KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) kembali diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (17/9/2026). Saham PACK sempat disuspensi sejak 31 Agustus 2026. Pada perdagangan perdana setelah suspensi dibuka, saham PACK ditutup menguat Rp 55 atau 9,82% ke level Rp 615 per saham. Pembukaan kembali perdagangan tersebut dilakukan BEI mulai Sesi I melalui mekanisme Periodic Call Auction di pasar reguler dan pasar tunai. Sebelum kembali disuspensi, saham PACK telah mengalami kenaikan signifikan dan mencatatkan
auto rejection atas (ARA) selama enam hari perdagangan berturut-turut. Harga saham PACK naik dari Rp 320 pada 20 Agustus menjadi Rp 560 pada penutupan 31 Agustus 2026. Sebelum suspensi terakhir, BEI juga sempat menghentikan sementara perdagangan PACK pada 27 Agustus 2026 dan membukanya kembali pada 28 Agustus. Setelah kembali mengalami kenaikan, perdagangan saham PACK kemudian kembali dihentikan mulai 31 Agustus.
Baca Juga: IHSG Jumat (18/9) Diproyeksi Menguat, Ini Sektor Pilihan Analis Setelah kembali diperdagangkan, PACK masih tercatat dalam Daftar Efek Pemantauan Khusus BEI berdasarkan kriteria 10, yakni efek yang dikenai penghentian sementara perdagangan selama lebih dari satu hari bursa akibat aktivitas perdagangan. Di tengah kembali dibukanya perdagangan, pergerakan saham PACK turut menjadi perhatian seiring rencana transformasi bisnis dan aksi korporasi perseroan. Manajemen sebelumnya menyampaikan rencana ekspansi bisnis, termasuk pengembangan usaha di sektor mineral dan kemungkinan ekspansi anorganik melalui akuisisi. Praktisi pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai prospek PACK setelah kembali diperdagangkan perlu dicermati dengan lebih hati-hati. Menurutnya, ekspektasi pasar terhadap transformasi bisnis dan rencana aksi korporasi masih menjadi faktor yang diperhatikan, tetapi kenaikan harga yang telah signifikan juga meningkatkan risiko aksi ambil untung. “Pasar memang masih memiliki ekspektasi besar terhadap transformasi bisnis dan rencana aksi korporasi perseroan, sehingga secara momentum saham ini masih berpeluang menjadi perhatian investor. Namun, kenaikan harga yang sudah sangat signifikan sebelum suspensi membuat ekspektasi pasar juga menjadi semakin tinggi. Dalam kondisi seperti ini, ruang kenaikan memang masih terbuka, tetapi risiko profit taking justru semakin besar karena sebagian investor berpotensi memilih mengamankan keuntungan setelah perdagangan kembali dibuka,” ujar Hendra. Menurutnya, PACK kini tidak hanya dipandang berdasarkan bisnis utamanya, tetapi juga berdasarkan ekspektasi terhadap transformasi bisnis dan potensi ekspansi ke sektor mineral, khususnya nikel, setelah masuknya kelompok usaha Haji Isam. Karena itu, realisasi rencana akuisisi dan aksi korporasi menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi arah saham ke depan. Hendra mengatakan, respons pasar akan bergantung pada seberapa konkret rencana tersebut direalisasikan, termasuk dampaknya terhadap aset produktif, pendapatan, dan laba.
Baca Juga: IMC Pelita (PSSI) Bakal Jual 85 Juta Saham Treasuri Mulai 21 September Selain itu, struktur pendanaan juga menjadi perhatian. Menurutnya, kebutuhan pendanaan yang besar berpotensi menimbulkan dilusi, sementara realisasi aksi korporasi yang belum sesuai ekspektasi dapat mendorong pasar melakukan penyesuaian terhadap harga saham.
Dari sisi teknikal, Hendra melihat tren PACK masih berada dalam fase uptrend, tetapi kenaikan yang signifikan membuat saham tersebut berada pada zona yang rawan mengalami koreksi. Ia menempatkan Rp 560 sebagai level support terdekat dan Rp 615 sebagai resistance. Jika harga mampu menembus resistance tersebut dengan volume yang kuat, penguatan lebih lanjut masih terbuka. Sebaliknya, kehilangan level support disertai peningkatan tekanan jual dapat membuka ruang koreksi. Sementara itu, Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyarankan sikap
wait and see terhadap saham PACK. Ia menempatkan level support di Rp 580 dan resistance di Rp 620. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News