Saham Samsung Ambles 10% Selasa (7/7), Kekhawatiran Boom AI Seret Bursa Emerging Asia



KONTAN.CO.ID - Pasar saham di kawasan emerging Asia bergerak bervariasi pada perdagangan Selasa (7/7/2026).

Bursa Korea Selatan memimpin pelemahan setelah aksi jual besar-besaran pada saham Samsung Electronics memicu keraguan investor terhadap keberlanjutan lonjakan laba yang ditopang tren kecerdasan buatan (artificial intelligence / AI).

Baca Juga: Bursa Asia Berguguran Selasa (7/7), Kekhawatiran Valuasi Saham AI Kian Membesar


Mengutip Reuters, indeks KOSPI Korea Selatan anjlok 8% hingga memicu penghentian perdagangan sementara (circuit breaker).

Pelemahan tersebut menyeret indeks MSCI Emerging Asia turun hampir 3%, menjadi penurunan terdalam dalam hampir dua pekan.

Saham Samsung Electronics merosot sekitar 10%, meski perusahaan sebelumnya memproyeksikan laba operasional kuartal II-2026 melonjak 19 kali lipat secara tahunan.

Proyeksi tersebut dinilai belum cukup untuk meredakan kekhawatiran pasar mengenai keberlanjutan pertumbuhan industri chip yang didorong AI.

Direktur Riset ACCM Glenn Yin mengatakan, pelemahan saham Samsung menunjukkan investor kini semakin sensitif terhadap valuasi saham-saham bertema AI.

Baca Juga: Australia dan Kepulauan Solomon Pererat Hubungan di Tengah Ketegangan Pasifik

"Pasar membutuhkan bukti bahwa belanja dan pertumbuhan laba di sektor AI masih dapat terus meningkat. Jika tidak, pasar saham Asia yang kinerjanya semakin bergantung pada segelintir perusahaan AI berpotensi mengalami penurunan valuasi secara cepat," ujarnya.

Di Taiwan, indeks acuan juga melemah lebih dari 2%, seiring tekanan pada saham-saham sektor semikonduktor.

Sementara itu, bursa Asia Tenggara menunjukkan pergerakan yang lebih beragam.

Indeks saham Thailand turun hingga 1,1%, dipicu pelemahan saham Delta Electronics Thailand yang merosot hampir 3%.

Baca Juga: Huawei Jadi Pemenang Saat Apple, Xiaomi, dan Honor Tersungkur di Festival 618

Sebaliknya, indeks saham Singapura naik sekitar 1% ke rekor tertinggi baru, ditopang penguatan saham perbankan seperti OCBC, UOB, dan DBS, yang masing-masing naik sekitar 1%–2%.

Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat sekitar 0,5% hingga mencapai level tertinggi dalam lebih dari sepekan. Sementara itu, nilai tukar rupiah bergerak stabil di kisaran Rp 17.980 per dolar AS.

Di Filipina, pasar saham naik 0,7% setelah data menunjukkan inflasi tahunan pada Juni melambat. Bank sentral Filipina juga menyatakan siap mengambil langkah kebijakan moneter tambahan jika diperlukan menjelang rapat penetapan suku bunga berikutnya pada 27 Agustus.

Kepala Riset Asia Pasifik ING Deepali Bhargava menilai, meski inflasi mulai menunjukkan tanda-tanda mencapai puncaknya, tekanan harga inti masih cukup tinggi sehingga bank sentral diperkirakan tetap berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan.

Sementara itu, di Malaysia, indeks saham turun tipis, sedangkan ringgit menguat ke 4,0720 per dolar AS.

Baca Juga: Prediksi Argentina vs Mesir: Messi Tantang Salah di 16 Besar Piala Dunia 2026

Mata uang tersebut telah terapresiasi sekitar 1,5% sejak 24 Juni, setelah Bank Negara Malaysia mengumumkan langkah-langkah untuk menopang nilai tukar.

Berdasarkan jajak pendapat Reuters, Bank Negara Malaysia diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di 2,75% untuk pertemuan keenam berturut-turut pada Kamis (9/7), didukung inflasi yang tetap terkendali dan pertumbuhan ekonomi yang masih solid.

Di pasar valuta asing kawasan, won Korea Selatan menguat sekitar 0,5% ke level 1.519 per dolar AS, tertinggi dalam hampir tiga pekan, sementara peso Filipina bergerak relatif stabil.