Saham Teknologi Jadi Jajaran Market Cap Terbesar di BEI, Intip Rekomendasi DCII



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT DCI Indonesia Tbk (DCII) menjadi satu-satunya saham teknologi yang mampu mempertahankan posisinya di jajaran 10 besar sebagai saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI). 

Pada akhir perdagangan Senin (12/1/2026), DCII ditutup menguat 0,19% ke posisi Rp 218.525 per saham. Kapitalisasi pasar DCII mencapai Rp 520 triliun, yang menjadikan saham kongsi Toto Sugiri dengan Grup Salim ini berada di posisi ke delapan. 

Pada akhir 2025, kapitalisasi pasar DCII mencapai Rp 477 triliun atau setara dengan 3,01% dari total market cap BEI yang Rp 15.849 triliun. Angka tersebut membuat DCII berada di posisi ke tujuh. 


Baca Juga: Petrosea (PTRO) Digadang Masuk MSCI, Analis Pasang Target Harga Segini

Sepanjang 2025, saham DCII sudah melesat 375,06%. Seiring dengan kenaikan harga saham dan kapitalisasi pasar, DCII menjadi salah satu movers alias penggerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 200,49 poin. 

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mencermati, kenaikan harga saham DCII didorong oleh kombinasi antara kinerja fundamental DCII yang menunjukkan tren pertumbuhan dan kondisi ekonomi. 

“Ada kombinasi antara kinerja fundamental yang menunjukkan tren pertumbuhan dengan kebutuhan data center yang tinggi,” jelasnya kepada Kontan, Senin (12/1/2026). 

Melansir laporan keuangan per 30 September 2025, DCII membukukan pendapatan sebesar Rp 1,92 triliun. Ini melonjak 74,39% secara tahunan dari Rp 1,02 triliun per 30 September 2024. 

Dari sisi bottom line, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk DCII meningkat 83,53% yoy menjadi Rp 824,98 miliar per 30 September 2025 dari Rp 449,48 miliar. 

Meski kinerja bertumbuh dan kapitalisasi pasar yang besar, Nafan menyoroti pergerakan saham DCII tidak likuid. Apalagi kalau dibandingkan dengan saham big caps lainnya seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). 

“Saham DCII terlihat tidak likuid sehingga rekomendasi yang tepat adalah not rated,” kata Nafan. 

Baca Juga: Simak Prospek dan Rekomendasi Saham Emiten Emas di Tengah Penguatan Harga Emas

Selanjutnya: Impor Solar Dihentikan, Menteri Bahlil Wajibkan SPBU Swasta Beli dari Pertamina

Menarik Dibaca: Wisatawan Mancanegara yang Gunakan Layanan KA Jarak Jauh Sepanjang 2025 Naik 3,7%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News