Sambut Konsep Universal Banking, Krom Bank Ungkap 3 Hal yang Perlu Disiapkan



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pengembangan konsep universal banking di Indonesia dinilai tidak cukup hanya dengan memperluas layanan keuangan. Kesiapan teknologi, integrasi sistem, dan ketahanan keamanan siber menjadi faktor penting agar konsep yang didorong Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tersebut dapat berjalan secara optimal.

Presiden Direktur Krom Bank Indonesia Anton Hermawan mengatakan, Indonesia sebenarnya telah memiliki fondasi digital yang cukup kuat, mulai dari sistem pembayaran yang semakin terintegrasi, adopsi cloud yang meningkat, hingga regulasi yang semakin mendukung inovasi digital.

Namun, tantangannya kini bukan lagi sekadar membangun infrastruktur baru. "Untuk mewujudkan universal banking, menurut saya tantangannya bukan lagi sekadar membangun lebih banyak infrastruktur, melainkan memastikan seluruh ekosistem dapat bekerja bersama secara aman dan konsisten," ujar Anton kepada Kontan, dikutip Kamis (13/8/2026).


Baca Juga: Industri Penjaminan Waspadai Sejumlah Faktor yang Bisa Tekan Rasio Klaim

Menurut Anton, setidaknya terdapat tiga aspek yang perlu menjadi perhatian industri perbankan dalam mempersiapkan ekosistem digital untuk mendukung universal banking.

Pertama, interoperabilitas. Anton bilang universal banking membutuhkan integrasi yang mulus antara sistem pembayaran, data, identitas digital, hingga layanan pihak ketiga.

Untuk itu, diperlukan standar API, kualitas data, serta tata kelola yang konsisten agar berbagai layanan keuangan dapat saling terhubung tanpa mengorbankan keamanan maupun keandalan layanan.

Kedua, modernisasi infrastruktur inti. Menurut Anton, masih banyak sistem legacy yang dapat membatasi ruang bagi industri perbankan untuk melakukan inovasi, meningkatkan skala bisnis, maupun menyediakan layanan secara real-time.

Karena itu, transformasi menuju arsitektur cloud-native dan API-first menjadi semakin penting untuk mendukung kebutuhan universal banking.

Ketiga, penguatan keamanan siber. Semakin terbuka dan terhubung ekosistem digital, semakin besar pula attack surface yang harus dikelola oleh industri perbankan.

Anton menilai keamanan siber tak cukup cuman ditempatkan sebagai bagian dari pemenuhan kepatuhan. Perbankan perlu memiliki kemampuan cyber resilience yang mencakup deteksi dini, respons cepat, hingga pemulihan yang telah teruji.

Baca Juga: Amar Bank Sambut Konsep Universal Banking, Siap Perluas Produk

"Keamanan perlu menjadi kemampuan inti," katanya.

Lebih jauh, Anton menilai seluruh kesiapan tersebut pada akhirnya bermuara pada satu faktor, yakni kepercayaan atau trust nasabah.

Menurutnya, keberhasilan universal banking tak ditentukan semata-mata oleh seberapa banyak layanan keuangan yang berhasil dihubungkan. Faktor yang tak kalah penting adalah kemampuan industri memastikan data nasabah tetap aman, transaksi berjalan andal, dan layanan tersedia ketika dibutuhkan.

Krom Bank sendiri terbuka pada berbagai opsi strategis yang dapat menciptakan nilai tambah bagi nasabah dan pemegang saham. Potensi aksi korporasi maupun pengembangan lini bisnis baru bakal dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan arah regulasi, kebutuhan pasar, kesiapan organisasi, serta prinsip kehati-hatian.

“Ke depan, Krom Bank akan menjaga daya saing dengan memperkuat fondasi digital yang mendukung inovasi sekaligus ketahanan operasional,” tukas Anton.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News