Saham SpaceX Turun di Bawah Harga IPO, Investor Waspada



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham SpaceX milik Elon Musk sempat merosot di bawah harga penawaran umum perdana (IPO) sebesar US$ 135 per saham.

Kondisi ini menjadi sinyal yang perlu dicermati investor, terutama karena perusahaan internet satelit dan roket tersebut berpotensi menghadapi volatilitas yang lebih tinggi pada awal Agustus mendatang, ketika jumlah saham yang dapat diperdagangkan di Nasdaq diperkirakan meningkat signifikan.

Pada perdagangan Rabu (15/7/2026), saham SpaceX sempat menyentuh level terendah US$ 132,15 sebelum akhirnya ditutup di posisi US$ 135,27. Sejak mencatatkan rekor penutupan beberapa hari setelah IPO yang berhasil menghimpun dana sebesar US$ 75 miliar pada 11 Juni lalu, harga saham perusahaan telah terkoreksi sekitar 33%.


Meski mengalami penurunan tajam, SpaceX masih menjadi salah satu perusahaan paling bernilai di Wall Street dengan kapitalisasi pasar sekitar US$ 1,8 triliun.

Sebagai IPO terbesar dalam sejarah Amerika Serikat, SpaceX hanya melepas kurang dari 5% sahamnya untuk diperdagangkan di bursa. Keterbatasan pasokan saham tersebut memicu persaingan investor dan sempat mendorong valuasi perusahaan mencapai US$ 2,1 triliun pada hari pertama pencatatan di Nasdaq.

Baca Juga: Nikkei Ditutup Melemah 2,8%, Saham Chip Kompak Turun Meski TSMC Cetak Kinerja Moncer

Namun, pembatasan penjualan saham atau lockup bagi orang dalam perusahaan akan mulai berakhir dalam beberapa bulan ke depan. Berakhirnya masa lockup ini berpotensi membanjiri pasar dengan tambahan saham baru.

"Kami menilai pada level harga saat ini, relatif aman untuk setidaknya terlibat dari perspektif perdagangan jangka pendek," ujar Chief Executive Officer Infrastructure Capital Advisors, Jay Hatfield, di New York.

"Kami tidak akan memberikan porsi investasi yang terlalu besar karena masa lockup akan segera dimulai," tambahnya.

Valuasi Masih Tergolong Mahal

Setelah koreksi harga, saham SpaceX masih diperdagangkan pada valuasi sekitar 49 kali proyeksi pendapatan perusahaan. Angka tersebut menjadikannya salah satu saham dengan valuasi paling tinggi di Wall Street berdasarkan rasio pendapatan.

Sebagai perbandingan, saham Tesla (TSLA.O), perusahaan lain yang juga dipimpin Elon Musk, saat ini diperdagangkan dengan rasio valuasi sekitar 15 kali pendapatan.

Analis dan investor yang optimistis menilai SpaceX layak memperoleh premi valuasi tinggi berkat bisnis internet satelit Starlink yang menguntungkan, bisnis peluncuran roket untuk pemerintah, serta rekam jejak Elon Musk yang mampu mempertahankan loyalitas investor. Hal itu terjadi meskipun perusahaan mencatatkan rugi bersih hampir US$ 5 miliar pada tahun lalu.

Berdasarkan data LSEG, dari 32 analis yang memberikan rekomendasi terhadap saham SpaceX, sebanyak 27 analis menyarankan beli, hanya satu analis yang merekomendasikan jual, sementara empat lainnya bersikap netral.

Analisis Reuters terhadap 50 IPO besar di Amerika Serikat sejak 2010 menunjukkan bahwa perusahaan yang harga sahamnya turun di bawah harga IPO dalam dua bulan pertama setelah melantai di bursa cenderung memiliki kinerja lebih rendah dibandingkan perusahaan yang mampu bertahan di atas harga IPO, meskipun sebagian besar tetap membukukan kenaikan.

Sebanyak 21 dari 50 perusahaan tersebut sempat diperdagangkan di bawah harga IPO dalam dua bulan pertama. Saham-saham tersebut mencatat kenaikan median sebesar 61% sejak debut di bursa. Sebaliknya, 29 perusahaan lainnya yang mampu bertahan di atas harga IPO membukukan kenaikan median sebesar 112%.

Baca Juga: Laba Melonjak 77%, TSMC Bakal Tambah Investasi US$ 100 Miliar di AS

Masa Lockup Mulai Berakhir

Serangkaian pembatasan penjualan saham oleh orang dalam perusahaan, karyawan, dan investor awal akan berakhir secara bertahap dalam beberapa bulan mendatang.

Pada tahap pertama, karyawan dan sebagian investor awal akan diizinkan menjual 911,5 juta saham pada hari perdagangan kedua setelah perusahaan merilis laporan keuangan kuartalan pertamanya.

Hingga saat ini, SpaceX belum mengumumkan jadwal laporan keuangan perdananya. Namun, para analis memperkirakan laporan tersebut akan dirilis pada awal Agustus.

Dengan harga saham saat ini, nilai saham yang berpotensi dilepas ke pasar mencapai sekitar US$ 123 miliar, melampaui nilai saham senilai US$ 86 miliar yang saat ini tersedia untuk diperdagangkan di Nasdaq.

Selain itu, sebanyak 455,8 juta saham tambahan juga dapat dijual apabila harga saham SpaceX bertahan di atas US$ 175,50 selama setidaknya lima dari sepuluh hari perdagangan berturut-turut hingga tanggal laporan keuangan berikutnya.

Secara keseluruhan, berakhirnya pembatasan hingga 8 Desember mendatang akan meningkatkan jumlah saham SpaceX yang berpotensi diperdagangkan menjadi sekitar 40% dari total saham perusahaan. Sementara itu, 60% saham sisanya, termasuk kepemilikan Elon Musk, masih akan tetap terkunci hingga pertengahan 2027.