Saham tambang dan properti masih loyo



JAKARTA. Sepanjang tahun ini, indeks LQ45 sudah tumbuh 8,84% year-to-date (ytd). Angka ini mengekor pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 8,85% (ytd).

Tapi, sejumlah saham di sektor pertambangan dan properti yang menjadi anggota LQ45 cenderung menyusut. Bahkan, saham di dua sektor itu mendominasi daftar saham dengan performa terburuk sepanjang tahun ini.

Dari 10 saham LQ45 yang berkinerja terburuk, saham PT PP Properti Tbk (PPRO) menduduki posisi pertama. Saham ini mencatatkan return negatif 36,43%. Saham PPRO, Jumat (21/7) lalu ditutup di Rp 216 per saham.


Dari pertambangan, ada PT Elnusa Tbk (ELSA), yang sudah longsor 33,33% (ytd) ke posisi Rp 280 per saham (lihat tabel). Wajar jika dua sektor itu mencetak kinerja buruk. Harga komoditas global kembali masuk fase penurunan setelah sempat naik di awal tahun. "Selama semester I permintaan properti juga masih lambat," ujar analis OSO Sekuritas Riska Afriani pada KONTAN, Jumat (21/7) lalu.

Hal ini ikut dipicu melemahnya daya beli. Kondisi ini tercermin dari marketing sales beberapa pemain properti selama enam bulan pertama tahun ini. Rata-rata marketing sales cuma sekitar 37% dari target 2017.

Bahkan, dari lima pengembang yang telah mengumumkan pencapaiannya, sebagian besar mencetak penurunan marketing sales dibanding paruh pertama 2016. Hanya satu emiten yang mencatatkan pertumbuhan marketing sales, yakni PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) sebesar 5% menjadi Rp 1,2 triliun.

Analis Binaartha Parama Sekuritas Muhammad Nafan Aji menyebut, kinerja saham dipengaruhi fundamental emiten serta sentimen makro. Contoh, saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) turun 22,34% (ytd) karena sentimen global. Fundamental emiten ini sejatinya apik. Bahkan, prospek ke depannya masih cerah.

Analis Indo Premier Sekuritas Frederick Daniel, menilai harga nikel dalam jangka panjang akan bertahan di US$ 11.000 per ton. Ia memasang buy INCO dengan target Rp 2.800 per saham.

Nafan menambahkan, saham-saham yang masuk indeks LQ45 masih menarik. Kinerjanya secara umum terbilang kuat. Likuiditas sahamnya juga oke. Dia merekomendasikan buy ANTM dengan target Rp 850 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Dupla Kartini