Saham-Saham Konglomerasi Ini Berpeluang Jadi Primadona pada 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja harga saham emiten-emiten konglomerasi tampak beragam pada awal 2026 akibat berbagai faktor. Secara umum, saham-saham konglomerasi tetap punya prospek menjanjikan meski dengan karakter yang berbeda.

Seperti yang diketahui, beberapa saham milik grup konglomerasi ada yang mencatatkan kenaikan signifikan namun ada pula yang mengalami tren koreksi pada awal tahun ini.

Grup Sinar Mas menjadi salah satu konglomerasi yang mayoritas sahamnya membukukan kenaikan harga. Contohnya adalah saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang menguat 7,36% year to date (ytd) ke level Rp 105.700 per saham hingga Kamis (22/1/2026).


Saham PT Sinar Mas Agro Resources Tbk (SMAR) juga menguat 19,47% ytd ke level Rp 5.675 per saham.

Dua emiten Sinar Mas di bidang industri pulp & paper yakni PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) dan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) juga mencetak kenaikan harga masing-masing 12,97% ke level Rp 8.275 per saham dan 20,80% ytd ke level Rp 10.600 per saham.

Baca Juga: Dana Asing Keluar dari Pasar Saham, Ini Dampaknya ke IHSG

Saham-saham Grup Lippo juga terpantau moncer. Duo emiten properti Grup Lippo, yaitu PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) dan PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK) mengalami lonjakan harga masing-masing 50,59% ytd ke level Rp 128 per saham dan 36,97% ytd ke level Rp 815 per saham. Saham Grup Lippo lainnya, yaitu PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) juga melesat 11,48% ytd ke level Rp 68 per saham.

Sementara itu, mayoritas harga saham-saham Grup Salim tampak menguat meski masih di level satu digit. Contohnya, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) yang harga sahamnya naik 1,12% ytd ke level Rp 6.750 per saham dan 3,10% ytd ke level Rp 8.325 per saham.

Emiten sawit Grup Salim yaitu PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) juga mencatat pertumbuhan harga saham positif masing-masing 6,14% ytd ke level Rp 605 per saham dan 1,26% ytd ke level Rp 1.210 per saham.

Sebaliknya, saham-saham terafiliasi Prajogo Pangestu cenderung lesu pada awal tahun ini. Contohnya, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang sahamnya terkoreksi 13,79% ytd ke level Rp 2.750 per saham. Saham anak usahanya, yaitu PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) juga melorot 1,81% ytd ke level Rp 9.500 per saham dan 4,21% ytd ke level Rp 6.825 per saham. Ada pula PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) yang anjlok 13,70% ytd ke level Rp 1.480 per saham.

Nasib serupa dialami oleh PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang harga sahamnya merosot 20,74% ytd ke level Rp 1.815 per saham. Saham PT Petrosea Tbk (PTRO) ikut melemah 3,79% ytd ke level Rp 10.775 per saham.

Baca Juga: Emiten Ramai Tambah Anak Usaha Baru pada Awal Tahun 2026, Intip Prospeknya

Kinerja harga saham Grup Bakrie cenderung bervariasi. Harga saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) merosot 17,14% ytd ke level Rp 348 per saham dan 11,33% ytd ke level Rp 665 per saham. Saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) juga menyusut 7,32% ytd ke level Rp 1.520 per saham.

Namun, Grup Bakrie punya saham unggulan lewat PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang harganya menguat 4,24% ytd ke level Rp 1.230 per saham. Selain itu, ada PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) dan PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) yang mengalami penguatan harga saham 35,25% ytd ke level Rp 188 per saham dan 20,71% ytd ke level Rp 1.195 per saham.

Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder Pasardana Hans Kwee menilai, pergerakan saham-saham konglomerasi pada awal tahun ini sarat akan faktor rotasi yang terjadi di pasar, sehingga wajar terjadi perbedaan kinerja harga dibandingkan tahun sebelumnya.

Selain itu, sentimen global termasuk efek pergerakan harga komoditas juga berperan banyak terhadap arah saham-saham konglomerasi. "Misalnya BRMS naik karena komoditas emas sedang positif," kata dia, Kamis (22/1/2026).

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty mengatakan, perbedaan kinerja saham-saham konglomerasi pada awal 2026 dipicu oleh rotasi sektor, kualitas laba, dan valuasi. Menurutnya, saham yang tumbuh positif umumnya memiliki visibilitas laba yang jelas, arus kas kuat, dan valuasi yang relatif masuk akal.

Di samping itu, adanya narasi baru seperti pemulihan konsumsi, monetisasi aset, dan diversifikasi bisnis turut menjadi sentimen positif bagi sebagian saham konglomerasi.

Di sisi lain, saham konglomerasi yang terkoreksi biasanya disebabkan oleh aksi profit taking usai lonjakan harga yang agresif pada 2025 atau ketika kenaikan harganya lebih cepat dibandingkan realisasi fundamental. Tak hanya itu, keterbatasan free float dan konsentrasi kepemilikan tinggi juga bisa membuat harga saham konglomerasi rentan koreksi.

"Tekanan jual tidak hanya datang dari investor asing, tetapi juga domestik, terutama dari investor yang telah menikmati capital gain besar," ungkap Arinda, Kamis (22/1/2026).

Baca Juga: Kinerja Japfa (JPFA) Ditopang Sentimen Percepatan SPPG, Cek Rekomendasi Sahamnya

Dia melanjutkan, sebagian saham konglomerasi memang masih berupaya masuk atau bertahan dalam indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI), namun pendekatannya lebih selektif. Tanda-tandanya terlihat dari upaya peningkatan porsi free float, stabilisasi volatilitas harga, dan peningkatan likuiditas transaksi harian.

Beberapa emiten konglomerasi juga mulai menggelar aksi korporasi yang lebih ramah pasar untuk memenuhi kriteria free float.

"Namun, saat ini MSCI tidak hanya menilai ukuran kapitalisasi, melainkan juga kualitas likuiditas dan distribusi kepemilikan, sehingga tidak semua saham konglomerasi termasuk saham-saham yang sempat reli tajam secara otomatis berpeluang masuk MSCI dalam waktu dekat," terang Arinda.

Managing Director Research dan Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menyebut, pergerakan beberapa saham konglomerasi turut dipengaruhi oleh potensi mereka untuk masuk ke indeks MSCI. Namun, perlu diingat bahwa jika sudah resmi masuk ke dalam MSCI, ada kecenderungan harga saham tersebut koreksi akibat aksi profit taking.

"Sebab, tujuan kenaikan harga telah tercapai," imbuhnya, Kamis (22/1/2026).

Secara umum, baik pengamat maupun analis sepakat bahwa saham konglomerasi masih memiliki daya tarik sepanjang 2026. Namun, Hans memperkirakan peran saham konglomerasi sebagai penopang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa kembali digantikan oleh saham-saham big caps seiring perbaikan sentimen pasar dan kinerja fundamental.

Arinda juga bilang, peran saham konglomerasi terhadap IHSG tidak lagi didominasi oleh satu grup besar, melainkan oleh beberapa konglomerasi secara bergantian sesuai siklus sektoral.

Dia memprediksi, saham konglomerasi yang berorientasi pada sektor defensif, konsumsi, energi terintegrasi, dan infrastruktur cenderung lebih diminati, terutama di tengah ketidakpastian global dan sikap investor yang semakin selektif terhadap risiko.

Arinda menyebut saham DEWA dapat dipertimbangkan oleh investor dengan target harga di level Rp 735 per saham.

Di lain pihak, Hans memperkirakan saham-saham dari Grup Bakrie akan menjadi unggulan di pasar pada tahun ini.

Adapun Harry memprediksi BUVA, DEWA, dan BUMI sebagai saham konglomerasi yang berpotensi mencetak kinerja harga positif seiring peluang mereka untuk masuk ke indeks MSCI pada 2026.

Selanjutnya: Paramount Perpanjang Batas Waktu Pengambilalihan Warner Bros Hingga 20 Februari

Menarik Dibaca: 5 Makanan Ultra Olahan yang Masih Aman Dikonsumsi untuk Kesehatan Tubuh

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News