Saham Sinar Mas Agro (SMAR) Melesat Sejak Awal 2026, Cermati Rekomendasi Analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Laju saham PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) melesat sejak awal tahun 2026. 

Dalam sebulan, sahamnya SMAR melesat 26,87%. Sementara, kenaikan SMAR tercatat 78,20% sejak awal tahun alias year to date (YTD).

Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand mengatakan, kenaikan saham SMAR sejalan dengan fundamental. 


Laba bersih SMAR semester I 2026 melonjak 184% YoY menjadi Rp 2,34 triliun, dengan earning per share (EPS) menjadi Rp 816 dari Rp 287.

Baca Juga: Saham Sinar Mas Agro (SMAR) Melesat Sejak Awal Tahun, Simak Prospeknya

Yang perlu dicatat, pendorongnya adalah margin, bukan volume. Sebab, penjualan hanya naik 1,07% YoY menjadi Rp 43,73 triliun.

Sementara laba kotor naik 58,8% YoY menjadi Rp6,93 triliun karena beban pokok turun, dan bagian laba asosiasi melonjak 845% YoY menjadi Rp303,6 miliar. 

“Kombinasi harga CPO yang tinggi dan B50 sejak Juli memberi SMAR keuntungan ganda, harga yang lebih baik di hulu sekaligus tambahan volume di hilir biodiesel,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (6/10/2026).

 
SMAR Chart by TradingView

Dari sisi valuasi, di harga Rp 8.500 per saham dengan EPS TTM sekitar Rp1.428, SMAR diperdagangkan di price to earning ratio (PER) sekitar 6x dan price to book value (PBV) sekitar 1x.

“Ini masih tergolong murah meski sebagian ekspektasi positif sudah tercermin di harga,” ungkapnya.

Pada sisa 2026, Abida menilai kinerja SMAR masih solid. Sementara, di 2027 kinerja SMAR dilihat lebih menantang, karena basis laba yang sudah tinggi. 

Baca Juga: Sinar Mas Agro (SMAR) Umumkan Rencana Merger, Simak Detailnya

Sentimen positif penggerak kinerjanya berasal dari kebijakan B50 sebagai permintaan struktural, integrasi hulu-hilir yang membuat SMAR lebih tahan dibanding emiten murni perkebunan, serta rupiah lemah yang menguntungkan eksportir. 

“Dibanding AALI, LSIP, dan TAPG yang dominan di hulu, SMAR unggul karena memperoleh manfaat langsung dari volume biodiesel, bukan hanya harga CPO,” paparnya.

Sedangkan sentimen negatif berasal dari risiko normalisasi harga CPO, potensi gangguan produksi akibat El Niño, UU Reforma Agraria terkait kewajiban 20% lahan HGU yang masih menunggu PP turunan, kebijakan ekspor satu pintu.

“Selain itu, utang SMAR yang cukup besar dengan pinjaman jangka pendek dan panjang masing-masing sekitar Rp11 triliun per kuartal I 2026 juga menjadi tantangan,” tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News