Saham Nikel Tertekan RKAB dan Harga Patokan Mineral, Simak Prospeknya Berikut Ini



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja saham emiten nikel masih berada di bawah tekanan sepanjang tahun berjalan. Hingga Selasa (22/9/2026), sejumlah saham emiten nikel tercatat melemah cukup dalam, di tengah stagnasi harga nikel, ketidakpastian persetujuan RKAB, serta perubahan regulasi terkait Harga Patokan Mineral (HPM) nikel.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas atau IPOT David Kurniawan mengatakan, tekanan saham nikel tahun ini terutama berasal dari kombinasi sentimen pasokan dan regulasi. Kondisi oversupply menjadi salah satu faktor fundamental yang membuat harga nikel global masih bergerak stagnan.

"Stagnasi harga nikel global akibat ketidakseimbangan pasokan (oversupply) menjadi faktor fundamental utama," kata David kepada Kontan, Selasa (22/9/2026).


Baca Juga: Bitcoin Dekati Level Tertinggi 8 Bulan, Inflow ETF Jadi Pendorong

Di sisi domestik, ketidakpastian proses persetujuan RKAB turut membatasi fleksibilitas operasional emiten. Sementara itu, perubahan regulasi HPM membuat pelaku pasar masih bersikap wait and see terhadap kepastian margin emiten nikel.

Tekanan tersebut tercermin dari pergerakan sejumlah saham. Per Selasa (22/9/2026), saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) turun 11,70% secara year to date (YtD), PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) melemah 21,46%, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) turun 18,55%, PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) terkoreksi 14,84%, dan PT PAM Mineral Tbk (NICL) merosot 64,61%, dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) terkoreksi 1,25% YtD.

Menurut David, kinerja emiten nikel hingga akhir 2026 masih berpotensi bergerak konsolidatif. Kondisi tersebut seiring dengan proses penyesuaian operasional emiten terhadap regulasi baru dan pergerakan harga komoditas yang belum banyak berubah.

Memasuki 2027, prospek sektor nikel berpotensi membaik secara bertahap. Namun, perbaikan tersebut bergantung pada kelancaran proses perizinan RKAB serta kemampuan emiten untuk meningkatkan efisiensi biaya.

"Untuk tahun 2027, prospek berpotensi membaik secara bertahap, terutama jika kelancaran proses perizinan RKAB tercapai dan efisiensi biaya emiten mulai membuahkan hasil," ujar David.

Baca Juga: Rupiah Tertekan, Pasar Menanti Sinyal BI di Tengah Penguatan Dolar AS

Lebih lanjut, terdapat sejumlah katalis yang dapat mendorong pemulihan kinerja maupun harga saham emiten nikel. Kepastian dan kelancaran regulasi RKAB serta kejelasan formula HPM menjadi faktor penting yang akan dicermati pasar.

Selain itu, pemulihan permintaan nikel global, terutama dari sektor baterai kendaraan listrik dan industri baja nirkarat, juga dapat menjadi katalis. Stabilnya harga nikel atau berlanjutnya kenaikan harga di bursa komoditas global turut berpotensi mendukung sentimen terhadap sektor ini.

Dari sisi fundamental, David menilai emiten nikel yang memiliki integrasi bisnis kuat serta biaya produksi rendah masih memiliki ketahanan yang relatif baik dalam menghadapi fluktuasi harga komoditas.

"Emiten terintegrasi seperti ANTM dan INCO cenderung memiliki ketahanan lebih baik dalam menghadapi fluktuasi harga komoditas karena dukungan diversifikasi portofolio dan struktur modal yang sehat," jelasnya.

Baca Juga: IHSG Anjlok 1,69% ke 6.277 pada Selasa (22/9/2026), INDY, WIFI, DEWA Top Losers LQ45

David menilai sektor nikel masih memiliki daya tarik dalam jangka panjang seiring dengan agenda transisi energi global. Namun, untuk jangka pendek, investor perlu lebih selektif dalam memilih saham di sektor tersebut.

Ia menyarankan pendekatan selective buy atau hold pada emiten dengan fundamental kuat dan biaya produksi yang efisien. Perkembangan regulasi domestik serta arah harga nikel dunia juga menjadi faktor yang perlu dicermati investor.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News