Saham Perbankan Lesu Pasca BI Tahan Suku Bunga, Simak Rekomendasi Analis



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasca Bank Indonesia BI mengumumkan posisi suku bunga acuan (BI Rate) tetap di level 4,75%, sejumlah saham sektor perbankan nampak lesu. Mayoritas big banks terpantau berakhir di zona merah dan ditinggal asing. 

Pada penutupan perdagangan Selasa (21/1/2026), dari jajaran big banks hanya saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang berhasil menguat secara harian, yakni sebesar 0,44% ke level Rp 4.590. 

Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan koreksi paling dalam hingga 3,75% menjadi Rp 7.700. Menyusul, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun masing-masing 0,78% ke level Rp 3.820 dan 0,70% ke Rp 4.990. 


Dari sisi transaksi, hampir semua big banks juga dilego asing. BBRI menjadi satu-satunya yang masih mencetak net buy sebesar Rp 121,04 miliar. Sementara BBCA, BMRI, dan BBNI kompak mencatatkan net sell masing-masing sebesar Rp 1,73 triliun, Rp 65,25 miliar. dan Rp 10,82 miliar. 

Baca Juga: Kerugian Capai Rp 9,1 Triliun: OJK Ungkap Tantangan Penanganan Scam

Menurut Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan, keputusan BI menahan suku bunga acuan sebenarnya sudah sejalan dengan konsensus pasar. Itu mencerminkan fokus BI dalam menjaga stabilitas, khususnya di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Lagipula, ia bilang ruang BI untuk menurunkan suku bunga saat ini relatif terbatas. Pasalnya, rupiah sempat mendekati level terendah sehingga penurunan suku bunga justru berisiko memperbesar tekanan pada nilai tukar dan mendorong kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN).

“Penahanan suku bunga ini lebih tepat dibaca sebagai upaya menjaga stabilitas dan kepercayaan pasar, bukan karena BI tidak pro terhadap pertumbuhan ekonomi,” ujar Ekky kepada Kontan, Selasa (21/1/2026).

Setelah BI mempertahankan suku bunga, Ekky menilai ada tiga sentimen utama yang akan dicermati pasar, khususnya untuk saham perbankan.

Pertama, arah pergerakan rupiah dan aliran dana asing, mengingat saham bank berkapitalisasi besar masih menjadi proxy utama investor asing untuk masuk dan keluar dari pasar Indonesia.

Kedua, arah yield SBN dan kondisi likuiditas. Kenaikan yield SBN, cenderung menekan valuasi saham bank lebih cepat.

Ketiga, ekspektasi ke depan terkait biaya dana (cost of fund) dan pertumbuhan kredit, seiring pelaku pasar menunggu terbukanya kembali ruang penurunan suku bunga setelah rupiah lebih stabil.

Baca Juga: JMA Syariah Sebut Sudah Penuhi Ketentuan Ekuitas Minimum untuk 2026

Terkait derasnya aliran dana asing keluar dari saham bank besar, Ekky menilai fenomena tersebut erat kaitannya dengan pelemahan rupiah. Investor asing menghitung imbal hasil dalam denominasi dolar AS, sehingga pelemahan rupiah akan menggerus return mereka.

“Karena itu, mereka cenderung mengurangi posisi dan menunggu stabilisasi. Hal ini terlihat dari net sell di mayoritas big banks,” jelasnya.

Meski begitu, Ekky mencatat pengecualian bisa terjadi pada saham seperti BBRI dan BMRI. Di mata investor, ia bilang kedua bank tersebut memiliki profil bisnis yang lebih defensif, potensi dividen yang menarik, serta valuasi yang relatif lebih atraktif, sehingga arus dana asing tidak selalu sejalan dengan bank besar lainnya seperti BBCA.

Ke depan, Ekky memperkirakan tren outflow asing akan mereda seiring stabilisasi rupiah dan menurunnya volatilitas global. “Kuncinya tetap pada stabilitas nilai tukar dan yield,” jelas dia.

Dari sisi strategi investasi, Ekky menilai kondisi pasar saat ini lebih cocok dimanfaatkan sebagai momentum akumulasi bertahap, bukan masuk secara agresif sekaligus. Volatilitas yang masih tinggi membuat strategi masuk bertahap menjadi lebih aman.

BMRI dan BBRI dinilai menarik untuk dicermati karena biasanya lebih cepat pulih ketika risk appetite membaik. Selain itu, Ekky menilai BBCA juga tetap menarik untuk investor jangka menengah hingga panjang. “

 
BBNI Chart by TradingView

Justru saat ada tekanan dari asing, karena kualitas aset dan kekuatan franchise-nya sangat solid,” pungkasnya.

Sementara itu, BBNI dinilai bisa menjadi opsi yang lebih agresif, meski pergerakannya cenderung lebih sensitif terhadap sentimen investor asing.

Selanjutnya: Saham COIN Rontok di Awal 2026, Fundamental dan Prospek Jangka Panjang Masih Menarik

Menarik Dibaca: Dompet Aman! Promo Solaria Tebar Harga Hemat Nasi Goreng Spesial di ShopeeFood

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News