KONTAN.CO.ID - Para pelaku
short selling meningkatkan taruhan bahwa saham SpaceX masih berpotensi turun lebih dalam setelah harga saham perusahaan antariksa milik Elon Musk itu terkoreksi tajam dari level tertingginya pasca debut di bursa saham pada 12 Juni lalu. Data perusahaan analitik pasar Ortex Technologies yang dirilis Rabu (24/6/2026) menunjukkan,
short interest SpaceX, atau jumlah saham yang dipinjam dan dijual untuk bertaruh pada penurunan harga, telah naik menjadi 13% dari saham yang tersedia untuk diperdagangkan.
Baca Juga: Piala Dunia 2026 Banjir Penonton, FIFA Berpotensi Pecahkan Rekor Pendapatan Angka tersebut meningkat dari 8% pada sesi perdagangan sebelumnya. Co-founder Ortex Peter Hillerberg mengatakan, peningkatan posisi short terhadap SpaceX terjadi jauh lebih cepat dibandingkan perusahaan lain yang baru melantai di bursa. "
Short interest di SpaceX tumbuh sangat cepat untuk saham yang baru diperdagangkan selama beberapa pekan," ujarnya dilansir
Reuters. Minat
short seller meningkat setelah saham SpaceX merosot sekitar 30% dari rekor tertingginya di US$ 225,64 per saham yang dicapai beberapa hari setelah debut perdagangan. Koreksi tersebut terjadi di tengah aksi jual yang melanda pasar saham secara lebih luas. Menurut Hillerberg, lonjakan
short interest menjadi sinyal bahwa semakin banyak investor yang memperkirakan harga saham SpaceX masih akan mengalami penurunan signifikan.
Baca Juga: JP Morgan Bikin Ramalan Baru, Harga Brent Diprediksi Turun hingga US$ 78 per Barel "Lonjakan seperti ini menunjukkan semakin banyak trader yang mengambil posisi dengan harapan harga saham akan turun tajam," katanya. Dengan valuasi pasar yang mencapai sekitar US$ 2 triliun, SpaceX menjadi target menarik bagi investor yang ingin memperoleh keuntungan dari penurunan harga saham. Namun strategi tersebut juga dinilai berisiko mengingat tingginya minat investor ritel maupun institusi terhadap perusahaan milik Elon Musk tersebut. Selain itu, Musk dikenal memiliki sejarah panjang dalam menghadapi dan mengkritik para short seller yang bertaruh melawan perusahaan-perusahaannya. SpaceX belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait meningkatnya aktivitas short selling tersebut.
Baca Juga: Trump: Iran Pastikan Tak Akan Kenakan Tarif bagi Kapal yang Melintas Selat Hormuz Euforia Mereda Setelah euforia awal pasca pencatatan saham, perdagangan saham SpaceX mulai bergerak lebih rasional seiring investor berupaya mengantisipasi potensi risiko penurunan harga lebih lanjut. Meski minat
short selling meningkat, biaya peminjaman saham SpaceX untuk melakukan short selling masih tergolong rendah, sekitar 1%. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan 14% yang sempat tercatat ketika saham mulai diperdagangkan beberapa pekan lalu. Data Ortex juga menunjukkan tingkat utilisasi saham, yaitu persentase saham yang tersedia untuk dipinjam dan sudah digunakan oleh pelaku pasar, berada di kisaran 39%. Angka ini meningkat dibandingkan pertengahan 30% pada pekan lalu, tetapi masih menunjukkan ketersediaan saham yang cukup besar untuk dipinjam. Sebagai perbandingan, saham-saham anggota kelompok "Magnificent Seven" seperti Apple, Microsoft, NVIDIA, Alphabet, Amazon, Meta Platforms, dan Tesla umumnya hanya memiliki short interest sekitar 1% hingga 3% dari saham beredar.
Baca Juga: Manufaktur AS Mulai Lesu, PHK Tercepat Sejak Pandemi Risiko Short Squeeze Di tengah meningkatnya posisi short, SpaceX juga memiliki potensi memicu fenomena
short squeeze, yakni kondisi ketika harga saham justru melonjak sehingga memaksa para short seller membeli kembali saham untuk menutup posisi mereka. Hillerberg menjelaskan bahwa ukuran saham yang beredar di publik (free float) SpaceX masih relatif terbatas. Kondisi ini dapat memperbesar risiko lonjakan harga jika muncul sentimen positif yang mendorong permintaan saham. Saat ini jumlah saham yang diposisikan untuk short selling mencapai sekitar 83 juta lembar, sementara rata-rata volume perdagangan harian berada di kisaran 270 juta saham.
Jika banyak
short seller secara bersamaan membeli kembali saham untuk menutup posisi, aksi tersebut dapat mempercepat kenaikan harga secara signifikan.
Baca Juga: Negara-Negara Teluk Ragukan Kesepakatan Iran, Rubio Turun Tangan Beri Penjelasan "Pembelian paksa seperti itu dapat memperbesar reli harga jauh melampaui yang dibenarkan oleh fundamental perusahaan. Inilah dinamika klasik dari short squeeze," ujar Hillerberg. Meski tekanan jual terhadap saham SpaceX meningkat dalam jangka pendek, para analis menilai volatilitas saham perusahaan masih akan tinggi karena tarik-menarik antara investor yang optimistis terhadap prospek bisnis luar angkasa dan satelit milik Elon Musk dengan pelaku pasar yang menilai valuasinya sudah terlalu mahal.