Saham Melejit 203% Usai IPO, BSA Logistics (WBSA) Segera Akuisisi dan Kebut Ekspansi



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (10/7/2026). WBSA menjadi emiten pertama yang melakukan penawaran umum perdana saham (IPO) pada tahun 2026. 

Perusahaan yang didirikan pada tahun 2021 ini bergerak di bidang transportasi dan logistik. Antara lain angkutan multimoda, angkutan bermotor untuk barang umum, angkutan bermotor untuk barang khusus, pergudangan dan penyimpanan, aktivitas cold storage dan aktivitas perusahaan holding.  

“Visi kami adalah menjadi perusahaan logistik yang paling terintegrasi di Indonesia. Jadi kami akan tetap terus berkembang menambah coverage dan juga menambah integrasi yang paling komplet,” kata Edwin Wibowo, Direktur Utama WBSA saat ditemui Kontan di Gedung BEI, Jumat (10/4/2026). 


Baca Juga: Genjot Diversifikasi, Dharma Polimetal (DRMA) Bidik Pendapatan Tumbuh 10% pada 2026

Edwin menyampaikan, dana yang didapat dari IPO sebesar Rp 302,4 miliar akan digunakan untuk mengakuisisi perusahaan afiliasi dan operasional pada tahun 2026. WBSA akan menggunakan dana Rp 215 miliar untuk mengambilalih saham PT Bermuda Inovasi Logistik (BIL) sebanyak 191.250 lembar saham atau setara dengan 99,99% dari seluruh modal ditempatkan dan disetor penuh BIL dari PT Bermuda Nusantara Logistik (BNL).

Pengambilalihan saham tersebut dilakukan selambat-lambatnya enam bulan sejak berakhirnya tahun buku 31 Desember 2025. Sifat hubungan WBSA dengan BNL adalah kesamaan anggota direksi dan dewan komisaris serta kesamaan penerima manfaat akhir dengan Perseroan, yaitu Andree dan Edwin Wibowo. 

Kemudian, sisa dana akan dipergunakan sebagai modal kerja seperti untuk mendukung kegiatan operasional sehari-hari, menjaga likuiditas usaha, serta memperkuat kapasitas layanan logistik multimoda.   

Edwin mengatakan bahwa akuisisi BIL memberikan akses lebih luas pada sektor industri primer, khususnya pertambangan dan komoditas pada sektor hulu, yang memiliki kebutuhan angkutan domestik dalam volume besar dan prospek pertumbuhan jangka panjang yang baik.

Kombinasi jaringan operasional WBSA dan BIL yang saling melengkapi juga akan memperluas jangkauan layanan serta meningkatkan penetrasi wilayah operasi Perseroan setelah akuisisi, terutama di wilayah luar Jawa. 

Penggabungan basis pelanggan WBSA dan BIL juga akan meningkatkan sebaran pelanggan, serta menurunkan konsentrasi dan ketergantungan WBSA terhadap pelanggan utama. Selain itu akuisisi BIL juga akan menciptakan konsentrasi pendapatan yang lebih seimbang di beberapa kelompok industri, sehingga mengurangi dampak negatif dari siklus usaha di sektor tertentu. 

Baca Juga: Alamtri Resources Indonesia (ADRO) Bakal Tebar Dividen US$ 447 Juta

Melalui integrasi operasional dengan BIL, Edwin melihat WBSA dapat meningkatkan efisiensi biaya transportasi dan utilisasi armada, memperkuat koordinasi rute antarmoda, serta mengurangi ketergantungan pada penyedia jasa eksternal. Dengan pengendalian langsung terhadap kapasitas dan jadwal pengangkutan, WBSA dapat memberikan layanan yang lebih konsisten, efisien, dan terintegrasi kepada pelanggan korporasi.

Penguatan integrasi multimoda dengan layanan angkutan laut BIL menciptakan peluang penawaran layanan terpadu kepada pelanggan dan peningkatan penetrasi perseroan. 

“Visi kami adalah untuk meminimalisir waktu tunggu atau dwelling time tersebut untuk menjadi lebih efisien sehingga dapat menjadi profit marginnya,” terang Edwin. 

Edwin melihat sektor logistik merupakan salah satu sektor yang menopang pertumbuhan ekonomi. Karakter geografis Indonesia sebagai negara kepulauan mendorong kebutuhan atas layanan logistik yang terintegrasi antara transportasi darat, laut dan udara, dengan fasilitas penyimpanan, serta proses kepelabuhanan dan kepabeanan. 

Struktur industri yang masih terfragmentasi membuat pengguna jasa cenderung memilih penyedia dengan layanan satu pintu karena alur kerja yang lebih sederhana dan risiko keterlambatan akibat banyaknya titik alih muatan dapat ditekan. Hal ini memberikan peluang bagi penyedia jasa yang memiliki layanan multimoda terintegrasi dengan cakupan geografis nasional dan aset strategis di simpul logistik utama, termasuk fasilitas pergudangan dan depot peti kemas di sekitar pelabuhan utama. 

Kemudian, kegiatan industri primer dan industri antara di luar Jawa berkembang seiring program hilirisasi dan pemerataan pusat pertumbuhan. Arus barang dari dan ke Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Indonesia Timur diperkirakan meningkat, sehingga permintaan atas layanan pengangkutan antarpulau serta layanan kepelabuhanan, termasuk depo peti kemas dan bongkar muat, akan bertambah.

Posisi perusahaan yang memiliki rekam jejak operasional yang luas di luar Jawa memberikan ruang untuk menangkap pertumbuhan tersebut. 

Baca Juga: Merdeka Gold Resources (EMAS) Temukan Potensi Besar dari Kegiatan Eksplorasi Kolokoa

Selain itu, semakin banyak pelanggan korporasi yang memasukkan aspek keberlanjutan dalam pemilihan penyedia logistik. Inisiatif efisiensi energi, peningkatan adopsi armada listrik secara bertahap, serta rencana pemanfaatan energi surya di fasilitas logistik memberikan nilai tambah bagi perusahaan untuk memperluas akses ke basis pelanggan yang menerapkan kriteria keberlanjutan. 

Meski begitu, Edwin mengakui terdapat sejumlah risiko. Misalnya risiko fluktuasi bahan bakar minyak dan biaya operasional lainnya. Biaya operasional perseroan dipengaruhi oleh harga bahan bakar, tarif tol, suku cadang dan perawatan, upah tenaga kerja, serta biaya layanan pihak ketiga termasuk vendor transportasi.

Kenaikan pada komponen biaya tersebut dapat meningkatkan biaya operasional dan menurunkan margin perusahaan.    

“Kalau kami memandang prospek logistik tetap positif, karena setiap orang butuh logistik, memang zaman dan keadaan selalu berubah. Tapi saya bilang bahwa semua masalah bisa jadi masalah, bisa jadi opportunity,” ucap Edwin. 

WBSA optimis dapat menghadirkan pertumbuhan yang berkelanjutan serta menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.

Meski belum mau menyebut berapa target persentase pertumbuhan maupun laba tahun ini, Edwin menyampaikan bahwa ke depan dengan strategi ekspansi yang terarah, model bisnis yang terintegrasi, serta dukungan infrastruktur dan adopsi teknologi dapat mencetak kinerja yang baik.

Hingga kini, Edwin menyebut armada yang telah beroperasi untuk mendukung kinerja WBSA ada sekitar 1.000 armada truk. Cakupan operasional pun tersebar di berbagai daerah di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan tempat lainnya. Ke depan armada yang beroperasi kemungkinan akan bertambah seiring dengan ekspansi perusahaan. 

“Kami tahu bahwa logistik marketnya sangat besar dan juga membutuhkan capital yang cukup signifikan untuk berkembang. Logistik di Indonesia menurut saya market yang besar dan secara market share, total market yang bisa di address juga sangat besar,” terang Edwin. 

Seperti diketahui, perusahaan mengantongi pendapatan Rp 1,54 trilun dan laba bersih Rp 24,39 miliar per September 2025. Adapun dalam IPO, WBSA menawarkan sebanyak 1,8 miliar saham baru atau setara dengan 20,75% dari modal ditempatkan dan disetor penuh, dengan harga penawaran sebesar Rp 168 per saham. Sehingga perusahaan berhasil menghimpun dana sebesar Rp 302,4 miliar. 

Baca Juga: Genjot Diversifikasi, Dharma Polimetal (DRMA) Bidik Pendapatan Tumbuh 10% pada 2026

Sambutan dari investor terbilang meriah karena saham WBSA mencapai 386,86 kali. Dalam sepekan, harga saham WBSA telah melonjak 203,10% ke level Rp 685 per saham pada Jumat (17/4/2026). 

Meski begitu, dalam rangka perlindungan investor, BEI menginformasikan adanya peningkatan harga pada saham PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) yang di luar kebiasaan (Unusual Market Activity). Pengumuman Unusual Market Activity (UMA) tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di bidang Pasar Modal. 

Sehubungan dengan terjadinya Unusual Market Activity atas saham WBSA tersebut, Bursa saat ini sedang mencermati perkembangan pola transaksi saham WBSA. Oleh karena itu para investor diharapkan untuk memperhatikan jawaban perusahaan tercatat atas permintaan konfirmasi Bursa, mencermati kinerja perusahaan tercatat dan keterbukaan informasinya. 

Investor juga diharapkan untuk mengkaji kembali rencana corporate action perusahaan tercatat apabila rencana tersebut belum mendapatkan persetujuan RUPS dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang dapat timbul di kemudian hari sebelum melakukan pengambilan keputusan investasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News