KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) resmi dilepas oleh pengendalinya, PT Investasi Sukses Bersama (ISB). Pengalihan sebagian kepemilikan saham ISB itu dilakukan kepada PT Sinergi Graha Kapital (SGK). Dalam transaksi tersebut, ISB melepas sebanyak 1.415.652.000 lembar saham atau setara 26,667% dari total modal ditempatkan dan disetor perseroan. Harga yang disepakati berada di level Rp2.870 per lembar saham, sehingga total nilai transaksi mencapai Rp 4.062.921.240.000 alias Rp 4,06 triliun.
Pasca transaksi, peta kepemilikan saham WIFI mengalami penyesuaian pada kedua belah pihak. ISB yang sebelumnya menggenggam 2.889.087.404 lembar saham atau setara 54,42%, kini mencatatkan kepemilikan sebesar 1.473.435.404 lembar saham atau setara 27,756% dari seluruh saham yang beredar. Dengan porsi tersebut, ISB tetap menjadi pemegang saham terbesar sekaligus pengendali perseroan. Di sisi pembeli, SGK yang sebelum transaksi belum memiliki saham perseroan, kini resmi menjadi pemegang saham dengan kepemilikan sebanyak 1.415.652.000 lembar saham atau setara 26,667% dari total saham WIFI.
Baca Juga: Saham Solusi Energi (WIFI) Berpindah Tangan Rp 4,06 Triliun, Siapa Pembeli Barunya? Direktur WIFI, Shannedy Ong menjelaskan, berdasarkan konfirmasi dari pemegang saham pengendali, transaksi ini dilakukan dalam rangka repositioning struktur permodalan grup usaha perseroan. "Transaksi ini merupakan penataan di tingkat pemegang saham dan tidak berdampak signifikan terhadap kegiatan operasional perseroan, yang tetap berjalan dengan lancar," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (20/10/2026). Shannedy menambahkan, karena transaksi dilakukan antar pihak yang terafiliasi dan SGK tidak berkedudukan sebagai pengendali, pengalihan saham ini tidak menyebabkan perubahan pengendalian atas perseroan. Masuknya SGK sebagai pemegang saham dengan porsi 26,67% dengan tujuan investasi jangka panjang dilihat perseroan mencerminkan keyakinan kelompok usaha terhadap prospek bisnis WIFI. “Penataan kepemilikan ini diharapkan memperkuat fondasi permodalan serta mendukung eksekusi rencana pengembangan bisnis perseroan ke depan, sekaligus menciptakan nilai tambah berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan dan pemegang saham publik,” ungkapnya. Sebagai informasi, dalam laporan kepemilikan sahamnya, ISB menyatakan tetap mempertahankan pengendalian atas WIFI. Transaksi tersebut dieksekusi melalui mekanisme Pasar Negosiasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin, 19 Oktober 2026. SGK menyatakan tujuan kepemilikan saham ini adalah untuk investasi jangka panjang.
Baca Juga: Dua Pengurus Solusi Sinergi (WIFI) Mengundurkan Diri, RUPSLB Digelar 21 Oktober 2026 Merujuk pada keterbukaan informasi yang disampaikan WIFI di laman BEI, transaksi ini dilakukan antara pihak-pihak yang memiliki hubungan afiliasi. Pengalihan ini merupakan penataan kepemilikan saham di internal kelompok usaha, bukan pelepasan saham kepada pihak luar maupun di pasar reguler. Alhasil, transaksi ini diakui tidak menimbulkan tekanan jual terhadap pergerakan saham perseroan. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta melihat, pelepasan 26,67% saham WIFI kepada SGK perlu dicermati dari sisi perubahan struktur kepemilikan dan potensi sinergi bisnis ke depan. Transaksi ini tidak secara langsung menambah modal perusahaan karena dana hasil penjualan diterima oleh pemegang saham penjual, bukan WIFI. Namun, masuknya pemegang saham baru berpotensi memberikan nilai tambah apabila diikuti dukungan pendanaan, sinergi strategis, dan percepatan ekspansi bisnis. Investor juga perlu mencermati arah kebijakan pemegang saham baru serta konsistensi manajemen dalam menjalankan strategi perusahaan. “Dampak transaksi terhadap kinerja WIFI akan sangat bergantung pada kontribusi nyata pemegang saham baru terhadap pengembangan bisnis dan profitabilitas perusahaan,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (20/10/2026). Kinerja WIFI di akhir 2026 hingga 2027 masih memiliki peluang pertumbuhan, terutama melalui ekspansi layanan Fixed Wireless Access (FWA) Internet Rakyat dan jaringan Fiber to the Home (FTTH). Nafan bilang, meningkatnya kebutuhan internet berkecepatan tinggi dengan harga terjangkau dapat menjadi katalis pertumbuhan pendapatan dan jumlah pelanggan. Namun, perusahaan juga perlu memastikan bahwa ekspansi jaringan dapat dikonversi menjadi pendapatan berulang dan peningkatan laba secara berkelanjutan. Risiko yang perlu diperhatikan meliputi tingginya belanja modal, biaya operasional, persaingan tarif internet, kebutuhan pendanaan, serta kemampuan perusahaan mencapai target penambahan pelanggan. “Pertumbuhan pendapatan yang tinggi belum tentu langsung diikuti pertumbuhan laba dengan laju yang sama,” katanya. Jika dibandingkan dengan emiten sejenis, WIFI dinilai memiliki karakteristik pertumbuhan yang lebih agresif melalui pengembangan jaringan broadband dan layanan internet rumah. Perusahaan dapat dibandingkan dengan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) serta bisnis broadband operator telekomunikasi besar. Sementara itu, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) dapat menjadi pembanding dari sisi infrastruktur digital, meskipun model bisnis keduanya lebih berorientasi pada penyewaan infrastruktur telekomunikasi.
Baca Juga: Surge (WIFI) Bidik 9.800 Site FWA pada 2027, Incar Monetisasi Ekspansi Jaringan “WIFI berpotensi menawarkan pertumbuhan yang menarik apabila ekspansi berjalan sesuai target, tetapi risiko eksekusinya juga relatif tinggi,” paparnya. Lebih lanjut, Nafan berpandangan, saham WIFI masih menarik untuk dicermati oleh investor yang memiliki orientasi pertumbuhan dan toleransi risiko relatif tinggi. Namun, keputusan investasi sebaiknya tidak hanya didasarkan pada masuknya pemegang saham baru. Investor juga harus mempertimbangkan valuasi saham, prospek laba, arus kas operasional, tingkat utang, dan kebutuhan belanja modal untuk ekspansi. Selain itu, perlu juga memperhatikan apakah pertumbuhan pelanggan mampu meningkatkan margin keuntungan WIFI.
Alhasil, Nafan belum memberikan rekomendasi dan target harga untuk WIFI. “Namun, strategi akumulasi bertahap dapat dipertimbangkan apabila kinerja fundamental terus membaik dan pergerakan harga mulai stabil, dengan tetap memperhatikan risiko volatilitas pasar,” katanya.
Baca Juga: Surge (WIFI) Kejar 3 Juta Pelanggan, Siapkan Capex Rp 7 Triliun Tahun Ini Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News