KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan saham PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (
SMAR) tercatat melesat sejak awal tahun 2026. Harga saham SMAR parkir di Rp 9.000 per saham di akhir perdagangan Senin (5/10/2026). Dalam sebulan, sahamnya naik 34,83%. Sementara, kenaikannya tercatat 88,68% sejak awal tahun alias
year to date (YTD).
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta melihat, kenaikan saham SMAR terutama didorong oleh kombinasi penguatan harga CPO, ekspektasi positif terhadap implementasi B50, serta perbaikan kinerja fundamental perusahaan.
Baca Juga: Penjualan SBR015 Berpeluang Melonjak Jelang Penutupan Kebijakan B50 menjadi katalis penting karena meningkatkan permintaan domestik terhadap CPO untuk kebutuhan biodiesel. “Sementara harga CPO yang masih relatif tinggi turut menopang profitabilitas bisnis perkebunan SMAR,” ujarnya kepada Kontan, Senin (5/10/2026).\ Dari sisi fundamental, kenaikan harga saham tersebut juga cukup sejalan dengan kinerja perseroan. Per semester I 2026, SMAR membukukan pendapatan sekitar Rp43,73 triliun dan laba bersih Rp2,34 triliun. Hal ini menunjukkan adanya perbaikan margin dan profitabilitas. Meski demikian, setelah saham menguat hampir 79% sejak awal tahun, sebagian ekspektasi positif tersebut sudah tercermin dalam harga. Oleh karena itu, valuasi SMAR masih relatif menarik apabila pertumbuhan laba dapat dipertahankan.
Baca Juga: Penjualan SBR015 Setelah Sepekan Telah Laku 11% dari Target Rp 20 Triliun “Namun,
margin of safety investor sudah semakin terbatas, sehingga kenaikan berikutnya perlu ditopang oleh realisasi
earnings, bukan hanya sentimen,” ungkapnya. Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi mengatakan, kombinasi peningkatan harga CPO dan kebijakan B50 memang penyebab utama. “Bisnis SMAR terintegrasi dari kebun sampai kilang dan biodiesel. Sehingga, kebijakan B50 sejak Juli 2026 memberi volume tambahan di hilir, bukan hanya harga lebih baik di hulu,” ujarnya kepada Kontan, Senin (5/10/2026). Namun, ada faktor lain, yaitu
free float SMAR yang sangat kecil, sehingga harga mudah melonjak dengan volume transaksi yang tidak besar. “Kenaikan sebagian mencerminkan perbaikan laba, sebagian mencerminkan sedikitnya saham beredar,” paparnya. Research Associate Panin Sekuritas Panin Sekuritas Luthfi Novardiansyah menegaskan, kenaikan harga saham perlu dicermati karena perseroan masuk dalam daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC) sebesar 99,58%.
Baca Juga: OJK Jatuhkan Denda Rp 112,79 Miliar kepada 136 Pihak di Sektor Pasar Modal “Sehingga likuiditas perdagangan saham relatif terbatas,” ujarnya kepada Kontan, Senin (5/10/2026). Untuk sisa 2026 hingga 2027, prospek SMAR masih cenderung positif karena perseroan memiliki bisnis yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, sehingga tidak hanya bergantung pada penjualan CPO mentah. Nafan memandang, implementasi B50 berpotensi menjadi katalis struktural karena menciptakan tambahan permintaan CPO domestik. Sedangkan, bisnis produk konsumen, oleokimia, dan biodiesel dapat memberikan diversifikasi pendapatan. “Selain itu, apabila harga CPO tetap berada pada level yang relatif tinggi, potensi margin bisnis hulu SMAR juga tetap terjaga,” katanya Namun, terdapat sejumlah risiko yang perlu diperhatikan. Yaitu, potensi koreksi harga CPO apabila pasokan global meningkat, kenaikan biaya produksi, kondisi cuaca yang mempengaruhi produktivitas perkebunan, fluktuasi nilai tukar rupiah, kebijakan pungutan ekspor, serta persaingan penggunaan CPO antara kebutuhan biodiesel, ekspor, dan industri hilir. Sementara pada tahun 2027, tantangan utamanya adalah memastikan pertumbuhan produksi CPO mampu mengimbangi tambahan permintaan akibat B50 sehingga tidak menimbulkan tekanan terhadap ketersediaan bahan baku. Dibandingkan peers emiten sawit lainnya, Nafan melihat, SMAR memiliki keunggulan dari sisi integrasi vertikal dan diversifikasi bisnis, terutama karena eksposurnya terhadap
downstream dan biodiesel cukup besar. Karakteristik tersebut membuat kinerja SMAR berpotensi lebih resilien ketika harga CPO mengalami fluktuasi dibandingkan emiten yang lebih terkonsentrasi pada bisnis perkebunan dan penjualan CPO. “Namun, setelah kenaikan harga saham yang cukup signifikan sepanjang 2026, ruang apresiasi SMAR ke depan akan semakin ditentukan oleh kemampuan perseroan mempertahankan pertumbuhan laba dan margin,” katanya. Wafi melihat, kinerja SMAR di tahun 2026, tetapi akan lebih menantang di tahun 2027. Sentimen pendorong kinerja SMAR adalah kebijakan B50 sebagai permintaan struktural, kebijakan India menurunkan bea impor CPO, dan pelemahan rupiah yang menguntungkan eksportir. Sementara tantangan di tahun 2027 di antaranya adalah El Niño kuat yang berisiko menekan produksi TBS dengan jeda 6-18 bulan, kelancaran subsidi BPDPKS, regulasi deforestasi Eropa, serta biaya pupuk serta angkutan naik. “Risiko spesifik SMAR adalah terkait kewajiban
free float minimum 12,5%. Jika di bawah batas itu, pengendali harus melepas saham,” tuturnya. Dibanding
peers, Wafi melihat, kinerja SMAR lebih stabil tapi kenaikan kinerja akan lebih kecil. Emiten CPO lain seperti LSIP, AALI, DSNG, dan TAPG sebagai pemain hulu lebih sensitif terhadap harga CPO. “Sementara SMAR punya penyangga dari hilir yang harganya terikat formula,” tuturnya.
Luthfi menambahkan, katalis positif SMAR ke depan berasal dari implementasi mandatory B50, mengingat perseroan memiliki eksposur sekitar seperempat penjualan berasal dari biodiesel. “Namun, dampak El Nino yang menyebabkan kekeringan dan kebarakan berpotensi dapat menekan volume produksi mulai awal 2027, seiring adanya
lag terhadap dampak cuaca pada produktivitas perkebunan,” ungkapnya. Dengan kondisi tersebut, Nafan pun merekomendasikan
sell on strength untuk SMAR. Sementara, Wafi belum memberikan rekomendasi untuk SMAR. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News