KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Transformasi bisnis PT TBS Energi Utama Tbk (
TOBA) menuju sektor energi hijau mulai menunjukkan perkembangan positif, terutama melalui bisnis pengelolaan limbah dan kendaraan listrik. Namun, perbaikan operasional tersebut belum sepenuhnya tercermin pada laba bersih, sehingga prospek pemulihan saham TOBA masih bergantung pada kemampuan perusahaan memperkuat profitabilitas dan arus kas hingga 2027. Pada perdagangan Senin (12/10/2026), saham TOBA ditutup di level Rp 438 per saham. Harga tersebut terkoreksi 42,37% secara year to date (YtD) dan turun 19,63% dalam sebulan terakhir. Tekanan berlanjut pada perdagangan Selasa (13/10/2026) pukul 11.57 WIB, ketika saham TOBA melemah 0,91% ke Rp 434 per saham.
Research Analyst Bumiputera Sekuritas Muhammad Thoriq Fadilla menilai, pelemahan saham TOBA dipengaruhi kondisi pasar yang kurang kondusif serta kinerja fundamental perusahaan yang belum sepenuhnya pulih. Pada Senin (12/10/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 2,59% ke level 5.936,15. Seluruh sektor mengalami pelemahan, dengan sektor energi turun 5,88%. Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, kekhawatiran terhadap inflasi Amerika Serikat akibat tingginya harga minyak, serta sentimen evaluasi indeks MSCI turut mendorong investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Baca Juga: Rights Issue Anabatic (ATIC) Rampung , Siapkan Rp 280,37 Miliar untuk bayar Obligasi "Tekanan pada saham TOBA saat ini tidak terlepas dari kondisi pasar yang sedang kurang kondusif, di samping kinerja fundamental perusahaan yang belum sepenuhnya pulih," ujar Thoriq kepada Kontan, Selasa (13/10/2026). Dari sisi keuangan, TOBA masih membukukan rugi bersih sebesar US$ 19,65 juta pada semester I-2026. Meski demikian, kerugian tersebut menyusut sekitar 83% dibandingkan dengan rugi bersih US$ 115,61 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Perusahaan juga mencatatkan peningkatan laba kotor sebesar 102,9% menjadi US$ 28,23 juta. Thoriq menilai, perbaikan kinerja tersebut belum cukup untuk sepenuhnya memulihkan kepercayaan pasar. Penyusutan kerugian juga dipengaruhi oleh tidak berulangnya kerugian divestasi yang terjadi pada 2025, sementara beban pendanaan dan depresiasi masih membatasi profitabilitas perusahaan. Senada, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang menilai investor masih menunggu bukti bahwa transformasi bisnis TOBA dapat menghasilkan laba secara berkelanjutan. Pada semester I-2026, pendapatan TOBA tumbuh tipis 0,47% secara tahunan menjadi US$ 173,02 juta. Namun, perusahaan masih mencatatkan rugi bersih. "Perbaikan kinerja sudah terlihat, tetapi pasar masih menunggu bukti bahwa perusahaan mampu mencetak laba secara berkelanjutan," kata Alrich. Menurut Alrich, kebutuhan modal dan biaya pendanaan ekspansi juga menjadi perhatian investor. Perbaikan kinerja perlu diikuti penguatan arus kas dan pengendalian biaya operasional agar ekspansi tidak terus membebani kondisi keuangan perusahaan.
Bisnis Hijau TOBA Mulai Tunjukkan Pertumbuhan
Di tengah tekanan harga saham, Thoriq menilai ekspansi TOBA ke bisnis energi hijau dan berkelanjutan masih menarik untuk jangka panjang. Kontribusi bisnis di luar batubara mulai terlihat, terutama dari segmen pengelolaan limbah dan kendaraan listrik. Pada semester I-2026, pendapatan bisnis pengelolaan limbah TOBA tumbuh 77,8% secara tahunan menjadi US$ 105,9 juta. Segmen ini menyumbang 61,2% terhadap pendapatan dan 92% terhadap EBITDA konsolidasi perusahaan. Sementara itu, bisnis kendaraan listrik melalui Electrum mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 184% menjadi US$ 9,1 juta. EBITDA segmen tersebut juga mulai berbalik positif sebesar US$ 0,5 juta. "Perkembangan ini menunjukkan bahwa transformasi bisnis TOBA mulai memberikan hasil secara operasional, meskipun perusahaan masih membutuhkan waktu untuk mencapai profitabilitas bersih yang berkelanjutan," ujar Thoriq.
Baca Juga: Mayoritas Saham Big Banks Melemah pada Sesi I, BBCA hingga BMRI Terkoreksi Di sektor energi terbarukan, TOBA telah mengoperasikan pembangkit listrik tenaga minihidro berkapasitas 6 megawatt (MW). Perusahaan juga menargetkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung berkapasitas 46 megawatt-peak (MWp) di Batam mulai beroperasi pada kuartal IV-2026. Meski sejumlah lini bisnis mulai menunjukkan perkembangan, Thoriq memperkirakan 2027 masih menjadi periode penting bagi TOBA untuk memperkuat profitabilitas. Pertumbuhan bisnis hijau perlu diimbangi peningkatan skala usaha, efisiensi biaya, serta pengelolaan beban pendanaan. "Apabila perkembangan tersebut berjalan sesuai harapan, peluang perusahaan untuk kembali membukukan laba bersih secara lebih konsisten mulai terbuka pada akhir 2027 hingga 2028," kata Thoriq. Alrich juga menilai prospek bisnis hijau TOBA dalam jangka panjang akan bergantung pada realisasi investasi dan peningkatan skala bisnis. Pertumbuhan pendapatan dari lini usaha baru perlu diikuti kemampuan menghasilkan arus kas yang lebih kuat.
Prospek Saham TOBA pada 2027
Memasuki 2027, sejumlah faktor berpotensi menjadi katalis bagi kinerja TOBA. Thoriq menyoroti pertumbuhan bisnis pengelolaan limbah, perkembangan ekosistem kendaraan listrik Electrum, serta tambahan pendapatan dari proyek energi terbarukan. Status TOBA sebagai emiten saham hijau transisi pertama di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga berpotensi menarik perhatian investor yang mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola atau environmental, social, and governance (ESG). Selain itu, keputusan Pefindo pada 7 Oktober 2026 yang mempertahankan peringkat kredit TOBA di level idA dengan prospek stabil menjadi salah satu indikator positif bagi profil kredit perusahaan. Meski demikian, investor tetap perlu memperhatikan sejumlah risiko, antara lain kebutuhan pendanaan ekspansi, beban bunga, potensi keterlambatan proyek, volatilitas nilai tukar, perubahan suku bunga, serta persaingan di industri kendaraan listrik. "Hal yang paling penting untuk dicermati sepanjang 2027 bukan hanya seberapa agresif TOBA melakukan ekspansi, tetapi juga sejauh mana ekspansi tersebut mampu memperbaiki laba bersih, memperkuat arus kas, dan secara bertahap menurunkan beban utang perusahaan," ujar Thoriq. Alrich menambahkan, katalis pemulihan saham TOBA mencakup perbaikan kinerja keuangan, penguatan arus kas, serta sentimen positif dari sektor energi. Namun, realisasi ekspansi dan pengendalian biaya pendanaan tetap menjadi faktor penting yang menentukan keberlanjutan pemulihan tersebut. Dengan demikian, perkembangan bisnis hijau TOBA perlu diikuti perbaikan kinerja keuangan yang konsisten agar dapat menjadi dasar pemulihan harga saham dalam jangka menengah hingga panjang.
Baca Juga: IHSG Turun 0,42% ke 5.911 di Sesi I Selasa (13/10), JPFA, GOTO, INKP Top Losers LQ45 Rekomendasi Saham TOBA
Untuk pergerakan saham dalam jangka pendek, Thoriq merekomendasikan strategi hold atau wait and see. Secara teknikal, harga saham TOBA masih berada di bawah indikator exponential moving average (EMA) 5, EMA 10, dan EMA 50, yang masing-masing berada di level Rp 451, Rp 463, dan Rp 500. Indikator moving average convergence divergence (MACD) juga masih berada di area negatif. Sementara itu, indikator stochastic telah memasuki area oversold, sehingga peluang pemulihan teknikal terbuka meskipun belum terdapat konfirmasi pembalikan tren. Thoriq memetakan area support saham TOBA di kisaran Rp 430 hingga Rp 418, sedangkan resistance terdekat berada di Rp 451 hingga Rp 463. Apabila mampu menembus area resistance tersebut dengan dukungan volume transaksi, saham TOBA berpeluang menguat menuju Rp 480 hingga Rp 500 per saham. Sebaliknya, jika harga menembus ke bawah Rp 418, tekanan jual berpotensi berlanjut menuju level psikologis Rp 400. "Investor sebaiknya menunggu konfirmasi pemulihan harga sebelum melakukan akumulasi, mengingat momentum penguatan saham TOBA saat ini masih relatif terbatas," kata Thoriq.
Adapun Alrich merekomendasikan strategi wait and see, dengan area support di Rp 420 dan resistance di kisaran Rp 460 hingga Rp 480 per saham. Menurut Alrich, saham TOBA berpeluang mengalami pemulihan menuju Rp 480 hingga Rp 500 apabila area support bertahan dan muncul konfirmasi pembalikan harga. "Target rebound awal berada di Rp 480 hingga Rp 500 apabila support bertahan dan muncul konfirmasi rebound. Namun, jika harga menembus ke bawah Rp 420, investor perlu mencermati risiko penurunan lanjutan," ujar Alrich. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News