Salim Group Akuisisi Perusahaan Data Center, Sinyal Prospek Cerah Industri Pusat Data



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Langkah Salim Group mengambil alih seluruh kepemilikan Keppel Data Centers dalam usaha patungan IndoKeppel Data Centres dianggap menunjukkan optimisme investor terhadap prospek industri data center atau pusat data.

Untuk diketahui, dengan aksi korporasi yang selesai pada Desember 2025 tersebut, perusahaan resmi berganti nama menjadi IndoData Data Center.

Direktur Eksekutif ICT Institute sekaligus Pengamat Teknologi Heru Sutadi mengatakan bahwa langkah ini menunjukkan adanya peningkatan kepercayaan investor terhadap masa depan industri data center di Indonesia.


Baca Juga: Robot AI Mobo Diproduksi Massal 2026, Bisa Ingatkan Minum Obat hingga Pantau Rumah

"Masuknya investasi besar, termasuk langkah Grup Salim mengambil alih penuh bisnis IndoData, menunjukkan semakin kuatnya keyakinan investor terhadap prospek sektor ini," jelasnya kepada Kontan, Jumat (4/9/2026).

Menurut Heru, data center saat ini tak hanya berperan sekadar sebagai fasilitas penyimpanan data, tetapi juga telah menjadi infrastruktur strategis bagi komputasi awan (cloud computing), artificial intelligence (AI), ekonomi digital, fintech, hingga layanan pemerintahan.

Pertumbuhan penggunaan AI di berbagai industri, lanjutnya, akan menjadi salah satu pendorong terbesar karena membutuhkan kapasitas komputasi dan penyimpanan yang jauh lebih besar.

Belum lagi, Indonesia juga dinilai memiliki pasar digital yang besar, kebutuhan data yang terus meningkat, serta ruang ekspansi yang masih luas.

Meskipun begitu, Heru tak memungkiri tantangannya adalah memastikan pertumbuhan kapasitas data center diikuti peningkatan kapasitas listrik, kapasitas transmisi jaringan, energi hijau yang memadai, keamanan siber, hingga air untuk pendinginan.

Ia mencontohkan, perkembangan AI membuat kebutuhan komputasi makin padat. Dus, teknologi liquid cooling dan desain data center yang siap akan pemanfaatan AI bakal makin diperlukan ke depan.

"Dari sisi energi, data center membutuhkan pasokan listrik 24 jam yang stabil, sekaligus makin dituntut untuk menggunakan energi rendah karbon atau terbarukan," imbuh Heru.

Itu sebabnya, ia mendorong industri data center masa depan harus semakin reliabel, aman, skalabel, sekaligus keberlanjutan dari sisi lingkungan.

Baca Juga: CELIOS: Pajak E-Commerce 0,5% Disebut Bukan Penentu Utama Penjualan UMKM

Karena itu juga, dia menilai kedaulatan digital nasional memang perlu diperkuat, tetapi bukan berarti Indonesia harus menutup diri dari investasi dan teknologi asing. Justru, Heru bilang industri Tanah Air harus mampu memanfaatkan investasi dari luar negeri untuk memperkuat kapasitas.

"Yang penting bukan berapa besar investasi yang masuk, tetapi seberapa besar kendali, nilai tambah, dan kemampuan strategis yang tinggal di Indonesia," pungkas Heru.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News