Samir Catat Rata-rata Pinjaman Rp 3 Juta per Transaksi hingga Oktober 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Sahabat Mikro Fintek (Samir) mencatat rata-rata nilai pembiayaan atau ticket size sebesar Rp 3 juta per transaksi hingga Oktober 2026.

Di tengah tekanan daya beli masyarakat, perusahaan menilai nilai pengajuan pinjaman dari borrower, termasuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), belum menunjukkan tren penurunan.

Direktur Utama Samir Handy Juniandri mengatakan, pengajuan pinjaman saat ini cenderung disesuaikan dengan kebutuhan riil yang mendesak serta kemampuan bayar peminjam, bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan konsumtif.


Baca Juga: Saham Big Banks Anjlok hingga 52%, Simak Mana yang Valuasinya Murah dan Layak Beli

Di segmen UMKM, Handy menyebut pengajuan pembiayaan lebih banyak diarahkan untuk memenuhi kebutuhan modal kerja mikro jangka pendek.

Kondisi tersebut juga mencerminkan kehati-hatian pelaku usaha dalam mengelola persediaan barang atau stok.

Untuk menjaga kualitas pembiayaan, Samir memperketat penilaian risiko atau credit scoring dengan memanfaatkan data alternatif.

Langkah ini dilakukan agar plafon pinjaman yang disetujui sesuai dengan kemampuan riil borrower sehingga risiko gagal bayar dapat diantisipasi sejak awal.

Handy menjelaskan, besaran ticket size ditentukan melalui penilaian rasio beban utang terhadap penghasilan atau omzet usaha.

Selain itu, perusahaan memanfaatkan teknologi machine learning, data alternatif, verifikasi data kependudukan, serta integrasi riwayat kredit dalam proses penilaian.

Baca Juga: JTrust Bank Siapkan Ex Bankir BNI Jadi Dirut Baru, Simak Profilnya

Samir juga membedakan profil risiko peminjam berdasarkan tujuan pembiayaan, baik untuk kebutuhan produktif maupun kebutuhan personal yang bersifat darurat.

Sementara itu, peminjam dengan rekam jejak pembayaran tepat waktu berpeluang memperoleh penyesuaian limit secara bertahap dan lebih fleksibel.

Dari sisi pendanaan, Handy menilai tekanan daya beli membuat lender institusi semakin selektif dalam menyalurkan dana kepada platform pinjaman daring (pindar).

Lender kini lebih memprioritaskan platform dengan tata kelola manajemen risiko yang kuat dan kepatuhan terhadap regulasi.

“Kebutuhan likuiditas pendanaan tetap tinggi, tetapi fokus bergeser ke kualitas aset dan ketahanan rasio TWP90,” ungkap Handy kepada Kontan.co.id, Rabu (4/11/2026).

Saat ini, Samir memiliki 12 lender institusi. Tiga di antaranya berasal dari sektor perbankan, yakni PT Bank Neo Commerce Tbk, PT Super Bank Indonesia Tbk, dan PT Bank Sahabat Sampoerna.

Baca Juga: Suku Bunga Tinggi, Ini Strategi Bank Genjot Pendapatan Bunga

Ke depan, Handy mengatakan Samir akan memperluas kerja sama dengan perbankan nasional melalui skema channeling serta menggandeng institusi keuangan lain yang memiliki basis likuiditas stabil dan biaya dana atau cost of fund kompetitif.

Selain memperluas sumber pendanaan, perusahaan juga akan meningkatkan edukasi kepada masyarakat dan pelaku UMKM agar memanfaatkan pinjaman secara bijak dan produktif sesuai kemampuan bayar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News