Saham-Saham Ekonomi Lama Siap Menguat Ketika Tren Saham AI Mereda



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Saat tren seputar artificial intelligence atau AI semakin hype, ada reaksi investor yang diam-diam menentang laju oligarki teknologi di pasar saham baru-baru ini.

Perusahaan-perusahaan seperti T Rowe Price Group Inc, Bank of America Corp, dan Citigroup Inc. adalah beberapa di antaranya yang berpendapat bahwa segala hype yang berhubungan dengan kecerdasan buatan telah mencapai puncaknya. 

Namun mereka berpendapat hal itu bukanlah kabar buruk bagi pasar karena siklus perusahaan-perusahaan yang disebut 'ekonomi lama' seperti perbankan dan pertambangan, siap untuk rebound.


Pasalnya dalam beberapa bulan terakhir, saham-saham ekonomi lama tersebut telah tersingkir dalam beberapa bulan terakhir oleh serbuan saham-saham perusahaan AI seperti Nvidia Corp. dan Advanced Micro Devices Inc. 

Baca Juga: Wall Street Meriah, S&P 500 dan Nasdaq Menyentuh Tertinggi Baru 2023

Dengan arus investasi yang mencatat rekor, saham-saham ini telah membawa benchmark Nasdaq 100 ke performa terbesarnya terhadap indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000.

Sebagai ilustrasi, investasi sebesar US$ 1.000 yang dilakukan pada 1 Januari di Nasdaq akan menghasilkan keuntungan sebesar US$ 330, sementara jumlah yang sama yang ditempatkan di indeks Russell tidak menghasilkan apa-apa.

Meskipun begitu, saham-saham berkapitalisasi kecil mulai kembali menguat. Reli minggu ini di Russell 2000 telah melampaui pergerakan di Nasdaq sebesar hampir 5% karena semakin banyak investor yang bertaruh bahwa perusahaan-perusahaan yang terpukul akan menuai hasil yang lebih besar di masa depan dibandingkan perusahaan-perusahaan teknologi. 

Hal ini karena mereka percaya terlalu berlebihan dengan ekspektasi resesi Amerika Serikat dan penurunan suku bunga menjadi pendorong kuat untuk saham-saham teknologi.

Sebastien Page, Kepala investasi di Manajer Aset T Rowe Price telah memborong saham-saham berkapitalisasi kecil dengan pandangan pasar telah melebih-lebihkan risiko resesi. 

Beberapa orang juga skeptis bahwa reli yang dibangun di sekitar saham-saham besar dapat bertahan. S&P 500 tertatih-tatih di wilayah pasar bullish, namun pada bulan Mei lebih banyak saham yang mencapai posisi terendah dibandingkan saham dengan posisi tertinggi dalam rentan waktu 52 minggu. 

Pasar yang sempit berada pada titik ekstrem dan lima saham terbesar dalam indeks, terutama mayoritas saham-saham perusahaan teknologi, sekarang membentuk hampir seperempat dari indeks berdasarkan kapitalisasi pasar.

"Ini adalah reli pasar yang sangat terkonsentrasi. Beberapa saham naik dan pasar lainnya pada dasarnya datar," katanya.

Beberapa penggemar saham teknologi yang sudah lama juga meringankan posisi mereka, seperti Edmond de Rothschild Asset Management telah memangkas kelebihan bobot Nvidia, setidaknya sejak tahun 2020, dengan alasan valuasi yang terlalu tinggi di seluruh teknologi AI.

Baca Juga: Bursa Asia Mayoritas Menguat di Pagi Ini (9/6), Simak Sentimen yang Menopangnya

Saham-saham bank dan pertambangan yang bersifat siklikal telah menikmati kenaikan pada tahun 2022, diuntungkan oleh suku bunga yang lebih tinggi dan normalisasi pasca-Covid. 

Namun, ketika gejolak perbankan AS pada bulan Maret memicu kekhawatiran akan penurunan yang parah, maka para investor memburu growing stock yang lebih diuntungkan ketika biaya pinjaman turun.

Namun, banyak ekonom saat ini memperkirakan resesi tidak akan bertahan lama. Seperti Bank of America Corp yang melihat penurunan PDB dari tahun ke tahun sebesar 0,8%. 

Begitu juga dengan Savita Subramanian, Kepala Strategi Ekuitas AS mengatakan resolusi pagu utang AS di samping pasar kerja yang ketat akan menyiapkan panggung untuk resesi yang tidak terlalu parah. Dia memperkirakan bahwa siklus-siklus ekonomi akan membawa pasar lebih tinggi dan mengalami rebound dari posisi underweight terbesar sejak 2008.

Editor: Tendi Mahadi