Saham teknologi milik Grup Kresna kompak menguat, simak rekomendasinya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks IDX Technology tercatat telah menguat hingga 199,47% sejak awal tahun hingga perdagangan Jumat (7/5). Beberapa saham teknologi milik Grup Kresna juga tercatat naik tinggi sejalan dengan IDX Technology.

Sebut saja PT Telefast Indonesia Tbk (TFAS) yang telah menguat 1511,11% sejak awal tahun hingga Jumat (7/5) atau secara year-to-date (ytd) ke level Rp 2.900, kemudian PT Digital Mediatama Maxima Tbk (DMMX) yang menguat 228,39% ke level Rp 775 dan  PT M Cash Integrasi Tbk (MCAS) yang menguat 37,22% ytd ke level Rp 5.475.

Selanjutnya, PT NFC Indonesia Tbk (NFCX) yang menguat 26,84% ytd ke level Rp 2.930 dan PT Distribusi Voucher Nusantara Tbk (DIVA) yang menguat 32,78% ytd ke level Rp 3.200. 


Secara urut, kapitalisasi pasar kelimanya adalah TFAS Rp 4,83 triliun, DMMX Rp 5,96 triliun, MCAS Rp 4,75 triliun, NFCX Rp 1,95 triliun, dan DIVA Rp 2,29 triliun. Adapun total kapitalisasi pasar dari kelimanya sebesar Rp 19,78 triliun dari total kapitalisasi pasar IHSG yang mencapai Rp 7.018 triliun. 

Baca Juga: Berikut strategi MAMI menempatkan dua produk reksadana saham masuk 10 besar terbaik

Analis Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas mengatakan, kenaikan harga saham kelima emiten teknologi ini karena spekulasi pasar pada prospek emiten yang berhubungan dengan teknologi. Mengingat kondisi saat ini mulai memiliki ketergantungan yang tinggi pada teknologi. 

"Secara prospek sektornya bagus karena berhubungan dengan teknologi yang saat ini khususnya masyarakat Indonesia belum sepenuhnya menggunakan teknologi atau seperti contoh belum banyak menggunakan pembayaran non-tunai," kata Sukarno, Minggu (9/5). 

Lebih lanjut, Sukarno menjelaskan kenaikan harga saham DMMX didukung oleh sentimen aksi pembelian besar dari NFCX. Ditambah prospek DMMX yang bagus dan rencana ekspansi di pasar internasional membuat minat pasar menjadi tinggi. 

Baca Juga: Ini nasihat Warren Buffett kepada para investor pemula

Untuk prospek harga, karena sudah naik tinggi menjadi rawan koreksi dan bisa turun. Secara valuasi TFAS, MCAS dinilai sudah mahal karena price book value (PBV) terlalu tinggi. Sehingga Sukarno merekomendasikan untuk menghindari kedua saham ini. Adapun PBV TFAS tercatat sebesar 30,3 kali, sedangkan MCAS 12,34 kali. 

Dia juga menilai PBV saham DMMX tinggi, tercatat 8,8 kali. Namun tidak menutup kemungkinan tetap bisa naik, sehingga investor direkomendasikan untuk menunggu harga terkoreksi dulu dan menjadi lebih murah. 

"DMMX memiliki potensi besar karena memiliki rasio likuiditas yang besar dan rasio utang yang sangat kecil. Kelebihan memiliki rasio cash yang tinggi dapat memaksimalkan potensi ke depannya. Tinggal kita menunggu seberapa besar kemampuan perusahaan dalam menciptakan laba nantinya," jelas Sukarno. 

Untuk NFCX direkomendasikan trading buy dengan target harga Rp 3.180 per saham. Secara valuasi PBV saham ini masih rendah dibandingkan yang lainnya yakni 3,92 kali. NFCX juga dinilai memiliki rasio likuiditas yang besar, sehingga masih ada peluang kembali menguat.

Baca Juga: Media Sosial dan Kripto Jadi Alasan SEC untuk Menambah Aturan Perlindungan Investor

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati