KONTAN.CO.ID - LONDON. Investor asing menarik dana dalam jumlah besar dari pasar saham negara berkembang (emerging markets) sepanjang Juni 2026. Aksi jual ini mencapai US$ 46,1 miliar, dipicu oleh pelemahan saham-saham teknologi di Korea Selatan dan Taiwan. Laporan bulanan Institute of International Finance (IIF) yang dirilis Jumat (10/7/2026) menunjukkan, arus keluar dana tersebut membuat negara berkembang kembali mencatat kerugian portofolio selama dua bulan berturut-turut. Korea Selatan menjadi negara dengan arus keluar dana terbesar. Investor asing melepas saham senilai US$ 30,5 miliar, menjadi aksi jual terbesar dalam lebih dari 25 tahun terakhir. Sementara itu, Taiwan mencatat arus keluar dana sebesar US$18,3 miliar.
Meski dana keluar dari pasar saham, investor asing masih memburu instrumen utang negara berkembang.
Baca Juga: Profit Taking Saham AI Picu Rotasi Dana Asing Sepanjang Juni, obligasi
emerging markets justru menerima aliran dana masuk (inflow) sebesar US$28,3 miliar. Namun, derasnya aksi jual saham membuat total arus portofolio tetap mencatat defisit bersih US$17,8 miliar. Kepala Ekonom IIF Jonathan Fortun mengatakan investor masih bersedia menyalurkan dana ke obligasi negara berkembang, tetapi lebih berhati-hati terhadap aset berisiko seperti saham. "Investor masih bersedia memberikan pinjaman kepada negara berkembang, tetapi mereka tidak lagi agresif menambah eksposur pada saham," tegas Fortun. IIF menilai sejumlah faktor membuat investor mengurangi kepemilikan saham di negara berkembang. Di antaranya prospek kebijakan moneter Amerika Serikat yang lebih ketat di bawah Ketua Federal Reserve Kevin Warsh, volatilitas harga minyak, kenaikan tingkat diskonto global, ketidakpastian ekonomi China, melemahnya prospek laba perusahaan, serta tingginya sensitivitas sektor teknologi dan energi.
Baca Juga: 18 Saham Indonesia Tersingkir dari Indeks MSCI, Tekanan Arus Keluar Asing Meningkat Dari sisi kawasan, emerging Asia menjadi wilayah yang paling tertekan dengan total arus keluar portofolio mencapai US$27 miliar sepanjang Juni. Sebaliknya, Amerika Latin, Eropa berkembang, serta kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara masih mencatat aliran dana positif. China juga mengalami pembalikan arus modal. Investor asing menarik dana US$14 miliar dari pasar saham China pada Juni, berbalik dari arus masuk US$8,1 miliar pada Mei. Selain itu, pasar obligasi China juga mencatat arus keluar dana sebesar US$3,7 miliar.
Meski tekanan di pasar saham masih berlanjut, IIF mencatat pasar surat utang negara berkembang tetap menarik minat investor. Sepanjang semester pertama 2026, penerbitan obligasi pemerintah mencapai sekitar US$170 miliar, menjadi yang tertinggi untuk periode enam bulan pertama dalam beberapa tahun terakhir. Penerbitan bersih obligasi juga telah melampaui US$100 miliar.
Baca Juga: Investor Asing Ramai-ramai Cabut dari Bursa Saham Jepang di Pekan Lalu Pada Juni, sejumlah negara seperti Meksiko, China, Latvia, dan Bahrain berhasil menerbitkan obligasi di pasar internasional. Hal ini menunjukkan akses pendanaan global bagi negara berkembang masih tetap terbuka meski sentimen terhadap pasar saham melemah.