Saham-saham ini masih akan menjadi pemberat laju IHSG, simak rekomendasi analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham-saham berkapitalisasi pasar besar menjadi pemberat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sejak awal bulan Februari hingga penutupan perdagangan hari ini, Kamis (25/2). 

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), lima saham laggard teratas didominasi oleh saham-saham berkapitalisasi pasar di atas Rp 100 triliun yakni PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI),  PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA). Kelimanya memiliki kapitalisasi pasar antara Rp 100 triliun hingga Rp 226 triliun. 

Setelahnya, saham-saham yang menjadi pemberat ada PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Surya Citra Media Tbk (SCMA), PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM).  


Senior Vice President Research Kanaka Hita Solvera Janson Nasrial menjelaskan, saham-saham tersebut dapat menjadi pemberat IHSG tidak lepas dari pertumbuhan PDB kuartal IV yang diumumkan minus 0,4% secara quartal on quartal (qoq). 

Menurut Janson, hasil ini sebenarnya mengecewakan, mengingat negara-negara G20 mencatatkan pertumbuhan di kuartal IV-2020. 

Baca Juga: Saham Big Cap Menyeret Turun IHSG di Januari

Ditambah lagi, penjualan ritel di bulan Desember mengalami penurunan lagi. Begitu pula dengan consumer confidence atau Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang masih turun. 

Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan yang malah menurunkan proyeksi pertumbuhan PDB Indonesia 2021 menjadi di bawah 5% dari sebelumnya di atas 5,4% menjadi pemberat lainnya. 

Sentimen negatif ini kemudian cenderung mendominasi pasar dibandingkan satu-satunya sentimen positif dari pengumuman PDB kuartal IV, yakni ekpsor non-migas yang tumbuh positif. 

Menurut Janson, ini merefleksikan sektor siklikal seperti barang konsumen, ritel, perbankan, dan sektor telekomunikasi masih akan dalam tren pertumbuhan EPS yang melemah. Sepengamatannya, hanya sektor sawit dan metal yang punya potensi tumbuh lebih baik dibanding sektor lain. 

"Semuanya tergantung keefektifan distribusi vaksin di semester I-2021. Itu mengapa, sektor defensif melemah selama Januari dan Februari 2021," ungkapnya. 

Apabila vaksin berjalan efektif, sektor siklikal yang akan mengalami rebound paling cepat. Adapun kondisi fundamental sektor siklikal  yang masih baik dari sisi tingkat rasio utang dan kas membuatnya masih dilirik oleh fund manager. 

"Mereka masih menjadi pilihan fund manager karena dua hal balance sheet yang kuat dan konsistensi cash flow selama bertahun-tahun," ujarnya. 

Ia menyarankan buy on weakness ASII di harga Rp 5.500 dengan target harga Rp 7.000, buy on weakness saham UNVR di harga Rp 6.800 dengan target harga Rp 8.000, buy on weakness saham ICBP di harga Rp 8.500 dengan target harga Rp 11.000, buy on weakness BMRI di harga Rp 6.000 dengan target harga Rp 7.200,  dan buy on weakness saham MYOR di harga Rp 1.900 dengan target harga Rp 2.700. 

Selanjutnya: Jadi pemberat IHSG 2020, simak prospek saham Unilever (UNVR) untuk tahun 2021

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi