Saham Perangkat Lunak Eropa dan AS Tertekan, Kekhawatiran Disrupsi AI Meningkat



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Saham perusahaan perangkat lunak di Eropa dan Amerika Serikat kembali tertekan pada perdagangan Rabu, seiring meluasnya aksi jual sektor teknologi hingga ke Asia. Tekanan ini dipicu meningkatnya kekhawatiran bahwa kemajuan pesat kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dapat mengganggu bahkan merombak model bisnis perusahaan.

Saham perusahaan analitik data, jasa profesional, dan perangkat lunak di Eropa mencatat penurunan untuk hari kedua berturut-turut dalam perdagangan yang volatil. Pergerakan ini mencerminkan pelemahan saham-saham sejenis secara global, menyusul peluncuran alat AI legal terbaru dari Anthropic yang menegaskan ancaman disrupsi terhadap bisnis yang dinilai paling rentan terhadap AI.

Penurunan terjadi meskipun CEO Nvidia Jensen Huang berupaya meredam kekhawatiran bahwa AI akan menggantikan perangkat lunak dan alat terkait. Ia menyebut anggapan tersebut sebagai “tidak logis” dan menegaskan bahwa “waktu akan membuktikannya”.


Baca Juga: Paus Leo Desak Rusia dan AS Memperbarui Perjanjian Senjata Nuklir

Sejumlah analis menilai aksi jual ini mencerminkan upaya investor melindungi portofolio dari risiko disrupsi AI. Perkembangan teknologi yang sangat cepat dinilai mengaburkan valuasi serta prospek bisnis, melampaui horizon proyeksi standar perusahaan yang biasanya tiga hingga lima tahun ke depan.

Sektor perangkat lunak dipandang sangat rentan karena alat AI seperti Claude semakin mampu mengotomatisasi tugas-tugas rutin yang selama ini menjadi dasar kekuatan penetapan harga industri.

“Kita kini berada di lingkungan di mana sektor ini bukan hanya dianggap bersalah sampai terbukti tidak bersalah, tetapi sudah dijatuhi hukuman sebelum persidangan,” kata analis J.P. Morgan, Toby Ogg. Ia menambahkan bahwa minat investor untuk kembali masuk ke sektor ini masih rendah, dengan risiko mencakup persaingan dari perusahaan AI-native serta klien yang membangun solusi sendiri secara internal.

Di Eropa, saham RELX asal Inggris dan Wolters Kluwer dari Belanda—penyedia utama layanan analitik untuk industri hukum—sempat turun sekitar 3% pada perdagangan pagi sebelum memangkas sebagian kerugian. Sehari sebelumnya, kedua saham tersebut anjlok lebih dari 14% dan 12%.

Di Amerika Serikat, saham perusahaan perangkat lunak dan jasa bergerak bervariasi dalam perdagangan prapembukaan setelah merosot hampir 13% selama lima sesi berturut-turut. Saham Thomson Reuters, induk Reuters News, bergerak datar dengan volume tipis setelah mencatat penurunan harian terbesar sepanjang sejarahnya sebesar 16% pada Selasa, dipicu kekhawatiran AI mengancam divisi hukum inti perusahaan.

London Stock Exchange Group juga tertekan, sempat turun hingga 6,9% dan memperpanjang kejatuhan hampir 13% pada sesi sebelumnya.

Di Asia, saham eksportir teknologi informasi India melemah tajam. Sementara itu, saham pengembang perangkat lunak dan sistem Jepang seperti NEC, Nomura Research, dan Fujitsu anjlok antara 8% hingga 11%, menyeret indeks acuan Nikkei turun dalam perdagangan semalam.

Peluncuran Anthropic Picu Aksi Jual

Salah satu pemicu utama aksi jual adalah peluncuran plug-in untuk agen Claude Cowork milik Anthropic pada Jumat lalu. Fitur ini memungkinkan otomatisasi berbagai tugas di bidang hukum, penjualan, pemasaran, dan analisis data.

Saham perusahaan periklanan—yang dipandang sebagai sektor media Eropa paling terpapar disrupsi AI—juga tetap berada di bawah tekanan. Saham Publicis dari Prancis turun 3,6%, sementara WPP dari Inggris melemah 3%, keduanya menyentuh level terendah baru.

Saham SAP, perusahaan perangkat lunak terbesar di Eropa, turun lebih dari 3%, melanjutkan pelemahan setelah proyeksi pendapatan cloud yang mengecewakan pekan lalu memangkas nilai pasar perusahaan sekitar US$40 miliar.

Baca Juga: Xi Jinping dan Vladimir Putin Lakukan Panggilan Video, Ini Isinya

Di tengah lonjakan saham produsen chip Nvidia dan raksasa teknologi berbasis AI seperti Microsoft yang mendorong pasar saham AS ke rekor tertinggi, regulator dan pembuat kebijakan—termasuk Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank of England—telah memperingatkan risiko potensi gelembung pasar.

“Setiap inovasi pasti membawa disrupsi, dan tampaknya kita berada pada titik penting dalam perjalanan tersebut bagi perusahaan perangkat lunak dan layanan TI,” ujar Ben Barringer, kepala riset teknologi di Quilter Cheviot. “Ketidakpastian mengenai kemampuan agen AI membuat investor memilih menjauhi pasar perangkat lunak sepenuhnya.”

Dalam perdagangan prapembukaan di AS, saham Salesforce, CrowdStrike, dan Adobe masing-masing turun sekitar 0,2%, sementara Intuit melemah 0,6%. Sebaliknya, saham Atlassian Corp menguat 0,6%.

Selanjutnya: Dukung Mobilitas Perkotaan, Centrepark Perkuat Pengelolaan Parkir Berbasis Teknologi

Menarik Dibaca: Inspirasi Warna Cat Rumah Elegan yang Tenang dan Tahan Tren