KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham-saham yang tercatat di papan akselerasi menjadi primadona para investor, padahal secara fundamental para emiten belum teruji. Indeks papan akselerasi yang melesat ratusan persen. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks papan akselerasi berhasil melonjak 162,81% sepanjang 2025. Sepanjang 2026 berjalan ini, indeks papan akselerasi sudah menguat 17,67% per Senin (12/1). Padahal indeks papan utama baru menguat 2,11% sepanjang tahun berjalan ini. Sementara, indeks kumpulan saham di papan pengembangan baru menguat 2,54% sejak awal 2026 sampai dengan Senin (12/1).
Baca Juga: Saham Teknologi Jadi Jajaran Market Cap Terbesar di BEI, Intip Rekomendasi DCII Investment Analyst Infovesta Kapital Advisory Ekky Topan mencermati di sepanjang 2025 memang terlihat perubahan preferensi investor ke saham-saham yang lebih sentiment-driven. Dia bilang emiten yang memiliki berita atau story tertentu justru menjadi pilihan utama karena dinilai membuka peluang perbaikan kinerja ke depan, meskipun secara fundamental belum sepenuhnya teruji. “Dalam konteks ini, preferensi risiko investor cenderung bergeser tidak lagi murni berbasis fundamental jangka panjang,” jelas Ekky saat dihubungi Kontan, Senin (12/1/2026). Namun kata Ekky, ada konsekuensi dari sisi risiko menjadi lebih tinggi. Menurut dia, investor di Indonesia memang relatif lebih condong ke trading jangka pendek dibandingkan investasi fundamental dengan time frame panjang. “Selama ada momentum dan peluang capital gain cepat, saham-saham dengan narasi kuat tetap diminati, meskipun volatilitasnya tinggi,” katanya. Ekky menilai tren tersebut berpotensi berlanjut pada 2026, meskipun dengan pendekatan yang lebih selektif. Pasalnya, fokus pasar belum sepenuhnya kembali ke saham-saham fundamental besar.
Baca Juga: Arah Suku Bunga Jadi Katalis Pendorong Kinerja Bumi Serpong Damai (BSDE) pada 2026 “Tetapi mulai mengerucut ke emiten tertentu yang memiliki tema perbaikan kinerja yang jelas, terutama yang didukung aksi korporasi seperti right issue hingga restrukturisasi,” ucapnya. Dari sisi strategi, kata Ekky, saham-saham di papan akselerasi lebih tepat untuk
active trader. Pendekatan yang disarankan adalah trading berbasis momentum dan teknikal, dengan disiplin
cut loss yang ketat. Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy menambahkan kenaikan harga saham di papan akselerasi dipengaruhi oleh sosok di belakang perusahan atau pemegang saham pengendali.
“Jika dikenal punya komitmen untuk menjaga harga sahamnya, apapun usahanya dan bagaimana pun laporan keuangannya tidak menentukan atau tidak berefek kepada harga di pasar,” ucap Budi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News