KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah analis memperkirakan saham-saham di indeks bahan baku (IDX Basic Materials) berpeluang kembali melanjutkan tren positifnya sekalipun kondisi pasar masih rentan bergejolak. Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), kinerja IDX Basic Materials tumbuh 6,81% year to date (ytd) ke level 2.198,231 hingga Jumat (10/4). Sejauh ini, IDX Basic Materials menjadi satu-satunya indeks sektoral yang mencatat kinerja positif sejak awal tahun. Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, prospek indeks saham bahan baku cukup positif dalam jangka pendek hingga menengah, meski investor perlu mewaspadai potensi aksi profit taking yang bisa membuat saham-saham di indeks tersebut berbalik koreksi. Baca Juga: Autopedia Sukses Lestari (ASLC) Siapkan Rp 20 Miliar Untuk Buyback Rotasi sektoral juga menjadi risiko bagi indeks bahan baku, terutama jika pemangkasan suku bunga acuan global terealisasi. Sentimen tersebut dapat memicu peralihan arus dana kembali ke sektor perbankan. "Faktor penentu indeks ini adalah pergerakan harga komoditas dasar dan stimulus pemulihan ekonomi China," kata dia, Jumat lalu. Sementara itu, Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan memperkirakan, dalam jangka pendek indeks bahan baku masih punya peluang pertumbuhan yang relatif kuat, meski kemungkinan tidak akan sekencang seperti awal tahun. Selama pasar masih menantikan arah geopolitik, harga energi, dan pergerakan dolar AS, maka saham-saham bahan baku dipercaya masih berpotensi menjadi tempat parkir dana karena punya katalis komoditas yang lebih jelas dibanding banyak sektor lain. Sebaliknya, untuk jangka menengah, sektor bahan baku akan sangat dipengaruhi oleh rotasi sektoral. Artinya, jika sentimen global membaik dan investor mulai kembali masuk ke sektor pertumbuhan (growth), penguatan indeks bahan baku bisa mulai lebih selektif. "Menurut saya sektor ini masih menarik, tetapi driver ke depan akan lebih spesifik ke masing-masing komoditas dan emitennya," kata Ekky, Kamis (9/4). Ekky melanjutkan, saham bahan baku yang berpotensi unjuk gigi diperkirakan tetap berasal dari subsektor komoditas yang harganya sedang kuat. Untuk tema emas, Ekky memandang sahan BRMS masih prospektif karena target produksi 2026 naik ke kisaran 80.000 per ons troi. Harga saham BRMS sendiri diprediksi Ekky dapat bergerak ke kisaran Rp 1.300 per saham. Saham TINS juga layak dicermati investor karena prospek harga timah masih cukup baik dan adanya pandangan bahwa laba dan pendapatannya bisa pulih cukup agresif pada 2026. Harga saham TINS diperkirakan Ekky dapat mengarah ke level Rp 4.800--Rp 5.000 per saham. Di samping itu, Ekky juga mengunggulkan MDKA yang berpotensi mencetak kinerja lebih kuat lagi seiring monetisasi proyek emas Pani serta kelanjutan ekspansi emas dan nikel. Saham MDKA pun diprediksi bergerak ke arah Rp 4.000 per saham. Di lain pihak, Wafi juga memprediksi saham-saham di subsektor tambang mineral dan logam dasar dengan bobot kapitalisasi besar seperti AMMN, MDKA, dan ANTM sebagai unggulan dari indeks bahan baku. Secara umum, saham-saham tersebut memiliki prospek fundamental yang positif sepanjang 2026 yang didukung oleh tingginya harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) dan ekspansi kapasitas produksi. Lantas, Wafi menargetkan harga saham AMMN, ANTM, dan MDKA masing-masing berada di level Rp 6.500 per saham, Rp 3.600 per saham, dan Rp 3.200 per saham. Baca Juga: Amman Mineral (AMMN) Alihkan Saham Buyback untuk Karyawan dan Manajemen
Saham-Saham Ini Bakal Jadi Unggulan dari Sektor Bahan Baku
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah analis memperkirakan saham-saham di indeks bahan baku (IDX Basic Materials) berpeluang kembali melanjutkan tren positifnya sekalipun kondisi pasar masih rentan bergejolak. Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), kinerja IDX Basic Materials tumbuh 6,81% year to date (ytd) ke level 2.198,231 hingga Jumat (10/4). Sejauh ini, IDX Basic Materials menjadi satu-satunya indeks sektoral yang mencatat kinerja positif sejak awal tahun. Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, prospek indeks saham bahan baku cukup positif dalam jangka pendek hingga menengah, meski investor perlu mewaspadai potensi aksi profit taking yang bisa membuat saham-saham di indeks tersebut berbalik koreksi. Baca Juga: Autopedia Sukses Lestari (ASLC) Siapkan Rp 20 Miliar Untuk Buyback Rotasi sektoral juga menjadi risiko bagi indeks bahan baku, terutama jika pemangkasan suku bunga acuan global terealisasi. Sentimen tersebut dapat memicu peralihan arus dana kembali ke sektor perbankan. "Faktor penentu indeks ini adalah pergerakan harga komoditas dasar dan stimulus pemulihan ekonomi China," kata dia, Jumat lalu. Sementara itu, Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan memperkirakan, dalam jangka pendek indeks bahan baku masih punya peluang pertumbuhan yang relatif kuat, meski kemungkinan tidak akan sekencang seperti awal tahun. Selama pasar masih menantikan arah geopolitik, harga energi, dan pergerakan dolar AS, maka saham-saham bahan baku dipercaya masih berpotensi menjadi tempat parkir dana karena punya katalis komoditas yang lebih jelas dibanding banyak sektor lain. Sebaliknya, untuk jangka menengah, sektor bahan baku akan sangat dipengaruhi oleh rotasi sektoral. Artinya, jika sentimen global membaik dan investor mulai kembali masuk ke sektor pertumbuhan (growth), penguatan indeks bahan baku bisa mulai lebih selektif. "Menurut saya sektor ini masih menarik, tetapi driver ke depan akan lebih spesifik ke masing-masing komoditas dan emitennya," kata Ekky, Kamis (9/4). Ekky melanjutkan, saham bahan baku yang berpotensi unjuk gigi diperkirakan tetap berasal dari subsektor komoditas yang harganya sedang kuat. Untuk tema emas, Ekky memandang sahan BRMS masih prospektif karena target produksi 2026 naik ke kisaran 80.000 per ons troi. Harga saham BRMS sendiri diprediksi Ekky dapat bergerak ke kisaran Rp 1.300 per saham. Saham TINS juga layak dicermati investor karena prospek harga timah masih cukup baik dan adanya pandangan bahwa laba dan pendapatannya bisa pulih cukup agresif pada 2026. Harga saham TINS diperkirakan Ekky dapat mengarah ke level Rp 4.800--Rp 5.000 per saham. Di samping itu, Ekky juga mengunggulkan MDKA yang berpotensi mencetak kinerja lebih kuat lagi seiring monetisasi proyek emas Pani serta kelanjutan ekspansi emas dan nikel. Saham MDKA pun diprediksi bergerak ke arah Rp 4.000 per saham. Di lain pihak, Wafi juga memprediksi saham-saham di subsektor tambang mineral dan logam dasar dengan bobot kapitalisasi besar seperti AMMN, MDKA, dan ANTM sebagai unggulan dari indeks bahan baku. Secara umum, saham-saham tersebut memiliki prospek fundamental yang positif sepanjang 2026 yang didukung oleh tingginya harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) dan ekspansi kapasitas produksi. Lantas, Wafi menargetkan harga saham AMMN, ANTM, dan MDKA masing-masing berada di level Rp 6.500 per saham, Rp 3.600 per saham, dan Rp 3.200 per saham. Baca Juga: Amman Mineral (AMMN) Alihkan Saham Buyback untuk Karyawan dan Manajemen