Saham Meta Anjlok 5%, Investor Khawatir Belanja AI Tembus US$ 145 Miliar



KONTAN.CO.ID - Saham Meta Platforms merosot lebih dari 5% pada awal perdagangan Kamis (22/10/2026). Investor mencermati manfaat bisnis agen kecerdasan buatan (AI) yang berkembang pesat di tengah meningkatnya biaya ekspansi teknologi perusahaan induk Facebook dan Instagram tersebut.

Jika pelemahan saham bertahan hingga penutupan perdagangan, kapitalisasi pasar Meta berpotensi menyusut sekitar US$ 85 miliar.

Padahal, hingga penutupan perdagangan Rabu (21/10/2026), saham Meta masih mencatat kenaikan lebih dari 5% sepanjang tahun ini.


Baca Juga: Wall Street Merosot Kamis (22/10), Nasdaq Anjlok 1,48% saat Kekhawatiran AI Kembali

Tekanan terhadap saham Meta terjadi meski perusahaan membukukan pendapatan kuartalan di atas ekspektasi pasar.

Meta juga memproyeksikan pendapatan kuartal IV-2026 melampaui perkiraan analis serta menyoroti adopsi aplikasi agen AI terbarunya, Muse, yang tumbuh cepat.

Namun, optimisme terhadap perkembangan bisnis AI belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran investor mengenai besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk mendukung ekspansi tersebut.

Meta memperkirakan belanja modal tahunannya mencapai US$ 135 miliar hingga US$ 145 miliar.

Besarnya kebutuhan investasi itu menjadi perhatian pasar, terutama setelah perusahaan melaporkan arus kas bebas negatif sebesar US$ 2,12 miliar pada kuartal III-2026. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, Meta masih membukukan arus kas bebas positif.

Baca Juga: Nestle Catat Pertumbuhan Penjualan 4%, Ditopang Lonjakan Volume

Analis Deutsche Bank Benjamin Black menilai, investasi AI Meta mulai memberikan dampak positif terhadap kinerja iklan dan keterlibatan pengguna.

Kondisi tersebut memperkuat prospek saham Meta karena investor mulai memandang infrastruktur komputasi sebagai aset yang mampu menghasilkan pendapatan, bukan sekadar beban biaya.

Di sisi lain, kekhawatiran terhadap besarnya investasi AI Meta juga merembet ke pasar kredit. Biaya untuk mengasuransikan utang perusahaan terhadap risiko gagal bayar melebar ke level tertinggi sepanjang sejarah.

Meta hadapi tekanan hukum dan perubahan struktur saham

Tekanan terhadap Meta juga datang dari sisi hukum. Beberapa jam sebelum laporan kinerja perusahaan dirilis, seorang hakim di New Mexico memerintahkan Meta membayar denda sebesar US$ 25 miliar dalam perkara privasi data yang berkaitan dengan Cambridge Analytica. Meta menyatakan akan mengajukan banding atas putusan tersebut.

Selain itu, Meta mengumumkan rencana menerbitkan kelas saham baru, yakni Class C, yang tidak memiliki hak suara.

Skema ini akan memberikan fleksibilitas tambahan bagi perusahaan dalam melakukan akuisisi dan memberikan kompensasi kepada karyawan, sekaligus mempertahankan kendali suara CEO Mark Zuckerberg.

Baca Juga: Harga Minyak Brent Tembus US$ 112, Tertinggi dalam Lima Bulan

Meski saham mengalami tekanan, sejumlah analis masih melihat prospek positif. Berdasarkan data yang dihimpun LSEG, sedikitnya 13 perusahaan sekuritas telah menaikkan target harga saham Meta setelah perusahaan merilis hasil kinerja terbarunya.

Pergerakan saham Meta mencerminkan dilema yang dihadapi perusahaan teknologi besar dalam mengembangkan AI.

Pertumbuhan pendapatan dan penggunaan produk AI menjadi katalis positif, tetapi investor juga semakin memperhatikan besarnya belanja modal, arus kas, dan kemampuan investasi tersebut menghasilkan keuntungan.