KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar saham Indonesia akan memasuki periode musiman yang kerap menjadi perhatian investor, yaitu perayaan Tahun Baru Imlek dan datangnya bulan Ramadan mulai pekan depan. Kondisi ini membuat pelaku pasar perlu lebih selektif dalam memilih saham untuk kebutuhan trading maupun investasi, mengingat pekan tersebut hanya memiliki tiga hari perdagangan efektif. Berdasarkan kalender libur Bursa Efek Indonesia, aktivitas perdagangan hanya berlangsung pada Rabu hingga Jumat (18–20 Februari 2026). Sementara itu, Senin (16/2/2025) ditetapkan sebagai cuti bersama Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili dan Selasa (17/2/2026) merupakan hari libur nasional untuk memperingati Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili.
Titik Infleksi Pasar Modal Indonesia
Khusus perayaan Tahun Baru Imlek, tahun 2026 menandai peralihan dari Tahun Ular Kayu menuju Tahun Kuda Api. Liza bilang transisi dari siklus Ular yang penuh kehati-hatian menuju Kuda Api yang eksplosif menandai titik infleksi bagi pasar modal Indonesia. Di tengah residu volatilitas akibat tantangan transparansi dan friksi regulasi, tahun 2026 hadir bukan sekadar sebagai pergantian kalender, melainkan sebuah katalis pembaruan. "Kita mengantisipasi gelombang reformasi struktural yang akan merekalibrasi pondasi pasar, mengubah tantangan tata kelola menjadi momentum penguatan integritas pasar," ucapnya. Menurut Liza, Tahun Kuda Api bukan lagi saatnya melakukan konsolidasi secara pasif. Pasar akan didominasi oleh entitas yang berani mengambil peluang dan memperluas ruang geraknya. Proyek dengan narasi masa depan serta prospek pertumbuhan kuat berpotensi memperoleh valuasi premium. Baca Juga: Kabar Gembira! Unilever (UNVR) Bakal Bagi Dividen Tambahan "Di tahun Kuda Api, diam di tempat adalah risiko terbesar. Bergerak cepat atau akan tersapu oleh laju pasar," ucapnya. Liza menegaskan, Tahun 2026 menuntut pergeseran radikal dari strategi pasif menuju agresivitas stock picking. Pasar tidak lagi bergerak serentak, melainkan didominasi oleh emiten dengan narasi pertumbuhan kuat dan likuiditas tinggi sebagai indikator utama. Dalam lanskap berorientasi momentum ini, sektor defensif kehilangan daya tariknya sebagai mesin pertumbuhan dan lebih berfungsi sebagai instrumen lindung nilai untuk meredam volatilitas.BMRI Chart by TradingView