KONTAN.CO.ID - Saham Kering, pemilik merek fesyen mewah Gucci, anjlok 12% pada perdagangan Jumat (23/10/2026) setelah perusahaan melaporkan penurunan penjualan lanjutan. Pelemahan ini mencerminkan tekanan yang masih membayangi industri barang mewah global di tengah ketidakpastian ekonomi dan melemahnya daya beli konsumen. Mengutip
Reuters, Kering tetap mempertahankan rencana pemulihan bisnis yang dipimpin CEO Luca de Meo. Perusahaan juga akan mempercepat penutupan gerai dengan target mencapai 125 gerai hingga akhir tahun ini.
Baca Juga: Bos Konfederasi Sepakbola Asia Dukung Pencalonan Infantino Sebagai Presiden FIFA Pemulihan yang telah lama dinantikan industri barang mewah belum menunjukkan tanda-tanda kuat. Pada kuartal III-2026, tekanan meningkat akibat meluasnya konflik di Timur Tengah dan pengetatan pajak terhadap kelompok kaya di China. Kondisi tersebut memperberat tantangan perusahaan barang mewah dalam mempertahankan penjualan. Kenaikan harga minyak mentah yang mencapai level tertinggi sejak awal Mei juga menambah tekanan terhadap rumah tangga, sehingga membatasi kemampuan konsumen untuk membelanjakan uang bagi produk seperti tas dan pakaian mewah. Tekanan pasar turut menjalar ke saham perusahaan barang mewah lainnya. Pada Jumat, saham LVMH dan Hermes masing-masing melemah sekitar 1% hingga 1,5%. Kinerja Gucci masih tertekan meskipun Kering berupaya membuat harga produknya lebih terjangkau bagi konsumen kelas menengah. Koleksi terbaru yang dirancang direktur kreatif Demna juga telah mulai dipasarkan, tetapi belum cukup untuk membalikkan tren penjualan.
Baca Juga: Harga Emas Spot Memudar, Tertekan Lonjakan Harga Minyak Analis JPMorgan Chiara Battistini mengatakan, kemajuan dalam meningkatkan daya tarik merek Gucci masih berada pada tahap awal. Penjualan melalui kanal grosir memang membaik, tetapi secara keseluruhan penjualan Gucci turun 6% seiring berkurangnya jumlah pengunjung toko. Di tengah upaya pemulihan tersebut, Kering juga menghadapi kondisi ekonomi yang kurang mendukung. Perlambatan permintaan tidak hanya terjadi pada Gucci, tetapi mulai terlihat pada merek mewah lain yang menyasar konsumen kelas atas. Hermes, misalnya, mencatat penurunan 2% pada divisi pakaian siap pakai atau ready-to-wear pada kuartal III-2026 akibat lemahnya permintaan dari China. Secara keseluruhan, Hermes membukukan pertumbuhan penjualan kuartalan paling lambat sejak 2020. Tekanan kinerja tersebut membuat investor menilai ulang prospek pertumbuhan perusahaan barang mewah.
Sejak awal tahun hingga periode laporan Reuters, harga saham Hermes telah turun sekitar 40%, membawa valuasinya ke level terendah sejak 2014. Sementara itu, valuasi LVMH berada di titik terendah dalam 10 tahun terakhir.
Baca Juga: Lebih dari 50% Ekspor Mobil Chery Akan Diproduksi di Luar China Perkembangan ini menunjukkan bahwa merek dengan posisi premium sekalipun tidak sepenuhnya kebal terhadap perlambatan permintaan. Bagi Kering, tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa strategi pemulihan Gucci dapat mengembalikan daya tarik merek dan mendorong pertumbuhan penjualan di tengah musim belanja yang diperkirakan masih berat.