Saham murah selalu ada kapan saja



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencetak rekor. Indeks saham yang sempat dibuka di zona merah berhasil rebound beberapa menit setelah perdagangan dibuka dan terus melaju di zona hijau pada perdagangan Rabu (27/12).

IHSG pun berhasil menguat 56,15 poin atau 0,90% ke level 6.277,17. Di balik kenaikan itu, sejumlah saham, tak terkecuali saham yang terdaftar dalam efek margin, ikut melaju. Sehingga, potensi kenaikannya mulai terbatas. Meski demikian, masih ada sejumlah saham margin dengan valuasi murah yang masih layak untuk dikoleksi. Saat ini, sebanyak 190-an saham tercatat dalam daftar efek margin.

Sejumlah analis menjagokan saham Astra Agro Lestari (AALI). Saat ini, AALI memiliki price earning ratio (PER) 13,58 kali. Level ini masih sedikit lebih murah dibanding PER saham Salim Ivomas Pratama (SIMP) yang berada di level 13,71 kali.


Secara teknikal, saham AALI telah memasuki fase golden cross MA7. "Ini artinya secara teknikal masih murah, sehingga ada ruang penguatan cukup lebar," ujar analis Erdhika Elit Sekuritas Okky Jonathan, kemarin.

Analis Semesta Indovest Aditya Perdana Putra sependapat. AALI menjadi salah satu saham andalan dalam daftar efek margin. Selain valuasi, dari sisi harga juga AALI sudah babak belur tertekan. Sejak awal tahun, harga AALI telah melorot 19%. Saat ini, harga saham AALI berada di level Rp 13.225 per saham.

Menariknya, lanjut Aditya, minat beli AALI mulai meningkat. "Tapi, sejumlah indikator seperti RSI masih cukup lemah," imbuh dia. Yang pasti, saham AALI masih layak beli. Tapi ini untuk jangka pendek, setidaknya dua hari sisa perdagangan tahun ini.

Aditya masih merekomendasikan buy AALI dengan target antara Rp 13.350 per saham hingga Rp 13.500 per saham. Saham AALI pada perdagangan kemarin ditutup melemah 2,12% ke level Rp 13.225 per saham.

Demikian pula Okky merekomendasikan buy AALI dengan target Rp 13.600 per saham. Jangka waktunya lebih panjang. "Untuk sekitar seminggu perdagangan ke depan," tutur dia.

Saham favorit

Selain AALI, saham Adhi Karya (ADHI) menjadi favorit. Namun, alasannya sedikit berbeda. Secara valuasi, ADHI terbilang mahal dengan PER 23,96 kali. Sementara tiga emiten konstruksi pelat merah lainnya memiliki PER di bawah 11 kali. "Tapi, kejelasan pendanaan LRT menjadi sentimen positif," kata Aditya.

Dia menambahkan, ADHI menjadi salah satu saham efek margin untuk spekulasi. Tapi, bukan asal spekulasi. Fundamentalnya masih bagus. Sehingga sentimen terkait kejelasan pendanaan proyek light rail transit (LRT) Jabodebek akan membuat pergerakan saham ADHI lebih hijau.

Analis Binaartha Parama Sekuritas Muhammad Nafan Aji sependapat. Pendanaan LRT menjadi sentimen positif dan dapat memacu kinerja ADHI. "Akumulasi saham ADHI," ujar dia.

Secara teknikal, pergerakan downtrend pada saham ADHI terlihat masih terbatas karena harga sudah rebound dari garis bearish linear regression channel. Terlihat pola three inside up candlestick pattern yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. "Jadi, bisa akumulasi beli ADHI dengan target harga jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang di Rp 2.000, Rp 2.300 dan Rp 2.600 per saham," jelas Nafan.

Harga saham ADHI hingga penutupan perdagangan kemarin melemah 55 poin atau 2,89% ke level Rp 1.845 per saham.

Selain dua saham tersebut, masih ada saham margin lainnya yang masih bisa diakumulasi di sisa hari perdagangan tahun ini. Salah satunya saham AKR Corporindo (AKRA).

Okky bilang, AKRA telah melakukan break up fractal. Sehingga, secara teknikal AKRA masih layak beli dengan target harga Rp 6.575 per saham. Harga saham AKRA pada perdagangan Rabu ditutup melemah 100 poin atau 1,57% ke Rp 6.450 per saham.

Okky juga merekomendasikan Charoen Pokphand Indonesia (CPIN). Harga CPIN ditutup melemah 3,46% ke Rp 3.290 per saham. Namun secara teknikal, CPIN masuk dalam fase bullish continuation, sehingga direkomendasikan buy dengan target harga Rp 3.390 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie