Saham TOTL Melemah, Simak Prospek dan Rekomendasinya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) masih berada dalam tekanan. Berdasarkan data perdagangan Rabu (14/10/2026), saham TOTL melemah 2,64% dalam sebulan terakhir. Berdasarkan laporan kepemilikan saham perusahaan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Direksi TOTL Saleh Sendiko membeli sebanyak 430.000 saham perusahaan dengan harga transaksi Rp 1.470 per saham pada Kamis 8 Oktober 2026.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta melihat pergerakan saham TOTL perlu dicermati dari kombinasi faktor fundamental perusahaan, prospek industri konstruksi, serta sentimen pasar saham secara keseluruhan.

Menurut Nafan, pelemahan harga saham tidak selalu mencerminkan penurunan kinerja fundamental perusahaan. Namun, investor perlu memperhatikan keberlanjutan pertumbuhan pendapatan, perolehan kontrak baru, serta kemampuan perusahaan menjaga margin keuntungan di tengah persaingan industri yang semakin ketat.


Baca Juga: Setujui Buyback Saham Rp1 Triliun, Intip Profil Emiten BTPS dan Kinerja Terkini

Dengan mempertimbangkan sejumlah faktor tersebut, Nafan merekomendasikan ADD untuk saham TOTL dengan target harga Rp 1.560 per saham. 

Aksi pembelian 430.000 saham oleh Direksi TOTL pada harga Rp 1.470 per saham juga dapat menjadi sentimen positif bagi investor. Transaksi tersebut menunjukkan adanya minat dari jajaran manajemen terhadap saham perusahaan yang dipimpinnya.

Meski demikian, Nafan mengingatkan bahwa aksi beli tersebut tidak dapat dijadikan satu-satunya indikator bahwa harga saham telah mencapai titik terendah atau akan segera berbalik arah. Investor tetap perlu mencermati besaran transaksi dibandingkan kepemilikan saham sebelumnya, valuasi perusahaan, serta prospek pertumbuhan laba ke depan.

Dari sisi kinerja, TOTL masih berpeluang menjaga pertumbuhan hingga akhir 2026 apabila mampu mempertahankan perolehan kontrak baru, terutama dari proyek swasta di sektor gedung komersial, perkantoran, perhotelan, dan kawasan industri.

Namun, perusahaan tetap perlu mewaspadai sejumlah risiko, seperti kenaikan biaya material dan tenaga kerja, persaingan harga dalam tender, serta potensi keterlambatan pelaksanaan proyek.

Baca Juga: GMFI Segera Right Issue, Intip Kembali Profil Emiten Infrastruktur dan Kinerjanya

Karena itu, strategi yang perlu diperkuat TOTL antara lain selektivitas dalam memperoleh kontrak dengan margin yang sehat, efisiensi operasional, pengelolaan arus kas dan modal kerja, serta diversifikasi portofolio proyek.

Dengan demikian, prospek TOTL akan sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan menjaga kualitas kontrak dan profitabilitas, bukan sekadar mengejar pertumbuhan nilai kontrak baru.

Di sisi lain, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang menilai sentimen sektor konstruksi dari sisi eksternal masih dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi, suku bunga, dan selektivitas investasi properti. Secara teknikal, saham TOTL mengalami koreksi setelah sebelumnya menguat cukup signifikan.

Namun, fundamental perusahaan masih solid meski harga sahamnya mengalami tekanan. Pada semester I 2026, pendapatan TOTL tumbuh 22,75% menjadi Rp 2,05 triliun, sedangkan laba bersih meningkat 54,6% menjadi Rp 269,74 miliar. Dengan demikian, tekanan harga saham tidak secara langsung sejalan dengan kinerja fundamental perusahaan.

Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Tetap di Level Rp 2.574.000 per Gram, Rabu (14/10/2026)

Alrich menilai aksi pembelian saham dapat menjadi sinyal positif karena menunjukkan penambahan kepemilikan saham pribadi di tengah koreksi harga. Kepemilikan saham tersebut meningkat dari 5,37 juta saham menjadi 5,80 juta saham, atau sekitar 0,17%.

Meski demikian, aksi tersebut tidak menjamin kenaikan harga saham maupun membuktikan bahwa valuasi TOTL sudah murah. Investor tetap perlu mengonfirmasi prospek laba, perolehan kontrak baru, dan valuasi perusahaan. Menurutnya, harga transaksi direksi dapat menjadi referensi sentimen, tetapi bukan patokan nilai wajar saham.

Lebih lanjut, Alrich menilai prospek TOTL masih cukup positif. Hingga semester I 2026, perusahaan membukukan kontrak baru sebesar Rp 2,78 triliun, setara sekitar 71% dari target Rp 3,9 triliun. Dengan pendapatan semester I 2026 sebesar Rp 2,05 triliun, TOTL berpeluang mempertahankan pertumbuhan apabila pelaksanaan proyek berjalan sesuai jadwal.

Adapun katalis pertumbuhan TOTL berasal dari proyek data center, rumah sakit, hotel, dan gedung komersial. Untuk mendukung pertumbuhan tersebut, perusahaan perlu memperkuat selektivitas proyek, efisiensi biaya, serta pengelolaan arus kas dan risiko pembayaran agar pertumbuhan kontrak dapat dikonversi menjadi laba dan arus kas yang sehat.

Di sisi lain, risiko yang perlu diperhatikan meliputi keterlambatan proyek, kenaikan biaya konstruksi, serta perlambatan investasi swasta.

“Saat ini tren masih bullish. TOTL masih layak dipertimbangkan di support area Rp 1.450 dengan target Rp 1.650,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (9/10/2026). 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News