KONTAN.CO.ID - Australia akan memperbarui strategi mineral kritis dengan menitikberatkan pada pengembangan fasilitas pemrosesan dan pemurnian. Langkah ini ditempuh untuk meningkatkan nilai tambah industri sekaligus memperkuat posisi Australia dalam rantai pasok global yang selama ini didominasi China. Menteri Sumber Daya Australia Madeleine King mengatakan, strategi baru tersebut akan menjadi panduan bagi tahap pengembangan industri mineral kritis berikutnya.
Pemerintah ingin memastikan Australia dapat menangkap lebih banyak nilai ekonomi dan strategis dari sumber daya mineral yang dimiliki.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Turun ke US$ 4.013 Selasa (27/10), Dolar AS Menguat “Strategi ini memberikan penekanan lebih besar pada pemrosesan dan pemurnian mineral kritis, khususnya pada sektor yang sudah atau berpotensi menjadi keunggulan komparatif Australia,” kata King, Selasa (27/10/2026). Australia merupakan salah satu pemasok utama mineral kritis dunia, termasuk unsur tanah jarang atau rare earth yang dibutuhkan untuk industri pertahanan dan energi terbarukan. Namun, China masih mendominasi tahap pemurnian yang kompleks dan memiliki tantangan lingkungan tinggi. Negara-negara Barat kini berupaya memperluas kapasitas pengolahan mineral kritis dan mendiversifikasi sumber pasokan. Upaya tersebut dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap China, terutama bagi bahan baku yang penting bagi transisi energi dan keamanan nasional. King mengatakan, sejak strategi mineral kritis pertama Australia diluncurkan pada 2023, kondisi pasar menjadi lebih menantang.
Baca Juga: Daftar Pemenang Ballon d'Or Sejak Pertama Kali Diadakan Tahun 1956 Persaingan untuk menarik investasi semakin ketat, sementara kerentanan rantai pasok masih menjadi perhatian. Menurut dia, strategi terbaru akan mengarahkan industri pada sektor-sektor yang berpotensi menciptakan nilai jangka panjang terbesar. Pengembangan industri tersebut juga membutuhkan kerja sama dengan berbagai mitra, bukan hanya upaya Australia sendiri. Setahun sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menandatangani kesepakatan mineral kritis yang menyasar deposit dengan nilai sekitar US$ 53 miliar. Namun, rincian mengenai jenis mineral maupun lokasi deposit yang tercakup dalam kesepakatan tersebut belum diungkapkan.
Baca Juga: China Perketat Impor Sperma Sapi, Pemasok Global Berebut Peluang Bidik Pasar Eropa Selain memperkuat pengolahan di dalam negeri, Australia juga berupaya memperluas ekspor mineral kritis ke Eropa. Duta Besar Australia untuk Uni Eropa Angus Campbell mengatakan, strategi baru tersebut berpotensi membuka peluang perdagangan yang lebih besar, mengingat porsi pengiriman mineral kritis Australia ke Eropa saat ini masih relatif kecil. “Ada banyak potensi yang belum dimanfaatkan,” ujar Campbell dalam International Mining and Resources Conference di Sydney, Selasa (27/10). Australia juga tengah mengembangkan cadangan strategis mineral kritis yang direncanakan dapat dimanfaatkan oleh negara-negara mitra. Pada Januari, pemerintah Australia menyatakan akan memprioritaskan antimon, galium, dan unsur tanah jarang dalam pengembangan cadangan strategis senilai A$ 1,2 miliar atau sekitar US$ 842,16 juta.
Baca Juga: Taipan Tembaga China, He Jinbi, Dihukum Seumur Hidup karena Penipuan Campbell menjelaskan, cadangan strategis tersebut tidak semata-mata berupa penumpukan bijih mineral secara fisik. Skema yang dikembangkan lebih mengandalkan perjanjian pembelian hasil produksi (
offtake agreements), kontrak berjangka, serta penggabungan permintaan dan pasokan. Uni Eropa sendiri tengah menyiapkan cadangan bersama pertama untuk mineral kritis. Menurut tiga sumber yang mengetahui persoalan tersebut kepada Reuters pada Mei, blok tersebut telah memasukkan tungsten, unsur tanah jarang, dan galium dalam daftar pendek mineral yang dipertimbangkan. Utusan khusus Italia untuk bahan baku kritis Alberto Castronovo mengatakan, pihaknya menaruh perhatian besar terhadap rencana cadangan strategis mineral kritis Australia.
Baca Juga: Pemilu Israel Jadi Ujian Netanyahu, Perang Iran dan Gaza Bayangi Perebutan Kekuasaan Sementara itu, delegasi antarkementerian Prancis untuk pasokan mineral dan logam strategis, Benjamin Gallezot, menyatakan Paris ingin mempererat kerja sama dengan Australia di seluruh rantai pasok, mulai dari pertambangan hingga pemurnian. Menurut Gallezot, tungsten menjadi salah satu contoh mineral yang membutuhkan perhatian lebih besar pada tahap pemurnian, selain pengembangan tambang. Prancis juga memprioritaskan unsur tanah jarang dan bahan baku baterai, dengan mempertimbangkan potensi saling melengkapi antara kemampuan industri Australia dan Eropa.