KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah saham Indonesia yang terdampak
rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) berpotensi menghadapi tekanan jual hingga akhir Agustus 2026. Perubahan komposisi indeks tersebut akan efektif setelah penutupan perdagangan 31 Agustus 2026. Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan,
rebalancing MSCI menjadi salah satu katalis yang perlu diperhatikan investor pada perdagangan pekan ini. Tekanan jual berpotensi meningkat menjelang tanggal efektif karena investor institusi dan dana yang menjadikan MSCI sebagai acuan perlu menyesuaikan portofolionya. "Tekanan biasanya lebih terasa pada saham yang memiliki bobot indeks cukup besar, likuiditas terbatas, atau basis investor pasif yang cukup dominan," ujarnya kepada Kontan, Kamis (27/8/2026).
Baca Juga: Musim Gajian Bisa Mendongkrak Minat Investor untuk Investasi SR025 Dalam
rebalancing kali ini, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (
GOTO) keluar dari MSCI Global Standard. Sementara PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (
CPIN) turun dari MSCI Global Standard ke MSCI Global Small Cap. Adapun saham PT Bank Jago Tbk (
ARTO), PT Bukalapak.com Tbk (
BUKA), PT Surya Esa Perkasa Tbk (
ESSA), PT Medikaloka Hermina Tbk (
HEAL), PT Raharja Energi Cepu Tbk (
RATU), PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (
SMGR), dan PT Transcoal Pacific Tbk (
TCPI) keluar dari MSCI Global Small Cap. Menurut Hendra, tekanan jual pada saham-saham tersebut sebenarnya sudah mulai diantisipasi pasar sejak pengumuman MSCI pada 12 Agustus 2026. Dengan demikian, tekanan jual masih berpotensi terjadi hingga akhir bulan, tetapi tidak serta-merta membuat seluruh saham yang terdampak terkoreksi tajam setiap hari. "Pada pekan ini tekanan jual tetap berpotensi muncul, tetapi tidak otomatis berarti seluruh saham akan mengalami penurunan tajam setiap hari," jelasnya. Untuk GOTO, Hendra melihat ruang penurunan saham relatif terbatas karena masih bertahan di level Rp50 per saham. Menurutnya, GOTO lebih tepat berada dalam strategi
wait and see sembari menunggu katalis fundamental baru.
Baca Juga: Proyeksi Rupiah Jumat (28/8): Pasar Cermati The Fed dan Geopolitik Timur Tengah "Selama belum ada katalis fundamental baru yang kuat, saya belum melihat alasan yang cukup untuk agresif melakukan akumulasi," katanya. Sementara itu, Hendra melihat peluang
speculative buy pada SMGR. Tekanan akibat keluarnya saham tersebut dari MSCI Small Cap dinilai dapat menjadi peluang bagi investor dengan horizon investasi lebih panjang, terutama jika mempertimbangkan prospek pemulihan sektor semen. Ia menargetkan harga SMGR di sekitar Rp1.640 per saham. Namun, investor tetap perlu disiplin terhadap risiko dan tidak mengejar harga ketika terjadi kenaikan secara cepat. Untuk TCPI, Hendra menyarankan strategi
sell on strength (SOS) dengan target penurunan sekitar Rp2.200 per saham. Tekanan dapat berlanjut apabila likuiditas dan minat beli tidak mampu mengimbangi potensi aksi jual setelah kehilangan status MSCI. Sementara itu, RATU masih memiliki peluang
speculative buy dengan target Rp4.500 per saham. Hendra menilai prospek bisnis energi dapat menjadi penopang sentimen saham, meski volatilitas diperkirakan tinggi menjelang dan setelah tanggal efektif
rebalancing. Sebaliknya, BUKA dinilai lebih berisiko terkoreksi sehingga strategi SOS menjadi pilihan dengan target sekitar Rp 98 per saham. Penghapusan dari MSCI berpotensi mengurangi dukungan dari investor berbasis indeks apabila belum terdapat katalis fundamental baru.
Baca Juga: IHSG Melonjak 1,81%, Investor Kembali Optimistis, Simak Prediksi Besok Jumat (28/8) Untuk ARTO, Hendra juga merekomendasikan SOS dengan target Rp905 per saham. Menurutnya, investor akan kembali mencermati pertumbuhan kredit, kualitas aset, serta kemampuan bank mencetak laba secara konsisten setelah tekanan akibat
rebalancing mereda. "Selama faktor fundamental tersebut belum memberikan dorongan yang kuat, risiko tekanan harga masih terbuka," ujarnya. ESSA juga masuk dalam strategi SOS dengan target sekitar Rp575 per saham. Pergerakan saham akan turut dipengaruhi prospek bisnis energi dan petrokimia serta sentimen harga komoditas.
Sementara itu, HEAL direkomendasikan SOS dengan target sekitar Rp600 per saham. Hendra menilai bisnis rumah sakit masih memiliki prospek jangka panjang, tetapi keluarnya HEAL dari MSCI Small Cap dapat mengurangi dukungan teknikal dari investor pasif. Hendra menegaskan,
rebalancing MSCI tidak serta-merta mencerminkan memburuknya fundamental emiten. Perubahan indeks terutama berdampak pada arus dana dan pergerakan teknikal saham dalam jangka pendek. "
Rebalancing MSCI pada dasarnya menciptakan tekanan teknikal dan perubahan arus dana, bukan otomatis menjadi vonis bahwa prospek bisnis emiten memburuk," pungkasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News