KONTAN.CO.ID - Saham perusahaan antariksa dan kecerdasan buatan milik Elon Musk, SpaceX, kembali melemah pada perdagangan Selasa (23/6/2026), memperpanjang aksi jual selama tiga sesi berturut-turut yang telah menghapus lebih dari US$ 600 miliar nilai kapitalisasi pasarnya. Pelemahan ini juga terjadi di tengah tekanan yang melanda saham-saham teknologi global.
Baca Juga: Wabah Ebola Kongo Tembus Rekor, Lebih dari 1.000 Kasus dalam Sebulan Melansir
Reuters, saham SpaceX turun 1,9% menjadi US$ 151,6 pada perdagangan awal. Bahkan, saham sempat anjlok hingga 5% ke level US$ 146,88, lebih rendah dibandingkan harga pembukaannya saat debut di bursa. Meski demikian, harga saham SpaceX masih berada lebih dari 10% di atas harga penawaran umum perdana (IPO)-nya yang sebesar US$ 135 per saham. SpaceX sebelumnya mencatat reli spektakuler setelah IPO dan sempat melampaui nilai pasar Microsoft dan Amazon. Namun euforia tersebut mulai mereda. Saat ini, kapitalisasi pasar SpaceX tercatat sekitar US$ 1,99 triliun. Analis lintas aset sekaligus pendiri Coin Bureau, Nic Puckrin, mengingatkan investor agar tidak terburu-buru menganggap koreksi ini sebagai peluang beli. "Saya akan berhati-hati melihat kondisi ini sebagai kesempatan membeli kedua. Penurunan memang terlihat dramatis, tetapi volatilitas seperti ini bukan hal yang tidak biasa untuk saham dengan jumlah saham publik yang relatif kecil," ujarnya.
Baca Juga: Oman dan Iran Lanjutkan Pembahasan Pengelolaan Selat Hormuz Menurut analisis Reuters terhadap 50 IPO dengan valuasi terbesar dalam lima tahun terakhir, sekitar 75% di antaranya menghasilkan kinerja yang lebih rendah dibandingkan investasi pada indeks S&P 500 setelah melantai di bursa. Di tengah tekanan saham, SpaceX juga mengumumkan rencana penerbitan obligasi pada pekan ini. Saham teknologi ikut terseret Aksi jual tidak hanya terjadi pada SpaceX. Kontrak berjangka indeks Nasdaq 100 yang berisi saham-saham teknologi utama turun 3,1%, mengindikasikan potensi kehilangan nilai pasar lebih dari US$ 1 triliun jika pelemahan berlanjut.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Anjlok Lebih dari 1%, Dolar AS Sentuh Puncak Tertinggi Setahun Sektor semikonduktor yang selama ini menjadi salah satu penerima manfaat terbesar dari tren kecerdasan buatan (AI) juga mengalami tekanan. Saham Intel dan AMD masing-masing turun 7,2%. Produsen chip memori yang menjadi saham berkinerja terbaik di indeks S&P 500 sepanjang tahun ini juga terkena aksi ambil untung. Saham Micron Technology turun 8,4%, SanDisk merosot 9,1%, dan Western Digital melemah 7,5%. Tekanan serupa juga terjadi pada saham produsen chip memori di Korea Selatan. Enam dari tujuh anggota kelompok saham teknologi raksasa yang dikenal sebagai Magnificent Seven ikut berada di zona merah. Investor mulai mempertanyakan besarnya belanja modal yang terus digelontorkan perusahaan-perusahaan teknologi untuk mengembangkan infrastruktur AI. Perusahaan-perusahaan besar tersebut telah menginvestasikan miliaran dolar untuk memperluas kapasitas AI. Namun, pasar masih menunggu bukti yang lebih jelas bahwa investasi besar tersebut mampu menghasilkan keuntungan yang sepadan. Investment Manager Mattioli Woods Lauren Hyslop mengatakan, kombinasi prospek suku bunga yang lebih tinggi dan kebutuhan pendanaan yang sangat besar untuk pengembangan AI menjadi faktor utama yang menekan saham teknologi. "Investor mulai mempertimbangkan kembali besarnya kebutuhan modal untuk fase berikutnya dari pengembangan AI, terutama di tengah lingkungan suku bunga yang lebih menantang," katanya.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Anjlok Lebih dari 1%, Dolar AS Sentuh Puncak Tertinggi Setahun Pada perdagangan pra-pasar, saham Alphabet turun 2,1%, Amazon melemah 0,9%, Tesla turun 2,7%, Nvidia kehilangan 2,7%, dan Apple terkoreksi 0,9%.
Jika penurunan tersebut bertahan hingga penutupan perdagangan, kelima perusahaan itu berpotensi kehilangan nilai pasar gabungan sekitar US$ 331 miliar. Selain kekhawatiran terkait AI, saham teknologi juga tertekan oleh meningkatnya ekspektasi pasar bahwa bank sentral Amerika Serikat (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga di bawah kepemimpinan Ketua The Fed Kevin Warsh. Sejumlah data ekonomi terbaru yang menunjukkan ketahanan ekonomi AS turut memperkuat spekulasi tersebut. Di tengah pelemahan sektor teknologi, Microsoft menjadi pengecualian dengan kenaikan 1,3%, sejalan dengan penguatan saham perusahaan perangkat lunak seperti Workday dan Salesforce.