Sambut tahun 2021, simak sejumlah faktor yang perlu dicermati investor



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tahun 2020 akan segera berakhir dalam waktu dekat. Para investor harus segera menyiapkan portofolio investasinya untuk tahun depan. Infovesta Utama dalam laporan mingguannya telah memberikan beberapa faktor yang perlu diperhatikan investor menyambut 2021.

Dalam laporan yang rilis pada pekan ini, Infovesta Utama menyebutkan salah satu faktor yang akan mendukung proses pemulihan ekonomi dan kinerja pasar modal tahun depan adalah besarnya likuiditas dari bank sentral Indonesia maupun global.

Salah satu kebijakan moneter ekspansif adalah pemangkasan tingkat suku bunga acuan ke level terendahnya di 3,75% dan dipertahankan tetap di level tersebut pada Rapat Dewan Gubernur pada 17 Desember silam. Hal tersebut bisa menjadi insentif bagi masyarakat karena kredit konsumtif yang rendah sehingga mendorong masyarakat untuk lebih sering berbelanja. 


Di sisi lain, tingkat suku bunga rendah juga mendukung perusahaan melakukan ekspansi yang sempat terhambat di tahun 2020 dengan cost of fund yang lebih murah. Hal ini tercermin dari ekspektasi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2021 yang tumbuh sebesar 6,1% dari -1,5% di akhir tahun 2020.

Baca Juga: IHSG masih moncer, kinerja reksadana saham kembali meroket

“Insentif lain yang disediakan adalah adanya kebijakan pemerintah seperti restrukturisasi kredit yang diperpanjang hingga 2022, serta Omnibus Law yang mendorong investor asing untuk berinvestasi di Indonesia melalui Sovereign Wealth Fund (SWF),” jelas Infovesta Utama dalam laporannya.

Selain faktor pendukung, terdapat juga faktor penghambat yang dapat diperhatikan investor, yakni soal perkembangan vaksin di Indonesia. Apakah efektivitasnya terbukti, tersedia atau tidaknya kemudahan distribusi, serta efek samping dari penggunaan vaksin itu sendiri. 

Selain itu, terdapat sentimen global seperti perang dagang Amerika-China dan situasi geopolitik di dunia, serta Brexit yang masih belum juga mencapai perjanjian dagangnya. 

Dari Indonesia sendiri investor perlu memperhatikan pemulihan ekonomi yang mungkin sedikit terhambat karena prediksi akan rendahnya kenaikan gaji di tahun 2021 serta tingkat pengangguran di Indonesia yang meningkat pesat selama 2020 (2,66 juta - 9,77 juta) sehingga menyebabkan penurunan daya beli masyarakat.

Melihat ekspektasi pemulihan ekonomi tahun 2021, maka reksadana berbasis saham menjadi pilihan yang menarik. Hal ini dikarenakan, pasar modal Amerika (DJIA) dan Shanghai sudah mencatatkan kinerja positif masing-masing sebesar 6,03% dan 11.67% secara year to date. Sedangkan, pasar modal Indonesia masih tercatat negatif, sehingga peluangnya masih besar.

Selanjutnya: Sejumlah instrumen ini bisa jadi alternatif investasi dana darurat

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi