KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) dan PT Jasa Marga Tbk (JSMR) bakal dapat katalis tambahan dari rencana pengalihan saham kepemilikan BUMN di PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) kepada Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Asal tahu saja, pengalihan itu disebut sebagai bagian dari skema restrukturisasi pembiayaan proyek kereta cepat Whoosh. Porsi kepemilikan Indonesia saat ini ada di kisaran 60% pada PT KCIC, dengan 40% sisanya dimiliki konsorsium asal China.
Kepemilikan Indonesia di PT KCIC dipegang oleh PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), yang merupakan konsorsium beranggotakan PT Kereta Api Indonesia (KAI), WIKA, PT Jasa Marga Tbk (JSMR), dan PT Perkebunan Nusantara VIII. Di PSBI, WIKA mengempit saham 33,36% dan JSMR mengempit 7,08%. Per kuartal I 2026, WIKA menderita cost overrun Rp 5,02 triliun dan harus menderita rugi Rp 1,8 triliun per tahun dari KCIC. Corporate Secretary WIKA Ngatemin alias Emin memaparkan, perseroan menyambut baik dan menghormati rencana pengambilalihan saham WIKA di PSBI oleh Pemerintah.
Baca Juga: PT SMF Siap Lunasi Obligasi Jatuh Tempo Senilai Rp 153 Miliar pada November 2026 “Selanjutnya kami akan menunggu arahan dari Danantara selaku Pemegang Saham Mayoritas Perseroan maupun Kemenkeu selaku Pemangku Kebijakan tersebut,” katanya kepada Kontan, Jumat (7/8/2026). Dengan dilepasnya kepemilikan saham perseroan di PSBI, WIKA berpotensi untuk tidak lagi menanggung porsi rugi dari investasi tersebut dan menjaga bisnisnya tetap berkelanjutan. Selain itu, kata Emin, hal tersebut juga sejalan dengan arahan Pemegang Saham Mayoritas untuk kembali ke core business. “Selanjutnya perseroan akan berfokus menjalankan proses restrukturisasi secara menyeluruh guna memperkuat struktur keuangan, menjaga likuiditas, dan meningkatkan kinerja operasional,” ungkapnya. Per kuartal I 2026, WIKA mengantongi rugi per saham dasar Rp 28,52 di kuartal I 2026, naik dari rugi per saham dasar Rp 19,57 di periode sama tahun lalu. Pendapatan bersih WIKA tercatat Rp 2,6 triliun di kuartal I 2026. Ini turun 16,34% dari Rp 3,11 triliun di kuartal I 2025. Sementara, kepemilikan saham JSMR di PSBI sebesar 7,08% per kuartal I 2026. Pada kuartal I-2026, JSMR membukukan pendapatan Rp 5,1 triliun atau tumbuh 10,4% YoY. Namun laba bersih JSMR terkoreksi 16,5% YoY menjadi Rp 774,66 miliar di periode ini. Trias Andriyanto, Corporate Secretary & Chief Administration Jasa Marga mengatakan pihaknya menyambut baik langkah strategis Pemerintah dalam memperkuat tata kelola dan keberlanjutan KCIC melalui PT PSBI.
Baca Juga: Laba UNTR Anjlok 88%, Diversifikasi Bisnis dan Harga Emas Bisa Jadi Penyelamat “Sebagai pemegang saham minoritas sebesar 7,08% di PSBI, Perseroan selalu berkomitmen memenuhi kewajiban pemegang saham dengan tetap mengedepankan prinsip Good Corporate Governance (GCG) untuk memastikan kondisi keuangan serta kinerja Perseroan tetap solid dan sehat,” katanya kepada Kontan, Jumat. Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Elandry Pratama mengatakan, pengambilalihan KCIC oleh Kemenkeu menjadi sentimen positif bagi WIKA dan JSMR. Sebab, langkah itu berpotensi mengurangi beban dari proyek Whoosh yang selama ini menekan kinerja. Bagi WIKA, jika eksposur dan kerugian KCIC benar-benar dapat dilepas, ini bisa menjadi titik balik untuk memperbaiki bottom line dan arus kas. Namun, dampaknya tidak serta-merta membuat kinerja WIKA pulih karena perusahaan masih menghadapi leverage dan beban bunga yang tinggi. “Sementara bagi JSMR, dampaknya relatif lebih positif karena core business jalan tol masih memiliki recurring cash flow yang kuat,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (7/8/2026). Direktur PT Purwanto Asset Management Edwin Sebayang melihat, rencana pengambilalihan kepemilikan pemerintah di KCIC oleh Kementerian Keuangan pada dasarnya merupakan langkah restrukturisasi kepemilikan aset strategis nasional. Dari perspektif pasar modal, dampaknya akan jauh lebih besar bagi WIKA dibandingkan JSMR. Bagi WIKA, investasi di KCIC selama ini menjadi salah satu faktor yang membebani laporan keuangan. Perseroan tidak hanya menanggung kebutuhan pendanaan akibat cost overrun proyek, tetapi juga harus mengakui kerugian dari metode ekuitas. Sebab, KCIC masih berada dalam fase awal operasi dengan profitabilitas yang belum optimal. Jika kepemilikan tersebut benar-benar dialihkan kepada pemerintah, maka terdapat beberapa manfaat. Pertama, memastikan penghentian pengakuan rugi investasi (equity losses) yang selama ini menekan laba bersih. Kedua, mengurangi kebutuhan penyertaan modal lanjutan, sehingga tekanan terhadap arus kas berkurang.
Baca Juga: Status PSN Dicabut, Bangun Kosambi (CBDK) Pastikan Target Marketing Sales Terjaga Ketiga, memperbaiki leverage apabila transaksi dilakukan dengan skema pengambilalihan yang juga menyelesaikan kewajiban pendanaan yang terkait. “Keempat, memberikan ruang bagi WIKA untuk fokus pada bisnis EPC, konstruksi, dan proyek-proyek dengan margin yang lebih sehat,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (7/8/2026). Kerugian sekitar Rp1,8 triliun per tahun yang berasal dari KCIC secara teori juga dapat hilang dari laporan laba rugi apabila seluruh eksposur investasi benar-benar dilepas. “Namun demikian, besarnya dampak akhir tetap bergantung pada mekanisme transaksi, apakah dilakukan berdasarkan nilai buku, nilai pasar, atau terdapat kompensasi tertentu atas investasi sebelumnya,” tuturnya. Untuk JSMR, dampaknya relatif lebih kecil karena porsi kepemilikan hanya sekitar 7,08%, sedangkan sumber utama pendapatan JSMR tetap berasal dari bisnis jalan tol. Manfaat bagi JSMR dari langkah ini yaitu mengurangi eksposur terhadap aset yang belum menghasilkan return optimal, meningkatkan fokus pada bisnis inti jalan tol, serta mengurangi kebutuhan pendanaan tambahan apabila masih ada kebutuhan modal KCIC di masa depan. “Kontribusi negatif KCIC terhadap laba konsolidasi JSMR selama ini juga relatif terbatas. Secara nominal, pelepasan beban bagi JSMR jauh lebih kecil dibandingkan WIKA,” ungkapnya. Menurut Elandry, prospek kinerja JSMR hingga akhir tahun 2026 lebih menarik dibanding WIKA dari sisi fundamental. “Investor perlu mencermati detail mekanisme pengambilalihan, terutama apakah seluruh kewajiban dan potensi kerugian KCIC benar-benar berpindah serta bagaimana treatment akuntansinya,” katanya. Elandry pun merekomendasikan accumulate on weakness untuk saham JSMR dengan target harga di kisaran Rp 4.000 – Rp 4.200 per saham. Edwin mengingatkan, masalah WIKA bukan hanya KCIC. Perseroan masih menghadapi beberapa tantangan fundamental seperti restrukturisasi utang, beban bunga yang masih tinggi, kebutuhan modal kerja, selektivitas proyek pemerintah, dan margin konstruksi yang belum sepenuhnya pulih. “Pelepasan KCIC tidak otomatis mengubah WIKA menjadi perusahaan yang langsung kembali mencetak laba besar, tetapi dapat menjadi titik awal perbaikan,” paparnya. Ke depan, investor harus memperhatikan beberapa indikator dalam melihat kinerja WIKA, seperti keberhasilan restrukturisasi utang, penurunan debt to equity ratio, perbaikan operating cash flow, kemampuan memperoleh proyek baru yang profitable, dan margin konstruksi.
Baca Juga: Emas Naik ke US$ 4.317, Ini Level Target Support Pekan Depan Berikut Strateginya “Apabila seluruh faktor tersebut membaik secara bersamaan, maka laba bersih WIKA berpotensi pulih secara bertahap mulai 2027,” katanya. Sementara, prospek JSMR ke depan secara fundamental memang lebih stabil dibandingkan WIKA. Kinerja JSMR lebih dipengaruhi oleh pertumbuhan volume lalu lintas kendaraan, kenaikan tarif tol, akuisisi ruas baru, efisiensi biaya pendanaan, dan penurunan suku bunga. Dengan pelepasan eksposur KCIC, investor dapat lebih fokus pada bisnis inti JSMR yang memang memiliki karakteristik recurring income.
Apalagi jika Bank Indonesia memasuki siklus penurunan suku bunga, maka biaya bunga JSMR juga berpotensi turun sehingga laba bersih dapat meningkat. “Beberapa hal yang harus diperhatikan investor terkait hal ini yaitu mekanisme transaksi, nilai transaksi, apakah kewajiban pendanaan ikut dialihkan, penggunaan dana hasil transaksi, keberlanjutan proyek KCIC,” tuturnya. Edwin pun menyarankan investor mencermati saham JSMR dengan target harga Rp7.200–Rp7.600 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News