Saham Tel Aviv Cetak Rekor Tertinggi, Shekel Menguat Pasca Serangan AS-Israel ke Iran



KONTAN.CO.ID - JERUSALEM/LONDON. Saham-saham di Tel Aviv mencatat kenaikan tajam ke level tertinggi sepanjang masa pada perdagangan Senin, seiring menguatnya shekel terhadap dolar AS, menyusul dimulainya serangan AS-Israel ke Iran pada Sabtu lalu.

Meski demikian, indikator volatilitas pasar valuta asing yang mengukur potensi fluktuasi shekel di masa depan mencapai level tertinggi sejak konflik besar terakhir antara Israel dan Iran pada Juni lalu. Beberapa analis pun mempertanyakan apakah kekuatan pasar spot saat ini dapat bertahan dalam jangka panjang.

Indeks unggulan Tel Aviv 35 (.TA35) dan indeks yang lebih luas TA-125 (.TA125) sama-sama naik sekitar 4,5%, bahkan sempat melambung hingga 5% lebih tinggi di awal perdagangan. Kenaikan terbesar dicatat pada saham-saham sektor energi, keuangan, dan pertahanan.


Sementara itu, obligasi pemerintah Israel mencatat penurunan tipis, shekel melonjak 1,6% terhadap dolar AS, mendekati level tertinggi 30 tahun yang tercatat bulan lalu.

Baca Juga: Teheran Mencekam, Ratusan Warga Iran Pilih Lari ke Turki

Menurut Gali Ingber, Kepala Studi Keuangan di College of Management, Tel Aviv, "Investor saat ini hanya menyoroti skenario paling optimistis: kampanye militer relatif singkat, dengan keberhasilan besar, bahkan mungkin termasuk runtuhnya rezim di Iran."

Ingber menambahkan bahwa dalam skenario terbaik, premi risiko Israel bisa turun signifikan, memungkinkan pertumbuhan ekonomi, penurunan suku bunga lebih lanjut, dan pengurangan defisit anggaran secara bertahap.

Minggu lalu, kekhawatiran terhadap konflik dengan Iran mendorong Bank of Israel untuk mempertahankan suku bunga setelah dua kali penurunan berturut-turut, meski tekanan inflasi mulai mereda.

Sergey Dergachev, manajer portofolio di Union Investment Privatfonds, mengatakan bahwa konflik, termasuk serangan rudal Iran ke Israel, tidak diharapkan "secara signifikan mempengaruhi kelayakan kredit bank-bank Israel dan spread mereka secara besar."

Baca Juga: Imbal Hasil Obligasi AS Melonjak, Lonjakan Harga Minyak Picu Kekhawatiran Inflasi

Penguatan shekel memperpanjang apresiasinya hampir 20% terhadap dolar AS selama setahun terakhir, meski dolar AS menguat terhadap sebagian besar mata uang dunia pada hari yang sama.

JPMorgan menyatakan, "Shekel berada dalam posisi relatif lebih kuat dibandingkan negara pengimpor minyak, tetapi kami tidak percaya pelemahan dolar-shekel saat ini akan bertahan."

Bank investasi tersebut menambahkan bahwa risiko langsung bagi Israel terbatas oleh kemampuan militer Iran yang terbatas, namun risiko tetap ada. "Kami percaya reli shekel saat ini meremehkan potensi keterlibatan lebih lama di Iran dan Lebanon, yang bisa berdampak pada posisi fiskal, pasar tenaga kerja, dan variabel makro lainnya. Oleh karena itu, kami tetap berada di luar pasar, tanpa mengejar level baik ke arah naik maupun turun."