Saham Telkom tertekan kendati tak ada masalah fundamental



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus mencetak rekor all time high. Tak sedikit investor yang melepas sebagian saham blue chips untuk masuk ke saham sektor pertambangan, yang sejak awal tahun menjadi pendorong rekor IHSG.

Seiring dengan pergerakan IHSG, peta saham dengan kapitalisasi pasar tertinggi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pun bergeser. Satu saham menarik ditilik, yakni PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Kapitalisasi pasar (market cap) TLKM kemarin melorot ke posisi lima dengan nilai Rp 412,27 triliun. Padahal awal tahun 2017, market cap TLKM masih di posisi kedua, yakni Rp 393,12 triliun.

Posisi TLKM saat ini digeser saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Hal ini tak lepas dari 'prestasi' TLKM yang menjadi pemberat bagi laju IHSG. Sejak awal tahun ini, saham TLKM telah mengurangi poin indeks sebesar 41,7 poin, setelah harga sahamnya turun hampir 11%.


Analis First Asia Capital David Sutyanto menilai, banyak investor melepas saham TLKM lantaran sentimen Satelit Telkom 1 yang belum sepenuhnya hilang, meski insiden anomali satelit sudah terjadi sejak Agustus tahun lalu.

Pengaruh negatif atas anomali itu akan tercermin di pembukuan TLKM 2017. Meski belum bisa mengukur seberapa besar pengaruhnya, David menilai hal ini penting. "Ini tecermin dari net sell asing, karena mereka melihat sentimen itu krusial," ujar dia kepada KONTAN, Rabu (24/1).

Mengutip data RTI, net sell asing atas saham TLKM memang tergolong besar. Per Rabu, asing tercatat net sell Rp 246,49 miliar di seluruh pasar. Alhasil sejak awal tahun, saham TLKM telah mencatatkan net sell asing Rp 1,39 triliun di semua pasar.

Kamis (25/1), net sell asing masih berlanjut, yakni Rp 160,58 miliar. Harga TLKM hingga penutupan sore melemah 0,25% ke Rp 3.970 per saham. Ini lebih rendah dibandingkan penurunan sehari sebelumnya sebesar 2,6% ke level Rp 3.980 per saham.

Hingga kini belum ada sentimen positif yang mampu mengalihkan perhatian pasar ke saham TLKM. "Waktu emiten lain berjalan, TLKM berlari. Sekarang, emiten lain berlari, TLKM sedang mengambil napas," jelas David.

Meski demikian, dia memastikan tak ada yang salah dengan fundamental TLKM. Valuasinya malah jauh lebih menarik, dengan price earning ratio (PER) 16,75 kali. 

Bandingkan dengan Indosat (ISAT) dan XL Axiata (EXCL) yang memiliki PER masing-masing 21,18 kali dan 100 kali. "Kami masih buy semua emiten BUMN, untuk TLKM target harga Rp 4.400 per saham," ujar David.

Analis NH Korindo Sekuritas Arnold Sampeliling menggarisbawahi kemampuan TLKM menjaga margin. Sepanjang tahun lalu, TLKM gencar berpromosi, yang tecermin dari kenaikan biaya marketing 16,9% jadi Rp 8,7 triliun per kuartal III-2017. 

Tapi pertumbuhan pendapatan mampu menutupi kenaikan biaya. "Sehingga EBITDA margin dan margin laba bersih di kuartal III masih terjaga di 50,2% dan 16,8%, lebih baik dari kuartal II," tulis Arnold dalam riset 5 Januari 2018.

Arnold merekomendasikan buy TLKM dengan target harga Rp 5.450 per saham. Target harga itu mencerminkan PER sebesar 19,2 kali.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati