Sambut Gencatan Senjata AS vs Iran, Arab Saudi Minta Blokade Hormuz Dibuka Permanen
Rabu, 08 April 2026 16:36 WIB
Oleh: Syamsul Ashar | Editor: Syamsul Azhar
KONTAN.CO.ID - RIYADH. Pemerintah Kerajaan Arab Saudi secara resmi menyatakan dukungan penuh atas pengumuman mengejutkan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri Pakistan Mohammad Shahbaz Sharif terkait tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Republik Islam Iran. Dalam pernyataan resminya, Rabu (8/4) Kementerian Luar Negeri Kerajaan Arab Saudi memuji peran krusial yang dimainkan oleh Marsekal Asim Munir, Kepala Angkatan Pertahanan sekaligus Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan. Upaya diplomasi militer Pakistan dinilai menjadi kunci utama yang membuahkan hasil dalam meredam tensi tinggi kedua negara tersebut.
BREAKING NEWS! PRESIDEN SAMPAIKAN ARAHAN KEBIJAKAN DI RAPAT KERJA KABINET
Kerajaan menegaskan komitmennya untuk menyokong setiap upaya mediasi yang dipelopori oleh Republik Islam Pakistan. Riyadh berharap langkah ini menjadi fondasi bagi perdamaian langgeng yang mampu mewujudkan keamanan serta stabilitas kawasan, sekaligus mengakhiri berbagai kemelut yang telah memicu instabilitas selama berdekade-dekade. Namun, di balik dukungan tersebut, Kerajaan Arab Saudi memberikan catatan kritis. Riyadh menekankan urgensi menjaga Selat Hormuz agar tetap terbuka bagi navigasi internasional. Baca Juga: Israel Dukung Jeda Serangan AS ke Iran, Gencatan Senjata Tak Berlaku di Lebanon Kerajaan mendesak semua pihak mematuhi Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS) tahun 1982 tanpa pengecualian atau batasan apa pun. Pemerintah Saudi berharap momentum gencatan senjata ini menjadi pintu masuk bagi de-eskalasi komprehensif dan berkelanjutan. Langkah ini diharapkan mampu menghentikan segala bentuk agresi atau kebijakan yang mengancam kedaulatan serta stabilitas negara-negara di kawasan Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengambil langkah mengejutkan dengan mengumumkan penangguhan operasi militer terhadap Republik Islam Iran. Langkah ini diambil menyusul komunikasi intensif antara Presiden Donald Trump dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Jenderal Asim Munir dari Pakistan. Dalam pernyataan resminya, Trump menegaskan bahwa AS setuju untuk menghentikan aksi pengeboman dan serangan terhadap Iran selama periode dua minggu. Baca Juga: Harga Minyak WTI Anjlok 4% di Tengah Sinyal Gencatan Senjata AS dan Iran Namun, moratorium militer ini bukan tanpa syarat. Washington menuntut Iran untuk segera menyepakati pembukaan Selat Hormuz secara total, permanen, dan aman bagi lalu lintas internasional. "Ini akan menjadi gencatan senjata dua sisi (double-sided ceasefire). Alasan kami melakukannya adalah karena militer AS telah mencapai, bahkan melampaui seluruh target operasionalnya," tegas Trump, Rabu (8/4). Trump mengklaim bahwa saat ini proses menuju kesepakatan perdamaian jangka panjang di Timur Tengah sudah menunjukkan kemajuan signifikan. Pemerintah AS mengaku telah menerima proposal poin per poin dari Teheran yang dinilai sebagai basis kerja yang masuk akal untuk dinegosiasikan. Hampir seluruh poin perselisihan masa lalu antara Washington dan Teheran diklaim telah mencapai titik temu. Periode dua minggu ini akan dimanfaatkan kedua belah pihak untuk memfinalisasi dan meratifikasi perjanjian tersebut secara tuntas. Tonton: BREAKING: Trump Umumkan Gencatan Senjata 2 Pekan! Iran Sebut AS Mundur? "Atas nama Amerika Serikat, dan mewakili negara-negara di Timur Tengah, merupakan suatu kehormatan bagi saya melihat masalah menahun ini mendekati resolusi akhir," pungkas Trump dalam pernyataan tertulis yang diunggah di akun Instagram Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio 8 April 2026. Kesepakatan ini tercapai di tengah ancaman eskalasi besar, sekaligus menjadi titik balik penting untuk meredakan konflik yang sempat mengganggu stabilitas kawasan Timur Tengah dan jalur perdagangan energi dunia. Dalam perjanjian tersebut, kedua belah pihak sepakat untuk menghentikan serangan militer langsung dan menahan operasi besar selama masa gencatan senjata berlangsung. Namun, kesepakatan ini bersifat sementara dan belum mencerminkan perdamaian permanen. Salah satu poin krusial adalah keputusan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak global.
Baca Juga: Inilah Saham yang Diprediksi Cuan Karena Perang AS vs Iran Sebelumnya, gangguan di jalur ini sempat memicu kekhawatiran pasar dan lonjakan risiko ekonomi global. Selain itu, gencatan senjata ini juga dimaksudkan sebagai jembatan menuju negosiasi lanjutan. Kedua negara dijadwalkan melanjutkan pembicaraan guna membahas isu yang lebih luas, termasuk stabilitas kawasan dan keamanan jalur energi. Meski demikian, baik Washington maupun Teheran sama-sama menegaskan bahwa kesepakatan ini bukan akhir dari konflik. Risiko eskalasi tetap terbuka jika proses diplomasi tidak mencapai titik temu.