan biaya bahan bakar, maskapai juga menghadapi gangguan operasional akibat penutupan ruang udara di kawasan konflik. Sejak perang pecah pada 28 Februari hingga 8 Maret, lebih dari 37.000 penerbangan menuju dan dari Timur Tengah telah dibatalkan, menurut data Cirium.

Situasi ini memaksa maskapai mengubah rute penerbangan, membawa bahan bakar tambahan, atau melakukan lebih banyak pemberhentian untuk pengisian bahan bakar. Jalur penerbangan yang lebih panjang tentu menambah biaya operasional.

Subhas Menon Direktur Jenderal Association of Asia Pacific Airlines mengatakan, kenaikan harga minyak mentah akan berdampak lebih besar pada harga bahan bakar jet.

“Jika harga minyak mentah naik 20%, harga bahan bakar jet bisa naik beberapa kali lebih tinggi karena pasokannya lebih terbatas,” ujarnya.

Gangguan penerbangan juga memicu kepanikan di kalangan penumpang. Banyak pelancong yang terjebak di Timur Tengah harus membayar mahal untuk keluar dari kawasan konflik. Sebagian bahkan memilih perjalanan darat ke negara tetangga atau menggunakan jet pribadi karena terbatasnya penerbangan komersial.

Kondisi ini juga berdampak pada jaringan penerbangan global. Maskapai Timur Tengah seperti Emirates, Qatar Airways, dan Etihad Airways selama ini menjadi tulang punggung penerbangan jarak jauh yang menghubungkan Eropa dengan Asia dan Australia.

Jika konflik berkepanjangan dan ruang udara terus ditutup, gangguan pada rute-rute tersebut berpotensi memicu efek domino terhadap industri penerbangan global.

Di sisi lain, tekanan juga dirasakan para pilot. Mereka harus menghadapi ruang udara yang semakin sempit akibat konflik di berbagai wilayah, mulai dari Ukraina, Afghanistan hingga Timur Tengah, sekaligus menghadapi ancaman drone dan aktivitas militer.

Situasi ini menunjukkan bahwa konflik geopolitik kini bukan hanya persoalan keamanan, tetapi juga risiko ekonomi yang langsung mengguncang industri global, termasuk sektor penerbangan yang sangat sensitif terhadap harga energi dan stabilitas wilayah udara.

Baca Juga: Israel Serang Iran, Maskapai Internasional Batalkan Penerbangan ke dan dari Israel

TAG: