KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham PT Singaraja Putra Tbk (SINI) masih melanjutkan pendakian setelah masuk radar Unusual Market Activity (UMA) Bursa Efek Indonesia (BEI). Berdasarkan data BEI, pada perdagangan Jumat (4/9/2026) hingga pukul 11.30 WIB, harga saham SINI berada di level Rp 14.950 per saham, naik 1,70% atau Rp 250 dibandingkan penutupan hari sebelumnya di Rp 14.700per saham. Reli tersebut melanjutkan lonjakan harga saham SINI pada perdagangan Kamis (3/9/2026) yang mencapai 15,29%. Dalam sebulan terakhir, harga saham SINI telah melejit 104,88%.
BEI memasukkan saham SINI ke dalam radar
Unusual Market Activity (UMA) pada 3 September 2026. Dalam keterangan tertulisnya, BEI menyebut tengah mencermati perkembangan pola transaksi saham SINI setelah terjadi peningkatan harga saham di luar kebiasaan.
Baca Juga: CUAN Negosiasi Akuisisi SINI, Incar Jadi Pengendali BEI juga meminta investor memperhatikan jawaban perusahaan atas permintaan konfirmasi bursa, mencermati kinerja dan keterbukaan informasi perusahaan, serta mengkaji kembali rencana
corporate action yang belum memperoleh persetujuan RUPS. Head of Research KGI Sekuritas Rovandi mengatakan, prospek fundamental SINI mengalami perubahan cukup signifikan setelah perseroan melakukan transformasi bisnis ke pertambangan batubara dan menyelesaikan
rights issue senilai Rp 3,61 triliun. Menurutnya, akuisisi KMS meningkatkan eksposur SINI terhadap bisnis pertambangan sekaligus memperbesar basis aset perusahaan. Dana hasil
rights issue juga memperkuat struktur permodalan dan memberikan ruang bagi pengembangan usaha. “Prospek bisnisnya positif, tetapi prospek saham dalam jangka pendek lebih bergantung pada kemampuan perusahaan membuktikan pertumbuhan laba operasional setelah transformasi tersebut,” kata Rovandi kepada Kontan, Jumat (4/9/2026). Meski fundamental perusahaan membaik, Rovandi menyebut kenaikan harga saham SINI lebih dari 100% dalam sebulan sudah sulit sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental. Pendapatan SINI pada semester I 2026 meningkat 109% secara tahunan menjadi Rp 389,2 miliar. Namun, laba bersih sebesar Rp 638,3 miliar banyak dipengaruhi
gain from bargain purchase sebesar Rp 662,7 miliar dari akuisisi KMS. Menurut Rovandi, kondisi tersebut membuat laba bersih SINI belum dapat sepenuhnya menjadi dasar untuk menilai kemampuan perusahaan menghasilkan laba secara berulang (
recurring earnings). “Fundamental SINI sedang berubah menjadi lebih baik, tetapi kenaikan harga lebih dari 100% dalam satu bulan sudah mengantisipasi ekspektasi pertumbuhan yang cukup agresif ke depan,” ujarnya.
Baca Juga: Usai Rights Issue, Singaraja (SINI) Kucurkan Pinjaman Rp 1,18 Triliun ke Anak Usaha Rekomendasi Saham SINI
Melihat kenaikan harga yang cukup cepat, Rovandi mengatakan, risiko dan potensi keuntungan (
risk-reward) saat ini sudah kurang menarik dibandingkan ketika harga berada di level yang lebih rendah. Secara teknikal, harga saham SINI juga sudah cukup jauh di atas
moving average dan diikuti lonjakan volume transaksi. Kondisi tersebut meningkatkan risiko aksi ambil untung (
profit taking). Untuk itu, ia memberikan rekomendasi h
old/speculative buy, bukan b
uy agresif pada level harga SINI saat ini. Rovandi menyebut level Rp 15.000 sebagai
resistance terdekat. Jika mampu menembus dan bertahan di atas level tersebut dengan dukungan volume yang kuat, saham SINI berpeluang menuju Rp 16.000 dan selanjutnya Rp 18.000. Sebaliknya, area Rp 14.000-Rp 14.200 menjadi
support psikologis terdekat. Sementara Rp 12.800-Rp 13.000 menjadi
support yang lebih penting. Adapun MA pendek pada grafik berada di sekitar Rp 11.822 dan menjadi
support teknikal yang lebih kuat apabila terjadi koreksi lebih dalam.
Baca Juga: Investor Asing dari Hong Kong Lepas 90 Juta Saham SINI, Raih Untung Rp 6,3 Miliar Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News