KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham-saham emiten rokok kompak berada di zona merah, menyusul
reshuffle mendadak kursi Menteri Keuangan yang memicu kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan cukai hasil tembakau (CHT) ke depan. Pada akhir penutupan perdagangan Rabu (16/9/2026), sederet saham rokok mulai dari PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) dan PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) tercatat berada di zona merah. Saham GGRM tercatat terkoreksi 0,7% ke level Rp 17.750 per saham, HMSP melemah 0,76% ke posisi Rp 655 per saham, serta WIIM anjlok dalam 3,28% hingga mendarat di Rp 1.475 per saham.
Baca Juga: BMKS Bakal Beroperasi, Begini Prospek Saham Emiten Mineral Analis MNC Sekuritas Catherine Florencia mengatakan penunjukkan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa menjadi sorotan pelaku pasar lantaran Suahasil sebelumnya pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan pada era Sri Mulyani, periode di mana kebijakan CHT cenderung lebih agresif termasuk kenaikan tarif cukai rata-rata 10% yang diberlakukan pada 2023 dan 2024. "Meski belum ada indikasi bahwa Suahasil akan mengambil sikap serupa, reshuffle ini menimbulkan ketidakpastian apakah pendekatan cukai yang lebih akomodatif di bawah Purbaya akan tetap dipertahankan, terutama di tengah kebutuhan fiskal yang lebih luas untuk memperkuat penerimaan negara," tulis Catherine dalam riset yang dipublikasikan, Selasa (15/9/2026). Sebelum pergantian ini terjadi, Purbaya sempat memberikan sinyal positif bagi industri dengan menyatakan bahwa tarif CHT akan dipertahankan tidak berubah pada 2027, melanjutkan kebijakan pembekuan tarif cukai yang sudah berlaku sejak 2026. Sinyal tersebut turut mengedepankan prioritas terhadap stabilitas industri serta penegakan hukum yang lebih ketat terhadap peredaran rokok ilegal. Namun, hingga saat ini Suahasil belum menegaskan kembali komitmen pembekuan tarif CHT untuk 2027. Kekosongan sinyal kebijakan ini membuat visibilitas investor terhadap arah cukai tahun depan kembali memburuk, sekaligus membangkitkan kekhawatiran atas risiko terhadap kinerja keuangan emiten rokok ke depan. Ketidakpastian tersebut langsung tercermin di lantai bursa. "Tiga emiten rokok utama mencatat pelemahan tajam, mulai dari GGRM, HMSP dan WIIM, seiring investor merespons negatif ketidakpastian baru terkait prospek CHT menyusul reshuffle Menteri Keuangan," ujar Catherine.
Baca Juga: Pasca Bos Kena OTT KPK, Saham Summarecon (SMRA) Terus Anjlok Begini Prospeknya Tekanan Tambahan Di saat bersamaan, tekanan regulasi terhadap industri rokok elektrik atau vape juga semakin menguat. Badan Narkotika Nasional (BNN) mengusulkan larangan total peredaran rokok elektrik melalui Peraturan Presiden (Perpres), menyusul maraknya temuan kasus narkotika cair yang diedarkan melalui produk vape. Sepanjang 2026, BNN tercatat telah menyita 3.485 cartridge vape, 3,37 ton bunga ganja, 8.276,15 mL cairan etomidate, serta lebih dari 4 ton narkotika jenis lain, temuan yang memperkuat kekhawatiran otoritas terhadap penyalahgunaan vape sebagai media peredaran zat terlarang. Usulan larangan tersebut kini tengah dibahas lintas kementerian, melibatkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Kementerian Perdagangan (Kemendag), Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), serta lembaga terkait lainnya. Kemenkes disebut sejalan dengan kekhawatiran BNN terkait risiko kesehatan dan potensi penyalahgunaan produk vape. Meski keputusan final belum diambil, potensi larangan ini dinilai dapat menambah hambatan regulasi baru bagi industri rokok, khususnya HMSP yang memiliki eksposur pada segmen produk smoke-free meskipun kontribusinya terhadap total pendapatan perusahaan masih relatif kecil, di bawah 3%. "Kami memandang
reshuffle Menteri Keuangan ini sebagai kembali memunculkan
overhang regulasi jangka pendek bagi sektor tembakau, mengingat sinyal Purbaya sebelumnya soal pembekuan CHT 2027 telah memberikan visibilitas laba yang lebih baik," tambah Catherine. Secara terpisah,
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto turut menyoroti dampak pergantian Menteri Keuangan ke Suahasil Nazara terhadap sektor rokok. Menurutnya, pendekatan kebijakan yang akan diambil Suahasil diperkirakan tidak jauh berbeda dengan gaya Sri Mulyani, yaitu cenderung lebih tegas terhadap sektor-sektor yang berdampak negatif bagi kesehatan masyarakat, termasuk industri rokok. Kondisi ini berbeda dengan pendekatan Purbaya yang selama ini dianggap lebih pro terhadap sektor sigaret. Perbedaan pandangan antara kedua pejabat tersebut berpotensi membuat kebijakan ke depan menjadi lebih ketat terhadap sektor rokok.
"Kita tahu Pak Purbaya cenderung lebih pro terhadap sektor sigaret ini. Jadi ada perbedaan paham, perbedaan pandangan dari kedua kubu tersebut, sehingga kemungkinan kebijakan juga akan lebih keras terhadap sektor rokok," kata Rully dalam acara Media Day Mirae Asset Sekuritas, Selasa (15/9/2026). Berbeda dengan sektor rokok, Rully berpendapat sektor perbankan relatif minim terpengaruh oleh dinamika kebijakan fiskal saat ini. Pasalnya, pemerintah justru mendorong perbankan untuk lebih agresif dalam penyaluran kredit.
Baca Juga: Siapkan Anggaran Rp 500 Miliar Untuk Buyback, Intip Rekomendasi Saham Kalbe (KLBF) Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News